Cita-cita

Aku ingin menjadi pohon yang berakar kuat
‘Kan kuserap air hujan yang meresap ke dalam tanah
Dan kubiarkan air itu mengalir ke sekujur batang sampai puncak,
sampai pucuk,
hingga aku bisa bertahan saat musim kemarau tiba

Aku ingin menjadi pohon yang berdaun lebat
‘Kan kunaungi mereka yang berteduh dan bersandar di batangku
‘Kan kuhembuskan oksigen biar mereka tetap hidup
‘Kan kuulurkan dahanku agar burung-burung bersarang
‘Kan kubiarkan kupu-kupu berdatangan
dan membuahi kuntum-kuntum bunga yang bermekaran
sampai jadi buah
‘Kan kusimpan air hujan di sela-sela daun
biar jadi embun yang menetes dan membangunkan manusia
dari lelap mimpi

(2007)

Posted in poem | Leave a comment

Bocah Hujan

Tak seperti bocah kebanyakan,
hujan adalah anak yang mandiri.
Setelah dilahirkan awan,
ia tidak menangis ataupun minta menyusu.
Tidak pula seperti burung
yang harus belajar terbang dan diberi makan.

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Produk Akulturasi

Tahun ini, tepatnya bulan kemarin, genap 12 tahun saya tinggal di Surabaya. Biasanya kalau pulang kampung ke Cicalengka, ada yang bertanya, “betah, nggak, di sana?” Saya tidak bisa jawab “ya” atau “tidak”. Karena, di mana pun saya tinggal, ada plus dan minus yang saya rasakan karena perbedaan kultur. Apalagi Bandung dan Surabaya jauh berbeda. Satu daerah dingin, satunya daerah panas. Satu berbudaya Sunda, satunya berbudaya Jawa.

Ngomong-ngomong soal budaya, saya jadi ingin berbicara soal suku. Tidak ada maksud menjelek-jelekkan suku tertentu, sih. Saya hanya ingin berbicara tentang kehidupan saya sebagai sebuah produk akulturasi. 

Continue reading

Posted in thoughts | Tagged , | Leave a comment

Hai, Hujan!

Hai, Hujan!

Mataku seketika merekah saat petrikor berbisik bahwa kau datang.
Secepat rinaimu meninggalkan awan,
aku pun bergegas meninggalkan ranjang.
Hanya untuk melihatmu mengantar basah menembus tanah.
Seperti jarum yang mengantar benang menembus kain yang membentang.

Matahari belum juga melipat kelam.
Sementara bulan teronggok pasrah dalam remang.
Cahayanya tak lagi menyentuh pekarangan.

Aku tahu, kau tak sanggup lagi menahan rindu pada kebunku.
Pada daun-daun yang risau akan layu,
pada bunga-bunga yang tak sabar memberi warna dan wangi tubuh mereka untukmu.
Percikmu adalah kelakar yang mereka tunggu
setelah tanah yang mereka diami diempas tandus.

Ah, apalah artinya kebun tanpamu?
Ada kehidupan yang kau antar dalam setiap tetesmu.
Ditampung oleh bunga-bunga yang mekar,
yang kemudian mereka teruskan kepada akar.

Semoga tak ada luka dalam setiap rintik yang kaujatuhkan.
Sebab jika ada, maka perihmu akan menjadi lara bagi semua insan.

Selamat datang kembali di bumi.
Selamat menari bersama angin.
Dan selamat bernyanyi kembali di atas genting.

Posted in poem | Leave a comment

Memotret Hujan (2)

Aku tak pernah menyerah memotret hujan. Selalu kucari cara untuk bisa memiliki fotonya yang estetis. Kemarau panjang kadang menghantam tanpa ampun. Banyak bunga yang mati karena layu.

Aku tak mau mati karena merindu. Tekadku sudah bulat. Sebelum musim hujan berakhir, aku harus sudah memiliki potretnya.

Aku harus memotret hujan!

Continue reading

Posted in fiction | Leave a comment