Menjelang Tengah Bulan

Udah mau tengah bulan lagi. Perasaan baru kemarin liat bulan baru lahir. Sekarang, dia udah mau gede aja.

Biarpun belum bulat sempurna, cahaya bulan malam ini cukup terang di angkasa malam. Bulan ngerti, sampe kapan pun dia nggak bakal bisa nyentuh bumi. Ada garis orbit yang ngejaga dia supaya nggak ngegelinding ke mana-mana.

Bulan cuman bisa mandang bumi dari jauh. Dalam jaraknya yang luar biasa renggang itu, bulan nggak nyerah ngasih yang terbaik darinya. Dia sengaja minjem cahaya matahari banyak-banyak malam ini. Bukan buat nunjukkin kecantikan atau nutupin kekurangannya. Tapi buat ngasih kekuatan buat bumi biar mampu ngelewatin malam.

Posted in diary | Leave a comment

Between Summer and Winter

Between summer and winter, the trees sway,
Shedding red leaves, burnt after playing with fire.
The sun begins to shine lazily,
Rising late and setting early.
The afternoon slips by,
As if morning is greeted only by night.
And the trees, abandoned by their leaves, grow lonely,
Pierce the clouds with their sharp branches until they feel pain.
The rain falls in fits and starts,
Revealing the pain without wanting to seem weak,
Bringing a chill in the air.
Each drop’s biting through the skin,
Bringing cold all winter long.

Posted in poem | Leave a comment

Kuharap Dandelion Tak Pernah Melupakanku

Aku berharap dandelion tak pernah melupakanku. Aku yang menunggu mereka berbunga dan berubah warna jadi kuning, menahan mereka supaya bergeming saat diajak angin untuk mengembara di udara.

Tapi perpisahan itu datang juga. Waktuku bersama mereka telah usai. Dan angin melepaskan benih mereka satu per satu dari tunasnya. Mereka terbang berbaris, meliuk-liuk laksana rangkaian kereta api menelusuri sawah dan ladang.

Tak ada yang dapat membawa mereka kembali ke padang ini. Bahkan seekor semut yang ikut bersama mereka, memeluk benihnya seperti terbang mengenakan payung, memilih untuk terjun.

Aku berharap dandelion tak pernah melupakanku. Telah kusertakan kebahagiaanku dalam jiwa mereka. Kebahagiaan yang muncul saat kami duduk bersama, merasakan gerimis di antara dingin yang tak dapat dielak, merasakan hangatnya matahari di antara terik yang menyengat.

Aku berharap ini bukan perpisahan. Kami hanya menempuh perjalanan yang berbeda. Dan ingatan akan membawa kami pada pertemuan yang baru.

Posted in thoughts | Leave a comment

The Real Sadness

Dear rose,
every flower in this world has its own beauty,
and butterflies have their reasons to love you or not.
If one day you lose the butterfly you love
simply because you have thorns and
he thinks it will rip his wings out,
don’t ask him to return.
You don’t need to be sad.
That’s not your sadness.
It’s the sadness of the butterfly that
ignored the flower who loved him.
Keep blooming, for you are happy in loving.

Posted in poem | Leave a comment

Sepucuk Surat untuk Matahari Pagi

Selamat pagi, matahari pagi tersayang,
yang malu-malu menemui bumi dari celah bukit.
Sepertinya dunia akan sama seperti kemarin.
Bunga-bunga mekar dan layu,
ulat-ulat bermetamorfosa dan hijrah,
semut-semut berbaris dan
saling mengendus satu sama lain.

Terima kasih untuk tadi malam,
untuk menyinari bulan sehingga
tampak jelas di langit gelap.
Mimpimu membuatnya mempesona
dan tak ada yang mengalahkan kecantikannya.
Bahkan bintang-bintang lain hanya mampu menitik.
Noktah-noktah yang tak sebanding
dengan luasnya angkasa.

Terima kasih untuk sudi kembali bersinar
sampai nanti petang.
Walau mungkin awan menurunkan hujan
dan pelitamu membeku,
atau cahayamu dibelokkan hingga menjadi pelangi.

Orang-orang bisa berkata apa saja tentangmu
Yang mungkin membuatmu terbenam lebih cepat.
Tetapi tugasmu adalah berpijar,
bukan menanggapi kata-kata mereka.

Jadi, bersinarlah.
Terlihat atau tidak,
terik atau lemah,
siang atau malam.

Posted in poem | Leave a comment