The Rose

I wonder,
does the rose know that
so many people love it?
Even the thorns that grow from its stem
don’t discourage anyone from picking it,
just to express their love.

I, too, once fell in love
and wanted to ask a rose for help.
Just to convince someone that
I’m not playing around.
I’m romantic.

But then I felt foolish.
How could I love someone if
I didn’t love the rose?

The rose grows because
its roots love the universe
that raised it.

Next time,
when I fell in love again,
I chose to remain silent.
I no longer wanted to express my love.

I felt more at peace,
watching the rose grow and bloom,
radiating its beauty and fragrance.
It knows better how to love.

And I think that’s why we all love it.

Without ever saying a word.

Posted in poem | Leave a comment

Ketika Kemangi Kami Tinggal Satu

Sedih banget waktu kami harus ngaku kalo kemangi yang kami punya tinggal satu. Ada satu lagi yang masih batita, tapi di ambang sekarat. Satu-satunya kemangi yang kami punya, ya, tinggal satu. Itu pun saking emannya kami sama dia, nggak pernah dipetiki daunnya. Cuma disiram-siram tiap hari biar tumbuh lebat kayak orang tua dan sodara-sodaranya yang udah nggak ada.

Kami pernah beberapa kali nyemai batang kemangi dari kemangi yang tersisa itu. Tapi gagal melulu. Baru direndem beberapa hari, mati. Yang terakhir setelah direndem keluar akar. Tapi mungkin karena terlalu kecil, dari batang yang masih bayi, begitu ditanem kemangi itu mati tiga hari kemudian.

Di pasar banyak yang jual kemangi. Tapi kami nggak nyoba menyemai lagi karena batangnya udah nggak seger karena udah kelamaan dipotongnya. Satu-satunya cara buat nanem lagi cuma dengan motong dahan dari kemangi yang ada, atau beli benihnya. Kami nggak nyoba opsi kedua. Pengalaman nanem cabe dari benihnya (biji), gagal. Kemampuan kami kayaknya sebatas nyetek aja.

Continue reading

Posted in diary | Leave a comment

The Lost Words

I cook for dinner:
a pot of soup and chicken drumsticks.
The salt sinks to the bottom of the pot,
and the chicken turns brown.
The aroma of both fills the air.
But my mind wanders to the sunset
spilling purple on the horizon.
So many words to describe
how the sky changes because of the sun.
I want to run to my papers
and reach my pen.
Only to document the scene.
But wait!
I can’t leave the kitchen.
The vegetables will soften
and these chicken drumsticks will burn.
Like the sky, left behind by the sun.

I take a shower.
The puff foams like a mouth
uttering many words.
Water sprays from the tap.
And I think of the rain,
soft drops sliding down the window.
So many words to describe
how the world is conquered by water’s touch.
I want to run to my papers
and reach my pen.
But my hands are still covered in soap.
I must finish scrubbing myself
or this dirt will cling to my skin forever.
Like a memory that refuses to fade.

It’s time to sleep.
The stars twinkle playfully,
trying to cheer the dark sky.
I think of the moon,
Its pale light casting long shadows
on my bedroom wall.
So many words to describe
how the moon uses the night’s darkness to reveal itself.
I want to run to my papers
and reach my pen.
But my body is weighed down by the day’s burden.
I must sleep soon,
or tomorrow I’ll wake late,
busy with tasks, missing the chance
to pour my ideas onto the page.

And when I finally sit,
pen in hand at the long-waiting table,
all the words have slipped away.
Like yesterday, when I had no time to capture them.

Posted in poem | Leave a comment

Sebuah Cerita tentang Kebun Kami

Musim kemarau taun ini gila-gilaan. Apa, ya, yang bikin matahari semangat banget bersinar? Awan-awan aja nggak berani nengokin bumi. Sekalinya ada, langsung lenyap seketika.

Kebun kami kena imbasnya. Biarpun semua taneman disiram dua kali sehari tiap harinya, banyak yang akhirnya nyerah. Layu, terus mati. Taneman nggak jelas yang ditanem paksu juga ngeranggas dan daun-daunnya kayaknya males banget tumbuh lagi.

Padahal sebelum musim panas menyengat ini dateng, taneman itu tergolong subur. Daun-daunnya emang kecil-kecil; nggak bisa buat neduhin pekarangan. Tapi di sela-sela daun-daun itu, lahir buah-buah kecil warna item, yang kami duga makanan kesukaan burung-burung.

Banyak burung kecil yang dateng dan bertengger di dahan taneman itu. Sambil makan buahnya. Seneng, deh, liatnya. Kebun kami jauh dari kesan mati. Kebun kami kayak semesta kecil tempat aneka taneman dan hewan kecil hidup.

Sekarang pemandangan kayak gitu nggak keliatan lagi. Burung-burung masih pada berkunjung, sih. Tapi kami nggak punya apa-apa buat ngejamu mereka. Tau, dong, gimana rasanya kedatengan tamu tapi nggak bisa ngasih mereka suguhan? Sedih, malu, nggak enaklah pokoknya.

Beberapa taneman yang masih sanggup bertahan cuma pitaya, kamboja jepang, kangkung, dan cabe. Kalo pitaya dan kamboja jepang kayaknya emang udah bawaan oroknya bandel gitu. Tapi kangkung dan cabe… rada-rada ajaib mereka bisa tetep tumbuh di tengah kemarau ekstrem kayak sekarang.

Di balik kekeringan ini, tetep ada yang patut disyukuri. Tapi paksu ngingetin kalo nanti begitu musim ujan dateng, pasti ada juga masalah baru. Burung-burung mungkin nggak bakalan sering-sering berkunjung. Sementara rumput-rumput yang sekarang tenang-tenang aja di dalem tanah, nanti bakal berpesta tiap hari di kebun kami.

Kangkung pun mungkin bakal kewalahan dengan air ujan yang ngegenang. Gitu juga dengan pitaya dan kamboja jepang. Sementara cabe… belum paham, tuh, bakal gimana nasibnya.

Semua ada waktunya. Semua bakal kena giliran tumbuh dan layu.

Dan kebun kami selalu tenang dan sabar ngadepin setiap musim dan problemnya.

Posted in diary | Leave a comment

Hanya Laut yang Bisa Menyapu Pasir di Pantai

Dan yang tersisa
adalah
kekosongan

Yang terdengar
adalah
debur

Posted in poem | Leave a comment