… tapi kamu hanyut dalam buku
Berenang bersama huruf-huruf
Menyelami palung makna hidup
Padahal bulan minta dirayu
Sini, kita menulis puisi
Biar bulan tak merasa sendiri
Sesekali, jadilah pujangga
Jangan cuma jadi pembaca
… tapi kamu hanyut dalam buku
Berenang bersama huruf-huruf
Menyelami palung makna hidup
Padahal bulan minta dirayu
Sini, kita menulis puisi
Biar bulan tak merasa sendiri
Sesekali, jadilah pujangga
Jangan cuma jadi pembaca
ada kalanya siang tak ingin melakukan apa-apa
dibiarkannya matahari terik
menyengat daun-daun hingga menjadi kuning
dan senja menjadi merah
oh, waktu!
jangan biarkan siang menjaga jarak dengan malam
apalagi, pagi tak memberi harapan
siang tak punya alasan untuk bertahan
semoga malam mengajari pagi untuk berbagi
seperti bulan yang berbagi pelita dengan bintang-bintang
hendaklah pagi juga berbagi awan dengan siang
biar siang tak lagi gelisah dalam terang
Dia masuk mal ini dengan maksud membeli baju
Baju-bajunya di rumah sudah lusuh
Tahun baru, waktunya membeli baju baru
Didatanginya toko demi toko pakaian
Mencari baju yang bagus dan pantas dia kenakan
Bukan cuma buat di rumah, tapi juga buat jalan-jalan
Beragam model, warna dan harga ditawarkan
Tapi dia malah kebingungan
Keliling-keliling mal, masuk-keluar toko tanpa hasil yang memuaskan
Baju yang ukurannya pas di tubuhnya, banyak
Baju yang harganya ramah di dompet, banyak
Baju dengan model kekinian dengan bahan yang nyaman, juga banyak
Tapi tak ada satu pun baju yang menarik hatinya
Sementara orang-orang nyaman-nyaman saja dengan baju yang mereka sandang
Tak ada yang mengeluh kepanasan, kesempitan, kebesaran, atau ketinggalan zaman
Baju yang mereka kenakan tampak sangat pas membalut tubuh mereka
Dia pun memutuskan untuk meninggalkan mal tanpa membeli sehelai pun pakaian
Dia memutuskan untuk memakai baju-bajunya yang ada di rumah
Baju-baju yang sudah belel dan usang, yang sebentar lagi akan mengakhiri hidupnya dengan menjadi pel-pelan
Awan mendung,
Terima kasih tidak menurunkan hujan
Kugantung kembali payung bututku
Kulipat lagi jas hujan lusuhku
Kujemur lagi pakaianku yang belum kering
Di bawah matahari, kumenyanyi sendiri
Di bawah cahaya bulan, kurengkuh kesunyian
Di celah tanah kering,
kudapati tunas menyelinap ke permukaan
Barangkali dulu ada biji rambutan jatuh ke dalam tanah
dan mereguk tetes hujan terakhir
Tak semua puspa mekar karena lembap
Tak semua ceruk harus jadi genangan
Ilalang masih akan merumpun
Mawar masih akan mewangi dan rimbun
Terima kasih sudah mengunjungi kebunku
Memberi harapan pada rumput-rumput agar terus tumbuh
Menghalau terik yang membuat kembang sepatuku layu
Aku akan merindukan gelegar petir yang biasa memanggilku
Aku akan merindukan kelabu yang biasa menggelayut di kepalaku
Aku akan mengingatmu
Selalu
Hujan turun sejak subuh
Matahari ngamuk-ngamuk
cahayanya terhalang awan mendung
Tapi ia takut petir
Pijarnya lebih cepat dan dahsyat
Matahari turun dari singgasana
Mahkotanya ia serahkan pada hujan
Hujan menampik
Ia tak suka pakai mahkota
Diberikannya mahkota itu pada ilalang
Calon raja di bumi
Puisi ini semula merupakan cerpen, lalu digabung dengan cerpen-cerpen lain karya beberapa penulis menjadi sebuah novelet Mawar Merah Darah. Bisa diunduh di sini.
Hayooo... Mau apa?