Pengingat

Apapun yang terjadi, bertahanlah. Sekeras apapun hidup ini, tetaplah berdiri. Bukan agar kamu ditimpa lebih banyak ujian. Tetapi mungkin, di luar sana, ada seseorang yang menginginkanmu tetap hidup.

Ada seseorang yang diam-diam ingin menjumpaimu, tapi tak ada kendaraan yang dapat membawanya ke tempatmu, langkahnya kerap terjegal batu besar, waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang tidak dia inginkan tapi harus dia lakukan. Dan mendengar kabar baik tentangmu, seremeh apapun, adalah suntikan kebahagiaan baginya.

Bisa jadi, dia satu-satunya yang peduli padamu ketika yang lain ingin pergi. Bisa jadi, dia salah satu dari orang-orang yang pernah kau lewati di trotoar—tak kau sadari, tak kau kenali. Jarak membuatnya asing bagimu, tapi justru karena itulah, dia tak menghakimi kebiasaan burukmu, seandainya ada. Dia menyimpan ketulusan yang mungkin pernah kau pertanyakan.

Jadi, apapun yang terjadi, bertahanlah. Kebahagiaan kadang mengerjap lemah dalam situasi kelam. Seperti bintang di langit malam yang membuatmu sadar bahwa percikan kecil mampu membuat malam jadi berarti.

Posted in thoughts | Leave a comment

Bahasa Tersirat

Kadang angin enggan bertiup
Ia memilih bersembunyi di balik rimbun daun
Menitipkan desir dalam tiap uratnya
Semakin tak ketahuan saja hadirnya
Tetapi ia tak pernah meninggalkan semesta

Begitu juga aku
Tak mesti kujulurkan kepalaku dari jendela
Hanya untuk menjumpai awan
yang berarak di atas kebunku
Aku selalu ada untuk melukiskan jejaknya

Kepak sayap kupu-kupu juga tak bersuara
Dan hujan kadang turun dalam hening
Kesunyian adalah kedamaian hakiki

Aku hanya ingin menciptakan bahasa yang tersirat
Tak perlu kamus untuk menafsir
Setiap pasang mata punya penglihatan yang berbeda

Itulah keindahan yang tak akan pernah surut
Layaknya sajak yang diwariskan penyair

Posted in poem | Leave a comment

Pagar Laut untuk Tuan

Agaknya, darah nenek moyang
tak mengalir dalam diri Tuan
Tuan tak berniat jadi pelaut
dan mengarungi luas samudra
Tuan takut menerjang ombak
dan enggan menempuh badai

Tuan tak paham nikmatnya berlayar
Angin bertiup, Tuan meringkuk
Ombak berdebur, Tuan mendengkur

Tuan bukanlah seorang pemberani
Tuan hanyalah seorang pemimpi
Berambisi membangun rumah di atas laut
Dengan muslihat yang Tuan rajut

Kami tahu, pagar itu sengaja dipancang
agar ombak tak lagi menerjang mimpi Tuan
Tetapi jangan lupa, Tuan
Kami ini jutaan
Melebihi bilah bambu yang Tuan tancapkan
Kami sanggup mencabut satu per satu
dan menghempaskannya ke tepi

Jangan khawatir, Tuan
Bambu-bambu itu akan kami susun,
mengitari istana Tuan, mengurung Tuan di dalamnya
Sebab laut, Tuan, tak akan diam
Ia menelan segala yang tak seharusnya berdiri di atasnya

Posted in poem | Leave a comment

Biarkan Laut Berbaring dengan Tenang

Biarkan laut berbaring dengan tenang
Cukuplah ombak yang membuatnya bergejolak
Sebab laut bukanlah milik segelintir orang
Laut adalah milik kita semua

Biarkan ikan-ikan berenang di laut
Biarkan karang tumbuh di dasarnya
Biarkan perahu-perahu berlayar di permukaannya
Dan biarkan nelayan-nelayan menjemput kemujuran mereka

