Ketika Idup Lagi Pedes-pedesnya

Belakangan ini, aku seneng makan yang pedes-pedes. Alasan pertama, cabe rawit di kebun udah merah-merah. Sayang kalo nggak dimanfaatkan. Mau dikasihin ke orang lain, terlalu dikit. Ini juga buat dimakan sendiri masih kurang, jadi harus beli buat nambah-nambah.

Kedua, sejak kemarin, badanku rada nggak enak. Hari ini meler terus dan kepala kerasa rada berat. Lumayan enteng kalo makan yang pedes-pedes. Apalagi dalam bentuk kuah kayak ceos.

Ketiga, idup akhir-akhir ini lagi melelahkan banget. Semua orang keliatan nyebelinnya dan semua hal ngebosenin. Aku bawaannya pengin ngamuk-ngamuk aja. Syukurlah aku bisa ngendaliin emosi.

Biarpun rasanya nggak enak banget, aku nggak mau ngelawan emosi kayak gini. Namanya juga idup. Kadang nyenening, kadang nyebelin. Dan walaupun kata-kata udah melimpah di lidah, nggak sampe keluarlah kata-kata makian atau umpatan. Nggak curhat juga ke siapapun, karena dari dulu, curhat nggak bikin aku nyaman.

Aku juga males nyari mood booster. Tapi kalo makan yang pedes-pedes, khususnya cabe rawit, aku lumayan hepi dan tenang. Padahal mulut kelabakan dan perut berasa mau mendidih.

Cabe mengandung capsaicin, zat yang bikin rasanya pedes. Nggak tau darimana asalnya zat ini. Nggak ngerti juga gimana prosesnya sampe dia bisa bikin aku hepi.

Apa karena dia juga ngalamin hal yang sama kayak aku, ya? Aku hepi karena kayak punya temen yang sama-sama galau.

Mungkin aja, sih. Cabe rawit tuh sebenernya bisa ngomong. Waktu gigiku ngegigit dan ngunyah dia, dia keluarin semua cerita dan unek-uneknya. Kisah dia pedih dan itu yang bikin dia pedes.

Setelah curhat, si cabe rawit ngerasa plong dan masuk tubuhku dibantu liur tanpa punya beban apa-apa lagi. Mulutku yang terdampak pedesnya. Tapi cerita yang dia tinggalin di mulutku itu bikin aku jadi paham kalo aku nggak sendirian. Ada banyak orang, atau something, yang punya pengalaman pedes juga.

Itulah kenapa aku jadi ikutan plong setelah makan, eh, dengerin cabe rawit curhat ke organ-organ di mulutku. Kepala jadi enteng. Ingus jadi encer. Semua yang membebani kepalaku berkurang.

Aku inget, waktu kami berempat lagi melalui masa kegelapan, dengerin cerita orang-orang yang kurang beruntung dari kami bikin kami termotivasi buat terus berjuang bertahan hidup dan bersyukur.

Sometimes, when life feels heavy, all we need is to listen to someone else’s pain, or even to something unexpected.

Posted in diary | Leave a comment

luka

mawar merekah
merah
meneteskan darah
tertusuk durinya sendiri

Posted in poem | Leave a comment

purnama

perlahan, ia menjauh dari matahari
setelah semalam jadi primadona
berkilau, menantang gelap

di balik rimbun pohon, ia mengintip
jika sudah tampak kening sang surya,
ia harus mengambil sejumput awan
untuk menyeka wajahnya hingga pucat
lalu menyaru dalam biru

nanti, begitu senja menutup langit
dan sang surya merengkuh cakrawala,
ia akan naik lagi
ke atas pentas gemerlap bintang
berbekal kilau yang gugur bersama angin malam

tiga malam, ia merasa lengkap
sampai kalender memanggilnya pulang
hari-hari yang ditakar jam, menit, dan detik
telah disiapkan untuknya
sebelum wajahnya kembali penuh

Posted in poem | Leave a comment

Nggak Semua Daun Sama

Kalo aku peratiin, daun-daun yang ada di kebunku nggak sama warnanya. Sekilas, mereka kayak sama. Kalo nggak ijo muda, ijo tua. Ada juga yang kuning atau cokelat karena dimakan waktu. Tapi kalo dilihat lebih saksama, beda. Bedanya, sih, tipis-tipis dan sulit ngedeskripsiinnya.

Di depan rumah tetangga sebelah dan depan rumah, ada taneman pucuk merah. Waktu daunnya baru tumbuh, warnanya ijo. Lama-lama, warnanya pucuknya jadi merah. Bukan karena pengaruh alam apalagi dicat, tapi emang udah bawaannya.

Ada juga sri rezeki. Aku nggak punya dan tetanggaku juga kayaknya nggak punya. Tapi ada taneman kayak gitu. Daunnya udah merah jambu sejak lahir. Bagian yang deket tangkainya lebih tua warnanya, sementara yang tengah sampe pucuk, warnanya merah jambu rada mudaan. Tapi kalo udah tua, sih, warnanya berubah jadi cokelat.

Atau kastuba. Ini lebih aneh lagi. Awalnya dia terlahir sebagai daun. Tambah umurnya, dia berubah jadi bunga. Dari warna ijo jadi warna merah.

Beberapa daun taneman hias juga punya beragam motif. Ada yang bintik-bintik putih, ada yang garis-garis, ada yang bagian pinggirnya ijo tua tapi makin ke tengah makin muda. Bentuknya juga beragam. Ada yang bergelombang, meruncing, menjari, rada bunder, tepinya runcing-runcing, panjang. Ada yang kecil-kecil, ada yang gede-gede juga.

Sama kayak bunga. Beda bentuk, beda warna, beda baunya juga. Dan semua itu terjadi karena banyak faktor. Ada yang warnanya berubah karena pengaruh sinar matahari, usia, atau karena dia emang ditakdirkan buat berubah warna.

Apakah ada yang pernah protes dengan keanekaragaman kayak gitu?

Kayaknya nggak ada, deh. Setauku, orang-orang malah suka dengan keunikan daun-daun. Saking sukanya, ada yang sampe ngoleksi macem-macem taneman hias kayak yang pernah booming belasan taun lalu. Aku juga kemakan tren itu.

Ada juga yang nggak peduli dengan penampilan. Tapi care banget sama khasiatnya. Orang yang kayak gini biasanya nanem taneman obat (toga) atau taneman pangan. Kayak aku sekarang. Aku nggak berminat nanem taneman hias lagi. Aku sekarang lebih ngedepanin fungsi. Kalo taneman hiasnya cuma buat estetika-estetikaan aja, kemungkinan besar nggak bakalan kupilih. Tapi kalo ada khasiat pangan atau obat, boleh, tuh, ditanem di kebunku.

Semua tergantung selera dan kebutuhan masing-masing orang. Dan nggak semua daun harus punya warna yang sama. Nggak semua orang harus berbuat yang sama juga. Beda-beda juga bisa keliatan menarik, kok.

Posted in thoughts | Leave a comment

Terang Bulan di Atas Hujan

Ia hendak menolong hujan menelusuri malam
Menyelinap di antara lalu lalang kendaraan
Mericik di antara deru dan klakson
Mengalir di jendela-jendela yang terkatup rapat

Bulan menjadi saksi hujan
yang kepayahan menemuimu
Yang bahagia melihatmu
meski
wajahmu membeku
di bawah payung yang terkembang

Posted in poem | Leave a comment