Keputusan Fung Lin

“Fung Lin, bagaimana kabarmu?” tanya saya melalui telepon.

“Aku sudah membaik sekarang.”

“Syukurlah. Bagaimana Rafi? Dia masih menghubungimu?”

“Iya dong. Dia janji akan mengajakku keluar minggu depan.”

“Janji? Kamu percaya dengan janji Rafi? Dia kan politikus. Janji-janjinya nggak bisa dipercaya.”

“Aku percaya dia kok,” tukas Fung Lin tanpa ragu.

“Ih, kok bisa sih?”

“Bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa aku lakukan. Lagipula kamu tahu sendiri, aku sangat menginginkan Rafi dan ciuman di bawah hujan. Aku dan Rafi belum pernah melakukannya. Minggu depan itu, kalau kebetulan hujan turun, aku dan Rafi akan melakukannya.”

“Lho, bukankah Rafi sudah menciummu di bawah hujan?”

“Memang benar. Tapi itu pada saat aku dalam keadaan tidak sadar. Aku ingin benar-benar menikmatinya. Karena Rafi sibuk, aku harus menunggunya. Semoga musim hujan belum berakhir.”

Saya begitu kasihan sekaligus kesal pada Fung Lin. Sudah pacaran dengan politikus, minta ciuman di bawah hujan pula. “Lin, sebagai teman, aku hanya mengingatkan, janji Rafi belum tentu bisa dipercaya. Dan ciuman di bawah hujan tidak baik bagi kesehatan. Apalagi kalau kamu tidak pakai jas hujan dan payung. Kamu bisa sakit flu, batuk atau demam. Sudahlah, lupakan impianmu untuk berciuman di bawah hujan.”

Jeda di seberang. Fung Lin mungkin kesal mendengar nasehat saya. “Aku tahu. Tapi aku sudah memutuskan. Setelah mengumpankan hamster-hamsterku ke harimau, aku harus menentukan langkahku sendiri. Begitu juga Rafi. Dia memutuskan untuk tidak lagi membelok-belokkan hubungan kami. Lihat sendiri kan, kami sekarang resmi pacaran.”

Saya tidak tahan untuk protes. “Aaah… gila kamu! Memangnya tidak ada laki-laki lain selain Rafi? Yang bukan politikus gitu.”

“Jangan gitu dong. Kamu harus terima keputusanku. Selepas dari buku, hidupku bebas. Aku tahu apa yang aku inginkan. Aku menginginkan Rafi. Begitu juga sebaliknya. Hanya karena tidak punya banyak waktu maka Rafi kelihatannya tidak peduli padaku. Padahal sebetulnya tidak demikian.”

“Lin, please dong, tinggalkan Rafi. Aku nggak yakin kalian bisa langgeng.”

“Nggak, sayang. Aku tidak akan meninggalkan Rafi. Aku sangat menyayangi Rafi. Biarkan aku memilih jalanku sendiri. Pembaca boleh meneruskan sendiri akhir cerita itu. Tokoh-tokohnya pun bebas menentukan nasibnya.”

Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Fung Lin benar. Memang itulah tujuan Lan Fang tidak menyelesaikan novelnya. Pembaca dipersilakan untuk menyelesaikan sendiri cerita novel. Jika mereka merasa ceritanya tidak selesai.

Saya pun membiarkan Fung Lin menjalani kehidupannya. Apa pun yang dia lakukan, dia sudah bisa bertanggung jawab. Dan apa pun yang saya inginkan, hendaknya tidak merusak kehidupan pihak lain.
Sebuah cerita bisa mendewasakan banyak pihak.

“Baiklah, Fung Lin. Apa pun keputusanmu, aku dukung.”

“Makasih.”

Sambungan berakhir.

***

Fung Lin adalah tokoh utama novel Ciuman di Bawah Hujan karya Lan Fang. Karena ending cerita ini menggantung, jadi saya buat karangan tentang nasib Fung Lin, hehehe.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.