Mendaki Everest

Saya baru selesai nonton Everest, sebuah film tentang pendakian ke Puncak Everest. Filmnya udah lama dirilis. Bolak-balik wara-wiri di Prime Video juga. Cuma, saya baru tertarik nontonnya sekarang.

Gunung Everest itu tertinggi sedunia. Banyak pendaki yang berusaha menaklukkannya, tapi banyak juga yang meregang nyawa sebelum mencapai puncaknya. Itu gunung dinginnya nggak ada obat. Kebangetan.

Saking tingginya, salju sampe nutupin gunung itu. Nggak cuman puncaknya, tapi juga dari bawah-bawahnya. Para pendaki dalam film Everest berusaha bertahan hidup dengan kadar oksigen dalam tabung yang sangat terbatas. Belum lagi badai salju bolak-balik menerjang mereka.

Film ini sebenernya nggak menegangkan banget, sih. Tapi saya jadi ngebayangin gimana mencekamnya suasana menuju puncak tertinggi di dunia itu. Para pendaki itu harus mastiin temen-temen mereka selamat. Tapi mereka juga harus ngejaga diri mereka sendiri. Kalo ada yang tumbang, repot nyelametinnya. Continue reading

Posted in thoughts | Leave a comment

Silent as The Mountain

So many nights
I think about what everybody thinks
I never think about.
I always have a million words
But I never say them to the people,
Because of what they’re gonna think
About it.

So I talk to my garden.
I tell the leaves what I think of.
I show the sky how I feel,
Because I believe in them.

My garden will bury my sentences
In the ground.
Leaves will never overthink what I say,
And the sky will answer
With sunshine or rain.

I’m never afraid of nature.
It has mouth,
It has words
So much more than I do,
But it knows how to speak better.

Sometimes,
By the falling of the snow,
Sometimes,
By the singing of the birds,
And sometimes,
By coloring the plants with flowers,

Or,
Sometimes,
Just staying silent
As the mountain.

Posted in poem | Leave a comment

Kenapa Cabe di Kebunku Rasanya Pedes?

Di antara taneman-taneman yang gagal tumbuh di kebun kami, kayaknya cuma taneman cabe, deh, yang perjuangannya paling berat. Kami nanem dari bijinya. Waktu keliatan tunasnya, kami seneng banget karena ada harepan buat si biji cabe itu tumbuh jadi taneman. Soalnya bonggol sawi dan letus tewas sehari setelah direndem di dalem sebotol air. Bawang putih sempet ngeluarin akarnya, tapi malah membusuk.

Nanem empon-empon juga pernah. Kunyit cuma ngasilin daun yang lebar, tapi umbinya kecil banget. Sama kayak singkokng. Kencur malah membusuk di dalem pot. Dan nggak tau apa lagi, deh, yang gagal tumbuh di kebun kami.

Yang sukses berbuah juga ada, yaitu tomat. Waktu buahnya masih ijo-ijo, nggak langsung kita petik. Sengaja biar beneran mateng di pohon. Eh, nggak taunya pas udah merah, buah tomat itu dimakan tikus.

Paksu pernah beli bibit cabe yang berupa biji. Kami berdua ngikutin prosedur yang dijelasin di kemasannya. Di situ disebutin kalo bijinya musti direndem dulu sebelum disemai. Sebagai petani amatiran, kamu patuhin semua instruksinya.

Continue reading

Posted in thoughts | Leave a comment

When I’m Sad

When I’m sad,
I ask myself,
Am I really sad?
Or is it just my mind that drives me into sadness?
Because the sky still stands when the sun leaves it
Night is only a color of darkness that without it
The moon won’t be seen

So, when I’m sad,
I go to my garden
Looking for small things to observe
There are many wonderful living things I’ve never known before
Or,
I have seen
But,
I forgot how they live through many years full of emotions
And how they keep existing though they grow into new generations

The old things may have passed away
But they come again into a new thing

So, what do I mean by sadness?
Am I really sad?
Or,
Is it just my mind that drives me away from happiness?

Posted in poem | Leave a comment

Senja

Bukannya tak bisa bicara
Tetapi ia memilih menyimpan kata-kata
Ketika tahu ia tak bisa memiliki jingga selamanya

Dan ia memutuskan untuk menahan rindu
Bukan tak ingin mengentas sendu
Tetapi agar ada alasan untuk kembali menemui rona itu

Posted in poem | Leave a comment