Produk Akulturasi

Tahun ini, tepatnya bulan kemarin, genap 12 tahun saya tinggal di Surabaya. Biasanya kalau pulang kampung ke Cicalengka, ada yang bertanya, “betah, nggak, di sana?” Saya tidak bisa jawab “ya” atau “tidak”. Karena, di mana pun saya tinggal, ada plus dan minus yang saya rasakan karena perbedaan kultur. Apalagi Bandung dan Surabaya jauh berbeda. Satu daerah dingin, satunya daerah panas. Satu berbudaya Sunda, satunya berbudaya Jawa.

Ngomong-ngomong soal budaya, saya jadi ingin berbicara soal suku. Tidak ada maksud menjelek-jelekkan suku tertentu, sih. Saya hanya ingin berbicara tentang kehidupan saya sebagai sebuah produk akulturasi. 

Continue reading

Hai, Hujan!

Hai, Hujan!

Mataku seketika merekah saat petrikor berbisik bahwa kau datang.
Secepat rinaimu meninggalkan awan,
aku pun bergegas meninggalkan ranjang.
Hanya untuk melihatmu mengantar basah menembus tanah.
Seperti jarum yang mengantar benang menembus kain yang membentang.

Matahari belum juga melipat kelam.
Sementara bulan teronggok pasrah dalam remang.
Cahayanya tak lagi menyentuh pekarangan.

Aku tahu, kau tak sanggup lagi menahan rindu pada kebunku.
Pada daun-daun yang risau akan layu,
pada bunga-bunga yang tak sabar memberi warna dan wangi tubuh mereka untukmu.
Percikmu adalah kelakar yang mereka tunggu
setelah tanah yang mereka diami diempas tandus.

Ah, apalah artinya kebun tanpamu?
Ada kehidupan yang kau antar dalam setiap tetesmu.
Ditampung oleh bunga-bunga yang mekar,
yang kemudian mereka teruskan kepada akar.

Semoga tak ada luka dalam setiap rintik yang kaujatuhkan.
Sebab jika ada, maka perihmu akan menjadi lara bagi semua insan.

Selamat datang kembali di bumi.
Selamat menari bersama angin.
Dan selamat bernyanyi kembali di atas genting.

Sepatu Converse dan Kenangan Menabung

Gegara lihat gambar sepatu Converse Chuck Taylor, saya jadi ingat kalau dulu pernah punya sepatu ini.

Ceritanya, waktu kuliah saya tergolong tomboy. Males pakai baju cewek. Waktu itu saya memang lagi suka dan terpengaruh gaya Avril Lavigne dan Michelle Branch. Karena gayanya Avril terlalu “unik”, saya cuma bisa niru gaya Michelle Branch yang lebih simpel.

Dari situ, jadi kepengin, deh, punya sepatu Converse. Buat saya, sepatu itu harus banget. Pernah punya sandal gunung. Enak, sih, dipakainya. Tapi saya lebih suka sepatu. Apalagi kadang-kadang saya ikut kuliah yang dosennya mewajibkan para mahasiswanya pakai sepatu. Dan rata-rata harga sepatu saya yang enak dipakai itu lebih dari 100 ribu.

Ketika papap saya masih ada, mau apa-apa tinggal minta, langsung dibeliin. Setelah papap meninggal, mau beli apa-apa harus mikir dulu.

Harga sepatu Converse saat itu yang saya tahu adalah 150 ribu. Saya tidak tahu itu sepatu Converse asli atau bukan. Tidak tahu juga cara mengeceknya bagaimana. Bodo amat! Yang penting saya punya.

Maka, dengan semangat ’45, saya menabung. Kalau dikasih uang jajan sama kakak atau ada sisa uang saku dari mama, saya masukkan celengan. Serius, sampai selesai kuliah saya punya celengan hadiah ulang tahun ke tujuh atau delapan.

Saya lupa, berapa lama saya menabung. Ketika sudah terkumpul 150 ribu dan kebetulan ada acara jalan-jalan sama keluarga ke Bandung, saya beli, deh, si Chuck Taylor. Senang rasanya hati!

Sebetulnya kalau memang butuh, mama saya tidak keberatan membelikan saya sepatu. Dan prinsip beliau adalah beli yang bagus sekalian biar berkualitas, biar nggak sering-sering beli.

Namun saya memilih pakai jalur menabung daripada meminta. Setelah papap tiada, kami sempat kesulitan keuangan. Saya sempat kepikiran untuk bekerja, tapi tidak diizinkan. Menurut keluarga saya, lebih baik saya kuliah yang bener, sampai selesai.

Saya tetap merasa tidak enak karena belum bisa mandiri. Sebagai wujud sikap tahu diri, saya atur uang saku supaya cukup. Bahkan untuk keperluan kuliah seperti buku atau fotokopi yang sebetulnya bisa minta ke mama, saya ambil dari tabungan atau celengan.

Dan membeli sesuatu yang kita inginkan dengan pakai uang tabungan, rasanya puas banget. Karena dengan cara seperti itu, kita bisa menahan nafsu dan punya target yang jelas. Nggak pake ngutang. Apalagi kalau barang yang kita inginkan nyaman dipakainya.