Kalau Hujan Sudah Reda

Kalau hujan sudah reda
teh ini tak lagi hangat
Uap jadi embun
berleleran di jendela

Ilusi mencair
ke dalam genangan berlumpur
Hujan telah menyatu
dengan tanah

Tetapi masih kudengar rintik
jatuh dari tepi atap
Masih terbayang aroma petrikor
berkelebat di sela bau matahari

Kemarau sebentar lagi mengambil sisa hujan
di ujung sayap burung
Menjadikannya alasan untuk kembali terbang tinggi
Ringan kepak membimbingnya dari pohon ke pohon

Dan aku mengambil carik kertas yang baru
Luka tak harus menjadi hitam
Cerita tetap mengalir layaknya angin
Meski hujan sudah reda

Posted in poem | Leave a comment

Malamku tanpa Tidur

Hening mengantar detak jam
pada telingaku
Lampu sudah lelap
mengalirkan terang pada khayalku

Di luar sana,
pitaya menyerahkan mahkotanya
pada ngengat
Percintaan diam-diam
di bawah kesaksian bulan

Di ujung malam
rahasia terkuak
bersama gelap yang luntur
perlahan

Mungkin seperti inilah
kehidupan dimulai
Matahari lahir dari rahim timur
Binar menyingkap langit

Bahasa bangkit dalam siul burung
Helai demi helai daun bangun
Menjatuhkan embun yang bermalam
di permukaannya

Pagi akan bergeser jadi siang
Menyalakan terang
Memantik riuh

Dibutuhkan petang untuk kusadari
Matahari tak lahir untuk sia-sia
Ia akan mengulangi kelahirannya
setiap hari

Posted in poem | Leave a comment

Ujan Pecah di Halaman Rumah

Dear diary,
Ujan pecah di pekarangan. Huruf-hurufnya berserakan, berbaur sama daun-daun kering dan aku lagi males nyapu. Mau ngebiarin rumahku berantakan, tapi aku nginjek pecahan ujan itu. Kakiku luka soalnya ujannya terluka. Darah merembes, bikin garis-garis telapak kakiku keliatan jelas. Perih. Kakiku keilangan energi buat berdiri.

Kubalut lukaku pake kertas biar darahnya keserap. Biar pecahan huruf yang nusuk telapak kakiku ngebentuk pesan yang baru. Sisa huruf yang menyerak kubiarin membusuk terus aku kompos.

Atau kumasukkin pot aja dan kukubur sama tanah biar jadi tunas baru? Siapa tau, nanti berbuah karya.

Posted in diary | Leave a comment

Pengingat

Apapun yang terjadi, bertahanlah. Sekeras apapun hidup ini, tetaplah berdiri. Bukan agar kamu ditimpa lebih banyak ujian. Tetapi mungkin, di luar sana, ada seseorang yang menginginkanmu tetap hidup.

Ada seseorang yang diam-diam ingin menjumpaimu, tapi tak ada kendaraan yang dapat membawanya ke tempatmu, langkahnya kerap terjegal batu besar, waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang tidak dia inginkan tapi harus dia lakukan. Dan mendengar kabar baik tentangmu, seremeh apapun, adalah suntikan kebahagiaan baginya.

Bisa jadi, dia satu-satunya yang peduli padamu ketika yang lain ingin pergi. Bisa jadi, dia salah satu dari orang-orang yang pernah kau lewati di trotoar—tak kau sadari, tak kau kenali. Jarak membuatnya asing bagimu, tapi justru karena itulah, dia tak menghakimi kebiasaan burukmu, seandainya ada. Dia menyimpan ketulusan yang mungkin pernah kau pertanyakan.

Jadi, apapun yang terjadi, bertahanlah. Kebahagiaan kadang mengerjap lemah dalam situasi kelam. Seperti bintang di langit malam yang membuatmu sadar bahwa percikan kecil mampu membuat malam jadi berarti.

Posted in thoughts | Leave a comment

Bahasa Tersirat

Kadang angin enggan bertiup
Ia memilih bersembunyi di balik rimbun daun
Menitipkan desir dalam tiap uratnya
Semakin tak ketahuan saja hadirnya
Tetapi ia tak pernah meninggalkan semesta

Begitu juga aku
Tak mesti kujulurkan kepalaku dari jendela
Hanya untuk menjumpai awan
yang berarak di atas kebunku
Aku selalu ada untuk melukiskan jejaknya

Kepak sayap kupu-kupu juga tak bersuara
Dan hujan kadang turun dalam hening
Kesunyian adalah kedamaian hakiki

Aku hanya ingin menciptakan bahasa yang tersirat
Tak perlu kamus untuk menafsir
Setiap pasang mata punya penglihatan yang berbeda

Itulah keindahan yang tak akan pernah surut
Layaknya sajak yang diwariskan penyair

Posted in poem | Leave a comment