Setiap kita punya tempat sendiri-sendiri
Tak perlu merampas laut dan menjadikannya istana
Ketamakanmu sementara
Perihnya laut selamanya

Biarkan laut berbaring dengan tenang
Lepaskan deretan bambu yang melukainya
Dan jika kau masih mengapung di atas bahtera ambisi,
tunggu saja!
Gelora samudra akan menenggelamkanmu

Posted in poem | Leave a comment

The Bright Side of The Moon

Waktu gulir-gulir IG, nemu tulisan ini. Tentang gerhana bulan pertengahan 2021 lalu. Tulisannya aku revisi dikit.

***

Berdasarkan info dari mana-mana, malem ini ada gerhana bulan total yang bisa diliat di Indonesia. Super blood moon. Namanya nyeremin, tapi bikin penasaran kayak film thriller.

Dari sore aku udah siap-siap bareng suami dan anak-anak buat nonton gerhana. Langitnya masih biru. Matahari belum tenggelam sepenuhnya ke cakrawala. Bulannya juga belum keliatan. Di sebelah rumah kami ada rumah berlantai tiga punya tetangga. Bangunannya itu ngalangin pemandangan ke ufuk timur. Tapi kupikir nggak bakalan sampe ngeganggu kami yang mau liat gerhana. Soalnya, puncak gerhanana bakal terjadi lewat magrib, kira-kira pukul enam lebih. Jam segitu bulan kayaknya udah tinggi. Udah bisa kami liat dari tempat jemuran di atap.

Abis makan malam sekitar pukul 18.20, aku cek ke atas. Langitnya udah gelap. Tapi di langit cuma ada beberapa bintang. Bulannya nggak ada secuil pun. Apa sekarang udah puncak gerhana? tanyaku waktu itu. Tapi, masa’ secepat itu?

Aku coba cek dari halaman depan rumah. Nggak ada juga bulannya. Malah langitnya yang rada sebelah timur tambah nggak keliatan gegara bangunan rumah milik tetangga.

Kami sempet pasrah. Kayaknya kami harus ngelewatin gerhana bulan total kali ini, deh. Nggak apa-apa, sih. Abis gerhana, kan, bulannya purnama kayak biasanya. Idup bakal jalan terus.

Tapi, gimana-gimana juga kami penasaran dengan sisi gelap bulan. Akhirnya, selesai salat isya dan ngaji, suami ngecek ke atas. Ternyata…

… udah selesai, dong, puncak gerhananya! Bulannya udah ngelewatin fase sabit, mau balik lagi jadi purnama. Warnanya juga nggak merah, tapi putih kayak biasa. Ah!

Nggak tau kapan bakal ada gerhana bulan lagi. Baik yang total atau sebagian. Warna merah darah atau warna lain. Ada pun, belum tentu bisa diliat dari Indonesia, khususnya Surabaya.

Tapi, apa cuma gara-gara kelewat waktu puncak gerhana itu peristiwa gerhana bulan jadi nggak berarti apa-apa? Apa kalo nggak liat sisi gelap bulan, idup jadi berasa nggak sempurna?

Kalo dipikir-pikir, sebenernya nggak bisa nyaksiin gerhana itu patut disyukuri juga. Gerhana bulan total itu, kan, bikin kita jadi nggak bisa liat terangnya bulan yang cantik. Satu-satunya cahaya di malam hari jadi ketutup sama bayangan bumi dan buat beberapa orang, itu mungkin peristiwa yang sangat menakutkan.

Nah, dengan melewatkan (atau kelewatan) gerhana bulan total, kita nggak harus ngelaluin fase menakutkan kayak gitu. Kita selalu liat bulan dengan sisi terangnya.

Have you ever seen the dark side of the moon?

I haven’t, and I think I should be grateful for that,

because the moon always shows me its bright side.

Posted in diary | Leave a comment