Melukis Musim

November telah tiba
Langit digelayuti mendung
Hujan bersiap turun
Waktu berjalan memikul beban

Tapi bagiku, ini adalah Mei
Daun-daun bersemi layaknya bunga
Derai hujan sehangat pancaran matahari

Di trotoar, orang-orang mengeluh tentang cuaca yang tak tentu
Di rumah, aku melukis musim sekehendakku
Menyapukan badai dan pelangi bergantian tanpa ragu

Posted in poem | Leave a comment

Kaktus

Aku selalu khawatir jika musim kemarau datang
Sumur akan kering dan kebunku akan mati

Aku memandang tapak dara dengan iba
Dia baru saja melahirkan bunga pertamanya
tetapi harus menghadapi teriknya matahari

Tak seperti kaktus yang tegar berdiri
Tak gentar menghadapi pergantian musim

Aku harus belajar darinya
yang tahu bagaimana menyimpan air
Hingga tak perlu lagi aku bertanya
kapan hujan akan datang lagi

Posted in poem | Leave a comment

Setelah Musik Usai

Musik berhenti berputar
Syair nostalgia berakhir jua
Ingar bingar sudah padam
Pesta telah usai

Maka, dengarlah tutur sungai
Mengalirkan kisah dengan deras
di telinga bebatuan
tentang mimpinya akan laut

Andai musik itu kembali mengalun, biar saja
Jadilah sungai yang patuh pada arus
Betapapun sakitnya jatuh di air terjun
atau pekatnya lumut yang ikut hanyut

Posted in poem | Leave a comment

Sebuah Pesan di Pagi Hari

Apa yang aku inginkan hari ini, Matahari, adalah jari kecilmu yang mengetuk jendela kamarku. Lalu, ditemani sorot hangatmu, aku berpikir tentang waktu, yang selalu mampu mengingat masa lalu dan membawanya ke hari ini.

Kenangan itu seperti secangkir kopi di hadapanku. Lebih banyak pahitnya daripada manisnya. Katamu, itu karena aku hanya menambahkan sedikit gula ke dalamnya.

Tetapi itu memang sengaja, Matahari. Aku tidak mau menambahkan terlalu banyak manis. Aku membiarkan pahit itu bertahan agar aku tidak lupa rasa sakit. Sebab sekali melupakan luka, penyembuhan justru semakin jauh. Ia menggerogoti waktu dan perhatianku.

Kadang, aku ingin menjadi seperti rumput. Tumbuh tanpa mengingat nasib pendahulu-pendahulunya yang mati karena ditebas. Tak takut dicibir karena tak seestetik tanaman-tanaman bunga yang sengaja ditanam. Rumput tumbuh tanpa memanggul beban apa-apa.

Kadang, aku juga ingin menjadi seperti awan. Berarak di atas bumi, menurunkan hujan tanpa peduli di bawahnya banjir atau kerontang.

Banyak sekali keinginanku, Matahari. Namun yang sangat aku inginkan pagi ini adalah kedatanganmu di kebunku. Rumah ini terlalu dingin sebab bediding semalam. Langit begitu bersih sehingga kau lekas kembali ke langit.

Singgahlah ke kebunku pagi ini dan embuskan napasmu ke dalam daun-daun. Biar aku tahu ke mana harus mencari hangat.

Posted in thoughts | Leave a comment

Lukisan Bisu

Hujan turun tak membawa suara
Genting mendamba rintik
Namun hujan memilih membasahi tanah saja
Menyimpan rahasia di dalam akar

Akankah nanti tumbuh jadi kisah?
Ataukah waktu membawanya menuju sungai?

Hujan tak membawa dingin
Selimutku hangat karena wol, bukan cerita
Aku meringkuk sebab tak ada lagi yang bisa kuperbuat
Bolpoinku telah kering
Kertas putih mati karena rindu
Jendela kamarku: lukisan bisu

Posted in poem | Leave a comment