Membeli Baju

Dia masuk mal ini dengan maksud membeli baju
Baju-bajunya di rumah sudah lusuh
Tahun baru, waktunya membeli baju baru

Didatanginya toko demi toko pakaian
Mencari baju yang bagus dan pantas dia kenakan
Bukan cuma buat di rumah, tapi juga buat jalan-jalan

Beragam model, warna dan harga ditawarkan
Tapi dia malah kebingungan
Keliling-keliling mal, masuk-keluar toko tanpa hasil yang memuaskan

Baju yang ukurannya pas di tubuhnya, banyak
Baju yang harganya ramah di dompet, banyak
Baju dengan model kekinian dengan bahan yang nyaman, juga banyak

Tapi tak ada satu pun baju yang menarik hatinya
Sementara orang-orang nyaman-nyaman saja dengan baju yang mereka sandang
Tak ada yang mengeluh kepanasan, kesempitan, kebesaran, atau ketinggalan zaman
Baju yang mereka kenakan tampak sangat pas membalut tubuh mereka

Dia pun memutuskan untuk meninggalkan mal tanpa membeli sehelai pun pakaian
Dia memutuskan untuk memakai baju-bajunya yang ada di rumah
Baju-baju yang sudah belel dan usang, yang sebentar lagi akan mengakhiri hidupnya dengan menjadi pel-pelan

Posted in poem | Leave a comment

Kepada Mendung

Awan mendung,
Terima kasih tidak menurunkan hujan
Kugantung kembali payung bututku
Kulipat lagi jas hujan lusuhku
Kujemur lagi pakaianku yang belum kering

Di bawah matahari, kumenyanyi sendiri
Di bawah cahaya bulan, kurengkuh kesunyian

Di celah tanah kering,
kudapati tunas menyelinap ke permukaan
Barangkali dulu ada biji rambutan jatuh ke dalam tanah
dan mereguk tetes hujan terakhir

Tak semua puspa mekar karena lembap
Tak semua ceruk harus jadi genangan
Ilalang masih akan merumpun
Mawar masih akan mewangi dan rimbun

Terima kasih sudah mengunjungi kebunku
Memberi harapan pada rumput-rumput agar terus tumbuh
Menghalau terik yang membuat kembang sepatuku layu

Aku akan merindukan gelegar petir yang biasa memanggilku
Aku akan merindukan kelabu yang biasa menggelayut di kepalaku

Aku akan mengingatmu
Selalu

Posted in poem | Leave a comment

Hujan Turun sejak Subuh

Hujan turun sejak subuh
Matahari ngamuk-ngamuk
cahayanya terhalang awan mendung
Tapi ia takut petir
Pijarnya lebih cepat dan dahsyat

Matahari turun dari singgasana
Mahkotanya ia serahkan pada hujan
Hujan menampik
Ia tak suka pakai mahkota
Diberikannya mahkota itu pada ilalang
Calon raja di bumi

Puisi ini semula merupakan cerpen, lalu digabung dengan cerpen-cerpen lain karya beberapa penulis menjadi sebuah novelet Mawar Merah Darah. Bisa diunduh di sini.

Posted in poem | Leave a comment

Salah Sangka

Ibuku pakai daster seharian
Tak sempat mandi apalagi dandan
Sepagian sibuk bikin makanan
Biar tak ada perut yang kelaparan

Ibuku kerjanya lari-lari seharian
Dari panci ke cucian
Dari cucian ke jemuran
Dari jemuran ke halaman
Daun-daun mangga berguguran dan berserakan
Ibuku menyapunya jadi timbunan
Keringatnya bercucuran
Rambutnya berantakan
Penampilannya tak karuan

Lalu datang sales menawarkan dagangan
Pada ibuku, dia bertanya,
“ibu ada?”

Posted in poem | Leave a comment

Hujan Kala Senja

Hujan turun kala senja
Membenamkan matahari ke cakrawala
Biar langit tak terpanggang lama-lama

Hujan turun kala senja
Merenggut purnama dari cahaya
Biar binasa segala puja

Hujan mendamba malam
Merindu senyap dalam kelam
Ketika cuma ia yang bersuara
Menang segala kuasa

Dan bintang-bintang disuruh memejam
Tak boleh jadi saksi hujan menghunjam
Bumi takdirnya cuma menerima
dan menumbuhkan benih yang tercurah

Posted in poem | Leave a comment