Author Archives: Rie Yanti
Taun Uler
Imlek. Taun uler. Tiba-tiba aku inget game di hp Nokia yang aku punya taun 2002 lalu. Hadiah ultah terakhir dari papap. Nama game-nya nggak tau apa. Pokoknya tentang uler yang dikasih makan. Tiap kali ulernya makan, tubuhnya memanjang. Kalo makannya … Continue reading
Let It Flow, Rie
Aku mencari bulanDi antara kawanan awanSudah bosan aku dengan hujanAtap bocor, jalan banjir, tanah kebasahan Udah seminggu lebih aku nggak mood nulis. Masih bagus bisa lahir sebiji puisi yang kutaruh di PPP beberapa hari yang lalu, dan sebatang curhatan soal … Continue reading
Hujan, Seperti Puisi
Hujan yang tak pernah turun di musim penghujan, seperti puisiku buatmu Terbelenggu mendungnya mega yang enggan memberi celah untuk jatuh ke tanah Hujan yang turun diam-diam, seperti puisiku buatmu Menyebut namamu pelan-pelan lalu menyembunyikannya dalam rona kembang Hujan yang turun … Continue reading
Rabun
Karena faktor U dan keseringan pake gawai, mataku jadi rabun. Nggak bisa liat dengan jelas objek-objek yang ada di deket mata. Harus jauh. Nggak sampe parah banget, sih. Cuma pas natap layar hp atau baca tulisan aja. Mudah-mudahan nggak tambah … Continue reading
Secangkir Malam di Pagi Hari
Malam mencair ke dalam cangkir dijerang matahari pagi Uap hangat meliuk-liuk bergegas ke angkasa menjelma gugusan awan Waktu mengaduk Denting berdetak diiringi pusaran buih Manis menyisip getir Bulan dan gemintang larut dalam pekat jelaga Ampas menetap menunggu senja membasuh jejak

