Seekor Kupu-kupu Mati di Pinggir Jalan

Sore tadi, aku menemukan seekor kupu-kupu mati di pinggir jalan. Sayapnya masih utuh, seakan memperlihatkan keinginan yang belum terwujud. Tak ada yang berani mengoyaknya. Sebuah keheningan yang menyertai kepergiannya.

Pernahkah kupu-kupu itu berpikir tentang hari ini? Saat sayapnya terbentang, tetapi tak lagi memeluk angin. Saat ia memandang langit, tetapi tak mampu lagi menyentuhnya. Langit yang dulu memberinya keberanian untuk terbang tinggi, yang kini hanya menjadi saksi kematiannya.

Tanah yang menadahi kupu-kupu itu mengantarku ke masa silam, ketika ia masih berupa ulat yang merayap perlahan di atas dedaunan.

Pernahkah seekor ulat membayangkan sayapnya kelak? Itukah yang memberinya alasan untuk terus hidup? Menggerogoti daun-daun hingga pohon meranggas, dan bersembunyi ketika bayang-bayang burung menghalau pelita matahari.

Siapa yang tahu, mungkin ulat juga punya Impian. Untuk memiliki sayap yang elok, yang bisa menarik perhatian kupu-kupu lain. Impian untuk terbang mengelilingi dunia yang ia tidak pernah tahu sebelumnya.

Mungkinkah ulat pernah meminta kepada Tuhan untuk memberinya warna dan pola yang indah di sayapnya? Tapi siapa yang menentukan warna untuk sayapnya itu?

Sudahkah kupu-kupu yang mati itu menuntaskan mimpinya? Atau ia meninggalkan dunia ini dengan sejumput pertanyaan yang tak pernah terjawab? Mungkin ia bermimpi terbang lebih tinggi hingga sayapnya berkedip di antara bintang-bintang?

Belum sempat aku meresapi semua itu, tukang sapu datang, menyeret jasadnya ke dalam gerobak sampah dengan begitu gegas dan tegas.

Posted in thoughts | Leave a comment

Waktu

Aku adalah rintik hujan
yang melunturkan kerinduan

Aku adalah hijau
yang perlahan meninggalkan daun

Aku adalah jejak
yang tak dapat kembali kepada langkah

Aku adalah molekul
yang mengkristalkan masa lalu

Aku adalah waktu
yang mungkin kaulupakan

Sementara jam terus berdetak
dalam nadiku
dalam darahku

Posted in poem | Leave a comment

Hands

My hands are beautiful,
And so are yours.
Their nails are not as long as tulips,
But they are round like the moon.

Yes, we have moons in our hands—
They can shine in the dark.

Our hands have done many things, created many works.
Remember when you painted for your sister,
and she was very happy and thanked you for that?
I remember when I cooked you some crackers.
They didn’t have uniform shapes,
But you couldn’t taste the flour or the eggs
Because I mixed them well
With my hands.

If you see the grass and think it means nothing to us,
It doesn’t mean it’s worthless.
Some people need it to cure their pain.

So do our hands.
Someone else may underestimate them,
But as long as we can give our best through our hands,
As long as we can do even one little thing with our hands,
Then there’s no reason to doubt their worth.

Someday, we will win somebody’s heart
With our hands.

Posted in poem | Leave a comment

Nothing’s Wrong

Nothing’s wrong.
The river flows to the waterfall,
to the lowest place.
The sun sets in time,
giving the rest of its light to the moon,
so the stars can build constellations.

I just wish the tree could appreciate my breath,
the only way to show I’ve used the oxygen it gives.

Nothing’s wrong,
and there’s no time to blame myself,
when my kiddo falls from her bike
and scrapes her knee.
I should’ve kept her balanced.

But no!
Somehow, she has to hurt;
someday, she’ll understand,
not all good things come from good incidents.

Nothing’s wrong,
while the world keeps spinning around.
We are human
and we love ourselves.

Posted in poem | Leave a comment

Ibu Pertiwi Melahirkan Puisi

Ibu Pertiwi melahirkan puisi
bertunaskan helai demi helai huruf
cabang-cabang kalimat
bait-bait rindang
bunga-bunga diksi dan rima
buah-buah amanat
yang kaupetik saat tak ada lagi
makanan yang dapat kaulahap

Posted in poem | Leave a comment