Nggak Semua Daun Sama

Kalo aku peratiin, daun-daun yang ada di kebunku nggak sama warnanya. Sekilas, mereka kayak sama. Kalo nggak ijo muda, ijo tua. Ada juga yang kuning atau cokelat karena dimakan waktu. Tapi kalo dilihat lebih saksama, beda. Bedanya, sih, tipis-tipis dan sulit ngedeskripsiinnya.

Di depan rumah tetangga sebelah dan depan rumah, ada taneman pucuk merah. Waktu daunnya baru tumbuh, warnanya ijo. Lama-lama, warnanya pucuknya jadi merah. Bukan karena pengaruh alam apalagi dicat, tapi emang udah bawaannya.

Ada juga sri rezeki. Aku nggak punya dan tetanggaku juga kayaknya nggak punya. Tapi ada taneman kayak gitu. Daunnya udah merah jambu sejak lahir. Bagian yang deket tangkainya lebih tua warnanya, sementara yang tengah sampe pucuk, warnanya merah jambu rada mudaan. Tapi kalo udah tua, sih, warnanya berubah jadi cokelat.

Atau kastuba. Ini lebih aneh lagi. Awalnya dia terlahir sebagai daun. Tambah umurnya, dia berubah jadi bunga. Dari warna ijo jadi warna merah.

Beberapa daun taneman hias juga punya beragam motif. Ada yang bintik-bintik putih, ada yang garis-garis, ada yang bagian pinggirnya ijo tua tapi makin ke tengah makin muda. Bentuknya juga beragam. Ada yang bergelombang, meruncing, menjari, rada bunder, tepinya runcing-runcing, panjang. Ada yang kecil-kecil, ada yang gede-gede juga.

Sama kayak bunga. Beda bentuk, beda warna, beda baunya juga. Dan semua itu terjadi karena banyak faktor. Ada yang warnanya berubah karena pengaruh sinar matahari, usia, atau karena dia emang ditakdirkan buat berubah warna.

Apakah ada yang pernah protes dengan keanekaragaman kayak gitu?

Kayaknya nggak ada, deh. Setauku, orang-orang malah suka dengan keunikan daun-daun. Saking sukanya, ada yang sampe ngoleksi macem-macem taneman hias kayak yang pernah booming belasan taun lalu. Aku juga kemakan tren itu.

Ada juga yang nggak peduli dengan penampilan. Tapi care banget sama khasiatnya. Orang yang kayak gini biasanya nanem taneman obat (toga) atau taneman pangan. Kayak aku sekarang. Aku nggak berminat nanem taneman hias lagi. Aku sekarang lebih ngedepanin fungsi. Kalo taneman hiasnya cuma buat estetika-estetikaan aja, kemungkinan besar nggak bakalan kupilih. Tapi kalo ada khasiat pangan atau obat, boleh, tuh, ditanem di kebunku.

Semua tergantung selera dan kebutuhan masing-masing orang. Dan nggak semua daun harus punya warna yang sama. Nggak semua orang harus berbuat yang sama juga. Beda-beda juga bisa keliatan menarik, kok.

Posted in thoughts | Leave a comment

Terang Bulan di Atas Hujan

Ia hendak menolong hujan menelusuri malam
Menyelinap di antara lalu lalang kendaraan
Mericik di antara deru dan klakson
Mengalir di jendela-jendela yang terkatup rapat

Bulan menjadi saksi hujan
yang kepayahan menemuimu
Yang bahagia melihatmu
meski
wajahmu membeku
di bawah payung yang terkembang

Posted in poem | Leave a comment

Puisi Tak Kasat Mata

Kadang, puisiku tak terdengar
Ia menelan suaranya sendiri dalam ingar
Atau menyaru dalam samar

Tak perlu kaucari di mana kuletakkan diksi-diksi
Benakku mampu berfungsi sebagai laci
Di dalamnya sarat puisi yang sengaja tak kubagi

Banyak bait yang kupeluk diam-diam
Tak semua lara layak dipajang
Dan tak semua tawa pantas diperlihatkan

Huruf-hurufku memilih tinggal dalam sunyi
Tetapi mungkin suatu hari nanti,
puisi itu menampakkan diri
di ujung jalan yang tanpa sengaja kau lalui

Posted in poem | Leave a comment

Melukis Musim

November telah tiba
Langit digelayuti mendung
Hujan bersiap turun
Waktu berjalan memikul beban

Tapi bagiku, ini adalah Mei
Daun-daun bersemi layaknya bunga
Derai hujan sehangat pancaran matahari

Di trotoar, orang-orang mengeluh tentang cuaca yang tak tentu
Di rumah, aku melukis musim sekehendakku
Menyapukan badai dan pelangi bergantian tanpa ragu

Posted in poem | Leave a comment

Kaktus

Aku selalu khawatir jika musim kemarau datang
Sumur akan kering dan kebunku akan mati

Aku memandang tapak dara dengan iba
Dia baru saja melahirkan bunga pertamanya
tetapi harus menghadapi teriknya matahari

Tak seperti kaktus yang tegar berdiri
Tak gentar menghadapi pergantian musim

Aku harus belajar darinya
yang tahu bagaimana menyimpan air
Hingga tak perlu lagi aku bertanya
kapan hujan akan datang lagi

Posted in poem | Leave a comment