Sebuah Pesan di Pagi Hari

Apa yang aku inginkan hari ini, Matahari, adalah jari kecilmu yang mengetuk jendela kamarku. Lalu, ditemani sorot hangatmu, aku berpikir tentang waktu, yang selalu mampu mengingat masa lalu dan membawanya ke hari ini.

Kenangan itu seperti secangkir kopi di hadapanku. Lebih banyak pahitnya daripada manisnya. Katamu, itu karena aku hanya menambahkan sedikit gula ke dalamnya.

Tetapi itu memang sengaja, Matahari. Aku tidak mau menambahkan terlalu banyak manis. Aku membiarkan pahit itu bertahan agar aku tidak lupa rasa sakit. Sebab sekali melupakan luka, penyembuhan justru semakin jauh. Ia menggerogoti waktu dan perhatianku.

Kadang, aku ingin menjadi seperti rumput. Tumbuh tanpa mengingat nasib pendahulu-pendahulunya yang mati karena ditebas. Tak takut dicibir karena tak seestetik tanaman-tanaman bunga yang sengaja ditanam. Rumput tumbuh tanpa memanggul beban apa-apa.

Kadang, aku juga ingin menjadi seperti awan. Berarak di atas bumi, menurunkan hujan tanpa peduli di bawahnya banjir atau kerontang.

Banyak sekali keinginanku, Matahari. Namun yang sangat aku inginkan pagi ini adalah kedatanganmu di kebunku. Rumah ini terlalu dingin sebab bediding semalam. Langit begitu bersih sehingga kau lekas kembali ke langit.

Singgahlah ke kebunku pagi ini dan embuskan napasmu ke dalam daun-daun. Biar aku tahu ke mana harus mencari hangat.

Posted in thoughts | Leave a comment

Lukisan Bisu

Hujan turun tak membawa suara
Genting mendamba rintik
Namun hujan memilih membasahi tanah saja
Menyimpan rahasia di dalam akar

Akankah nanti tumbuh jadi kisah?
Ataukah waktu membawanya menuju sungai?

Hujan tak membawa dingin
Selimutku hangat karena wol, bukan cerita
Aku meringkuk sebab tak ada lagi yang bisa kuperbuat
Bolpoinku telah kering
Kertas putih mati karena rindu
Jendela kamarku: lukisan bisu

Posted in poem | Leave a comment

Tumbuh Nggak Kenal Kondisi dan Teori

Tahun lalu, kami nanem singkong gajah di pinggir jalan depan rumah. Setelah beberapa bulan, singkongnya tumbuh tinggi dan subur, padahal jarang dirawat. Daunnya gede-gede, batangnya juga. Umbinya nggak tau, karena di dalem tanah.

Kalo liat singkong biasa yang kami tanem di halaman, daun yang subur nggak ngejamin umbinya juga subur. Kami baru bisa liat umbinya segede apa kalo udah waktunya panen.

Bulan puasa kemaren adalah kira-kira tiga bulan sebelum masa panen singkong gajah. Pohonnya udah tinggi. Orang-orang juga mikirnya udah waktunya dipanen tuh singkong. Tapi karena umurnya masih kurang, kami tahan dulu.

Eeeh, gara-gara ujan angin, singkong gajahnya tumbang sampe narik kabel di atasnya. Terpaksalah kami tebang. Sebagian lagi dicabut aja, sekalian panen. Bener aja, umbinya masih kecil-kecil. Untungnya bisa dimakan walaupun kayak makan kayu.

Daunnya kumasak. Rasanya sama kayak daun singkong biasa. Sementara batangnya ada yang kami setek, sebagian lagi kami biarin aja di kebun. Bingung mau ditanem di mana lagi karena kurang lahan dan pot.

Tiga mingguan pasca panen, ternyata batang singkong yang kami biarin itu bertunas! Padahal akarnya nggak masuk tanah sama sekali. Akar yang tersisa, yang umbinya udah kami sikat habis, juga ngeluarin daun.

Wow!

Batang singkong itu paling kena ujan aja. Bahkan mereka udah mulai kering karena sering kepanasan juga. Tapi, kok, bisa bertunas?

Aku ambil pelajaran aja, bahwa tumbuh bisa dengan cara tak mengenal kondisi dan teori. Nggak wajib singkong gajah itu tumbuh dengan cara yang sama kayak pohon lain yang akar atau batangnya harus ditancepin ke tanah, terus disiram tiap hari, dikasih pupuk ini itu, dsb.

Singkong gajah itu ngebuktiin kalo dia mampu tumbuh dengan mandiri. Nggak bergantung sama manusia dan nggak harus nyentuh tanah.

Aku nggak tau sampe kapan tunas-tunas singkong gajah itu bakal bertahan. Cuaca masih suka berubah. Kadang panas seharian, kadang ujan deres. Tapi, kalo emang mereka harus tumbuh, apapun yang terjadi, nggak ada yang bisa ngalangin mereka.

Posted in diary | Leave a comment

Puisi Air Mata

Kerap aku bertanya padaku sendiri, ke mana air mata bunga mengalir ketika ia dipisahkan dari tangkainya?

Lalu aku tertegun saat menyadari, bahwa air mataku tak pernah menitik dan mengalir. Kesedihanku adalah puisi yang kutulis di atas kertas.

Posted in poem | Leave a comment

Memungut Gerimis

Aku kembali ke kebunku
memungut gerimis
Kemarau sebentar lagi tiba
dan aku harus mengisi kertasku
dengan sisa-sisa aksara
yang tertinggal di rimbun daun
sebelum terik meneguk ilham

Terlalu lama aku terlena hujan deras
Meringkuk dilingkup hawa dingin
Hujan pun berlalu dalam sungai

Sekarang tinggal gerimis
Danau pun menyusut
Bulan akan kehilangan cermin
Aku kehilangan puisi

Posted in poem | Leave a comment