Puisi Tak Kasat Mata

Kadang, puisiku tak terdengar
Ia menelan suaranya sendiri dalam ingar
Atau menyaru dalam samar

Tak perlu kaucari di mana kuletakkan diksi-diksi
Benakku mampu berfungsi sebagai laci
Di dalamnya sarat puisi yang sengaja tak kubagi

Banyak bait yang kupeluk diam-diam
Tak semua lara layak dipajang
Dan tak semua tawa pantas diperlihatkan

Huruf-hurufku memilih tinggal dalam sunyi
Tetapi mungkin suatu hari nanti,
puisi itu menampakkan diri
di ujung jalan yang tanpa sengaja kau lalui

Posted in poem | Leave a comment

Melukis Musim

November telah tiba
Langit digelayuti mendung
Hujan bersiap turun
Waktu berjalan memikul beban

Tapi bagiku, ini adalah Mei
Daun-daun bersemi layaknya bunga
Derai hujan sehangat pancaran matahari

Di trotoar, orang-orang mengeluh tentang cuaca yang tak tentu
Di rumah, aku melukis musim sekehendakku
Menyapukan badai dan pelangi bergantian tanpa ragu

Posted in poem | Leave a comment

Kaktus

Aku selalu khawatir jika musim kemarau datang
Sumur akan kering dan kebunku akan mati

Aku memandang tapak dara dengan iba
Dia baru saja melahirkan bunga pertamanya
tetapi harus menghadapi teriknya matahari

Tak seperti kaktus yang tegar berdiri
Tak gentar menghadapi pergantian musim

Aku harus belajar darinya
yang tahu bagaimana menyimpan air
Hingga tak perlu lagi aku bertanya
kapan hujan akan datang lagi

Posted in poem | Leave a comment

Cukup

Beberapa hari kemarin nggak turun ujan di Surabaya. Cuacanya panas. Kayak mau kemarau. Tugas nyiram-nyiram kebun mulai rutin, deh.

Terus, dua hari yang lalu, malem-malem ujan. Lanjut sampe kemarin pagi. Cucian dijemur pagi, sorenya baru kering. Tapi aku jadi libur nyiram. Ke kebun cuma buat nyabutin rumput.

Tadi sore, sekalian lanjut nyabut rumput, aku siram-siram karena hari ini langitnya cerah banget. Air sumurnya jadi banyak berkat ujan deres dua hari yang lalu.

Sebelum ujan itu, aku sempet khawatir. Kalo kemarau panjang lagi, kira-kira air sumurnya abis, nggak, ya? Selama ini nggak pernah ada kasus sumur kering. Tapi aku khawatir aja.

Tadi sore, liat air sumurnya banyak, tiba-tiba aja aku ngerasa tenang. Apa yang aku khawatirkan kayaknya nggak bakalan kejadian. Soalnya Tuhan bakal ngasih kita rezeki sesuai kebutuhan kita.

Kasus kayak gini bukan baru kejadian sekarang. Sebelum-sebelumnya kami juga pernah ngalamin hal yang sama, tapi beda cerita. Kayak waktu keuangan kami lagi kolaps sementara anak-anak harus beli buku sekolah.

Nggak disangka, ada rezeki datang. Kami bisa beli buku sekolah buat anak-anak tanpa harus narik tabungan lagi.

Waktu mudik juga gitu. Biaya buat mudik, apa lagi jaraknya jauh, nggak dikit. Tapi kami berusaha buat menunaikan kewajiban kami sama keluarga kami di Bandung. Kami berdoa sekenceng-kencengnya sambil nyari-nyari celah rezeki buat modalin niat kami.

Datang, deh, malaikat penolong. Seakan tau rencana mudik kami, beliau ngasih yayah kerjaan. Penghasilannya, sih, nggak melimpah. Tapi itu cukup buat ongkos perjalanan kami dan segala printilannya.

Mungkin itu definisi cukup bagi kami. Memiliki sesuai yang dibutuhkan. Nggak kurang, nggak lebih.

Kalo selama ini aku khawatir terus soal masa depan, mulai sekarang aku harus percaya bahwa kalau apa yang kita rencanain emang baik, begitu waktunya tiba, Tuhan bakal ngemudahkan jalan kami.

Posted in diary | Leave a comment

Setelah Musik Usai

Musik berhenti berputar
Syair nostalgia berakhir jua
Ingar bingar sudah padam
Pesta telah usai

Maka, dengarlah tutur sungai
Mengalirkan kisah dengan deras
di telinga bebatuan
tentang mimpinya akan laut

Andai musik itu kembali mengalun, biar saja
Jadilah sungai yang patuh pada arus
Betapapun sakitnya jatuh di air terjun
atau pekatnya lumut yang ikut hanyut

Posted in poem | Leave a comment