Salah Sangka

Ibuku pakai daster seharian
Tak sempat mandi apalagi dandan
Sepagian sibuk bikin makanan
Biar tak ada perut yang kelaparan

Ibuku kerjanya lari-lari seharian
Dari panci ke cucian
Dari cucian ke jemuran
Dari jemuran ke halaman
Daun-daun mangga berguguran dan berserakan
Ibuku menyapunya jadi timbunan
Keringatnya bercucuran
Rambutnya berantakan
Penampilannya tak karuan

Lalu datang sales menawarkan dagangan
Pada ibuku, dia bertanya,
“ibu ada?”

Posted in poem | Leave a comment

Hujan Kala Senja

Hujan turun kala senja
Membenamkan matahari ke cakrawala
Biar langit tak terpanggang lama-lama

Hujan turun kala senja
Merenggut purnama dari cahaya
Biar binasa segala puja

Hujan mendamba malam
Merindu senyap dalam kelam
Ketika cuma ia yang bersuara
Menang segala kuasa

Dan bintang-bintang disuruh memejam
Tak boleh jadi saksi hujan menghunjam
Bumi takdirnya cuma menerima
dan menumbuhkan benih yang tercurah

Posted in poem | Leave a comment

Cita-cita

Aku ingin menjadi pohon yang berakar kuat
‘Kan kuserap air hujan yang meresap ke dalam tanah
Dan kubiarkan air itu mengalir ke sekujur batang sampai puncak,
sampai pucuk,
hingga aku bisa bertahan saat musim kemarau tiba

Aku ingin menjadi pohon yang berdaun lebat
‘Kan kunaungi mereka yang berteduh dan bersandar di batangku
‘Kan kuhembuskan oksigen biar mereka tetap hidup
‘Kan kuulurkan dahanku agar burung-burung bersarang
‘Kan kubiarkan kupu-kupu berdatangan
dan membuahi kuntum-kuntum bunga yang bermekaran
sampai jadi buah
‘Kan kusimpan air hujan di sela-sela daun
biar jadi embun yang menetes dan membangunkan manusia
dari lelap mimpi

(2007)

Posted in poem | Leave a comment

Bocah Hujan

Tak seperti bocah kebanyakan,
hujan adalah anak yang mandiri.
Setelah dilahirkan awan,
ia tidak menangis ataupun minta menyusu.
Tidak pula seperti burung
yang harus belajar terbang dan diberi makan.

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Produk Akulturasi

Tahun ini, tepatnya bulan kemarin, genap 12 tahun saya tinggal di Surabaya. Biasanya kalau pulang kampung ke Cicalengka, ada yang bertanya, “betah, nggak, di sana?” Saya tidak bisa jawab “ya” atau “tidak”. Karena, di mana pun saya tinggal, ada plus dan minus yang saya rasakan karena perbedaan kultur. Apalagi Bandung dan Surabaya jauh berbeda. Satu daerah dingin, satunya daerah panas. Satu berbudaya Sunda, satunya berbudaya Jawa.

Ngomong-ngomong soal budaya, saya jadi ingin berbicara soal suku. Tidak ada maksud menjelek-jelekkan suku tertentu, sih. Saya hanya ingin berbicara tentang kehidupan saya sebagai sebuah produk akulturasi. 

Continue reading

Posted in thoughts | Tagged , | Leave a comment