Hai, Hujan!

Hai, Hujan!

Mataku seketika merekah saat petrikor berbisik bahwa kau datang.
Secepat rinaimu meninggalkan awan,
aku pun bergegas meninggalkan ranjang.
Hanya untuk melihatmu mengantar basah menembus tanah.
Seperti jarum yang mengantar benang menembus kain yang membentang.

Matahari belum juga melipat kelam.
Sementara bulan teronggok pasrah dalam remang.
Cahayanya tak lagi menyentuh pekarangan.

Aku tahu, kau tak sanggup lagi menahan rindu pada kebunku.
Pada daun-daun yang risau akan layu,
pada bunga-bunga yang tak sabar memberi warna dan wangi tubuh mereka untukmu.
Percikmu adalah kelakar yang mereka tunggu
setelah tanah yang mereka diami diempas tandus.

Ah, apalah artinya kebun tanpamu?
Ada kehidupan yang kau antar dalam setiap tetesmu.
Ditampung oleh bunga-bunga yang mekar,
yang kemudian mereka teruskan kepada akar.

Semoga tak ada luka dalam setiap rintik yang kaujatuhkan.
Sebab jika ada, maka perihmu akan menjadi lara bagi semua insan.

Selamat datang kembali di bumi.
Selamat menari bersama angin.
Dan selamat bernyanyi kembali di atas genting.

Posted in poem | Leave a comment

Memotret Hujan (2)

Aku tak pernah menyerah memotret hujan. Selalu kucari cara untuk bisa memiliki fotonya yang estetis. Kemarau panjang kadang menghantam tanpa ampun. Banyak bunga yang mati karena layu.

Aku tak mau mati karena merindu. Tekadku sudah bulat. Sebelum musim hujan berakhir, aku harus sudah memiliki potretnya.

Aku harus memotret hujan!

Continue reading

Posted in fiction | Leave a comment

Sepatu Converse dan Kenangan Menabung

Gegara lihat gambar sepatu Converse Chuck Taylor, saya jadi ingat kalau dulu pernah punya sepatu ini.

Ceritanya, waktu kuliah saya tergolong tomboy. Males pakai baju cewek. Waktu itu saya memang lagi suka dan terpengaruh gaya Avril Lavigne dan Michelle Branch. Karena gayanya Avril terlalu “unik”, saya cuma bisa niru gaya Michelle Branch yang lebih simpel.

Dari situ, jadi kepengin, deh, punya sepatu Converse. Buat saya, sepatu itu harus banget. Pernah punya sandal gunung. Enak, sih, dipakainya. Tapi saya lebih suka sepatu. Apalagi kadang-kadang saya ikut kuliah yang dosennya mewajibkan para mahasiswanya pakai sepatu. Dan rata-rata harga sepatu saya yang enak dipakai itu lebih dari 100 ribu.

Ketika papap saya masih ada, mau apa-apa tinggal minta, langsung dibeliin. Setelah papap meninggal, mau beli apa-apa harus mikir dulu.

Harga sepatu Converse saat itu yang saya tahu adalah 150 ribu. Saya tidak tahu itu sepatu Converse asli atau bukan. Tidak tahu juga cara mengeceknya bagaimana. Bodo amat! Yang penting saya punya.

Maka, dengan semangat ’45, saya menabung. Kalau dikasih uang jajan sama kakak atau ada sisa uang saku dari mama, saya masukkan celengan. Serius, sampai selesai kuliah saya punya celengan hadiah ulang tahun ke tujuh atau delapan.

Saya lupa, berapa lama saya menabung. Ketika sudah terkumpul 150 ribu dan kebetulan ada acara jalan-jalan sama keluarga ke Bandung, saya beli, deh, si Chuck Taylor. Senang rasanya hati!

Sebetulnya kalau memang butuh, mama saya tidak keberatan membelikan saya sepatu. Dan prinsip beliau adalah beli yang bagus sekalian biar berkualitas, biar nggak sering-sering beli.

Namun saya memilih pakai jalur menabung daripada meminta. Setelah papap tiada, kami sempat kesulitan keuangan. Saya sempat kepikiran untuk bekerja, tapi tidak diizinkan. Menurut keluarga saya, lebih baik saya kuliah yang bener, sampai selesai.

Saya tetap merasa tidak enak karena belum bisa mandiri. Sebagai wujud sikap tahu diri, saya atur uang saku supaya cukup. Bahkan untuk keperluan kuliah seperti buku atau fotokopi yang sebetulnya bisa minta ke mama, saya ambil dari tabungan atau celengan.

Dan membeli sesuatu yang kita inginkan dengan pakai uang tabungan, rasanya puas banget. Karena dengan cara seperti itu, kita bisa menahan nafsu dan punya target yang jelas. Nggak pake ngutang. Apalagi kalau barang yang kita inginkan nyaman dipakainya.

Posted in thoughts | Tagged | Leave a comment

Sandal Jepit

Suka memakai sandal jepit?

Sebagai informasi, saya juga suka memakai sandal jepit. Terutama di rumah. Bahkan, kalau jalan-jalan pun maunya pakai sandal jepit. Meski kadang suka khawatir, bagaimana kalau talinya mendadak putus di jalan? Solusinya, terpaksa beli sandal jepit lagi, sih, hehe.

Continue reading
Posted in thoughts | Tagged | Leave a comment

Bahagianya Hidup Minimalis

“Seni Hidup Minimalis”
Pengarang: Francine Jay
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2018)
Tebal: 260 hlm

Satu lagi buku tentang hidup minimalis yang saya baca. Terbitnya sudah lama, tapi baru saya baca sekarang, hehe. Seni Hidup Minimalis. Buku ini memuat cara memulai hidup minimalis. Cocok bagi mereka yang baru mengenal apa itu hidup minimalis dan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menjadi seorang minimalis.

Continue reading
Posted in review | Tagged | Leave a comment