Author Archives: Rie Yanti
Sungai Telah Menjadi Laut
Sungai telah menjadi lautTak lagi gentar menghadapi paus dan hiu ganasJuga diombang-ambing ombak dan diayun badaiDan makhluk-makhluk kecil menggelitikinya hingga tertawa Sesekali ia menoleh ke belakangGunung menjulang megah dengan semua misteri yang ia akrabi sejak kecilGunung yang telah merawatnya saat … Continue reading
Berkebun
Telah ditanam benih-benih kenanganDalam pot-pot plastik dan tanah liatKelak akan tumbuh menjadi hikayatTertulis dalam kelopak-kelopak kembang
Jendela
Aku suka duduk di balik jendela Muslihat kacanya selalu menggoda Apa yang ditayangkannya seolah dapat dijamah Padahal, bau rumput tak dapat dicium dan sejuk gerimis tak dapat diraba Namun jendela memberiku sepasang sayap Untuk terbang menembus atap Menuju kemustahilan yang … Continue reading
Bulan Bersinar karena Matahari
Malam-malam biasanya bulan bernyanyi di jalananBersama lampu-lampu jalan yang menggantung di tiang-tiangSuaranya lembut, bikin hujan mengantuk dan pulang ke awan Bulan juga kerap bertandang ke kebunJalannya berjingkat-jingkat, jarinya membelai daun-daunCahayanya mengejutkan tikus-tikus yang hendak mencuributir-butir tomat dan lembar-lembar sawi
Gerimis
Gerimis pagi ini. Matahari kedinginan. Selimutnya basah. Cahayanya masuk kamarku dengan lemah. Semoga dia tidak sakit flu. Aku juga pernah kehujanan. Mungkin sering. Dari gerimis sampai hujan deras. Yang aku suka, ya, gerimis. Tetesnya tidak menyakiti kepalaku. Gerimis itu seperti … Continue reading

