Kemarau di Kebunku

Tak ada benih untuk ditanam
Di dalam pot hanya ada sisa-sisa tangkai bayam brazil, kemangi, dan singkong
yang tumbuh dalam ancaman layu
Pitaya, adenium, melati, dan sansevieria,
semoga mereka mampu bertahan hingga musim berikutnya

Keluarga kepik mungkin sudah kembali ke kampung halaman mereka
Negeri Senja merayakan kemerdekaannya dari sergapan mendung
Tak ada yang lebih indah dari matahari terbenam dan langit yang hangat

Kebunku sepi di bawah matahari yang terik
Bahkan rumput-rumput tak berdaya meniru liukan angin
Atau dahaga akan kian tekun mengisap sisa air di akar
Sementara awan kehabisan hujan

Ada seekor kupu-kupu bersayap putih
Terbang di sela-sela rimbun daun kemangi lalu beralih ke tanaman lain
Sebab lebah-lebah sudah lebih dulu mengisap nektar
Dan seekor kadal mengintai di balik batu

Kupu-kupu itu belingsatan
Tak kerasan menghinggapi berbagai daun dan bunga di kebunku
Kaki-kakinya tak mampu menginjak daun-daun yang panas laksana bara

Aku juga tak bisa berlama-lama di sini
Meski rumah memberiku hangat berlebih
Kepalaku adalah sebongkah besi yang menghantar panas hingga mencapai sel darah dalam tubuhku

Dan seperti halnya musim hujan yang mereka genangan air di jalan, yang menghambat kakiku untuk melangkah
Musim ini pun aku tak dapat menjejak tanah dengan leluasa
Rasanya, lebih baik kubenamkan kakiku ke dalam sebaskom air

Padahal kemarau baru saja dimulai

Posted in poem | Leave a comment

Ngecrek

Kalo ujan turun nggak henti-henti,
aku khawatir jalan bakal banjir,
jemuran nggak kering dan aku kehabisan pakaian.
Belum lagi atap bocor di sana-sini,
bunga-bunga rontok dari tangkainya,
dan sumur meluap.

Nggak ada yang lebih menyenangkan
dari langit yang cerah,
dengan matahari yang bersinar hangat.
Hatiku damai dan tenang.
Kayak angin sepoi-sepoi yang nyapa daun yang jatuh dengan santun.
Kayak senja yang pelan-pelan pamit karena malem udah dateng.

Mungkin aku bakal ngalamin hari yang cerah itu nanti.
Dan aku nggak perlu khawatir jalan bakal banjir.
Debu bakal ngerangkul kakiku dengan penuh rindu,
kulitku bakal ngerasain lagi pakaian yang anget alami, bukan karena setrikaan,
atap yang bocor bakal ngebiarin cahaya matahari menyusup buat nambah penerangan di dalem rumah,
bunga-bunga bakal mekar dengan bangga di atas tangkainya,
dan sumur bakal nyimpen airnya dalem-dalem biar jadi harta karun yang terus dicari.

Nanti.
Kalo ujan udah abis stoknya.

Posted in poem | Leave a comment

Berbagi Lahan

Kalau aku amatin lagi rumpun bayem brazil di luar pager, ada keistimewaan yang dia kasih buat sesama tanaman ciptaan Tuhan.

Kami emang niat mau ngisi kekosongan lahan di pinggir jalan biar nggak ditumbuhin ilalang. Sebenernya, dewasa ini ilalang nggak bisa dipandang sebelah mata. Selain akarnya berkhasiat buat obat, ilalang bisa ngasih nilai estetik juga. Mereka bisa dibiarin tumbuh di halaman buat ngasih spot yang Instagramable.

Tapi buat kami sejauh ini, ilalang adalah gulma. Keberadaannya di lahan pinggir jalan malah ngasih kesan suram dan nggak terawat terhadap tempat tinggal kami. Apalagi, rumah yang kami tempati juga jauh dari kesan bagus.

Continue reading
Posted in thoughts | Tagged | Leave a comment

Serupa Dandelion

Ujan masih sering turun di Surabaya. Rencana buat ngerapiin bayem brazil di kebun di luar pager jadi urung terus. Padahal, bayem brazilnya udah pada gondrong dan banyak rumput yang bersaing nyempil di antara rumpun bayem brazil itu. Anak-anak sansevieria yang juga udah tumbuh, jadi kesalip sama bayem brazil dan rumput-rumput itu. Nggak enak banget, deh, diliatnya.

Salah satu jenis rumput yang nyempil itu adalah… nggak tau namanya apa. Aku bukan ahli perumputan. Cuma karena sehari-hari liat rumput, bahkan sejak masih tinggal di Cicalengka, jadi udah familier sama wujud-wujud mereka. Beberapa ada yang aku tau namanya, sih. Tapi sebagian besarnya nggak.

Rumput yang aku nggak tau namanya itu tangkainya jenjang. Daunnya nggak menyirip, nggak menjari, tapi juga nggak membunder. Biasa aja, sih, nggak ada yang aneh. Tapi bunganya mirip dandelion dalam versi mungil. Continue reading

Posted in thoughts | Tagged , | Leave a comment

Waktu Rumah Lagi Gelap

“Kalau di rumah lagi gelap, liat aja jendela.”

Kira-kira kayak gitu pesan mama mertuaku, yang diceritain sama anaknya, alias paksu. Suatu malem, pernah listrik mati di rumah kami aja. Bener-bener nggak ada cahaya selain dari senter gawai atau lilin. Sempat iri juga waktu liat rumah-rumah tetangga terkesan anget dengan lampu-lampunya yang menyala.

Anak-anak sempet tertegun waktu kami keluar dan liat langit lumayan terang. Padahal bulan cuma separuh. Bintang ada banyak, sih. Tapi dengan jaraknya yang jauh dan bikin ukurannya keliatan kecil banget, kayaknya bukan itu yang bikin langit keliatan terang. Pasti ada penyebab lain.

Continue reading

Posted in diary | Tagged | Leave a comment