Mencari Pemuja Oksigen

“Pemuja Osigen”

Penulis: Brahmanto Anindito

Jenis: Novel

Tebal: 390 halaman

Penerbit: JP Books

 

 

Kepadatan penduduk. Polusi. Dua masalah yang dihadapi bumi sekarang. Bertambahnya penduduk membuat bumi harus tunduk. Direlakannya lahan yang masih kosong untuk dijadikan perumahan dan pabrik. Lalu demi mengangkut semua kebutuhan manusia, dibuatlah jalan raya. Transportasi bergerak di bawah komando manusia. Menciptakan polusi. Akibatnya, bumi kian sesak dengan banyaknya penduduk dan udara kotor. Sebagai solusi, diciptakanlah teknologi fusi, yang menggabungkan beberapa manusia menjadi satu. Tujuannya tak pelak lagi: mengurangi kepadatan penduduk.

Inilah yang menjadi latar belakang cerita Pemuja Oksigen, novel pertama Brahmanto Anindito.  Cerita bermula ketika suatu malam motor butut Rimba Bonaventura dirampok oleh sekelompok orang yang disinyalir merupakan anggota Laba-laba Bumi, sebuah organisasi pecinta lingkungan yang ekstrem. Mereka merampas motor-motor butut yang dinilai menjadi biang polusi. Di malam yang sama, handphone Rimba yang rusak gara-gara perampokan itu masih bisa menerima panggilan dari sebuah nomor tak dikenal.

Mulanya hanya suara kresek kresek yang terdengar. Tapi beberapa hari kemudian ketika panggilan itu muncul lagi, terdengar suara seorang perempuan, menawarkan teknologi fusi. Semula Rimba tidak menggubris tawaran tersebut. Namun setelah mengalami hari yang naas, akhirnya Rimba memutuskan untuk menerima tawaran berfusi bersama ketiga sahabatnya: Rino, Sarip dan Nur.

Jadilah keempat sekawan itu makhluk fusi. Empat nyawa dalam satu tubuh. Bersama-sama mereka mencoba menguak dalang di balik teknologi fusi itu. Menjadi makhluk fusi tidaklah mudah. Tapi karena terlanjur difusi, Rimba dan kawan-kawan pun harus menerima berbagai macam risiko. Salah satunya tidak dikenal orang-orang yang mereka cinta. Tujuan teknologi fusi pun tidak terlaksana. Yang ada malah bencana.

Ketika melihat sampulnya, saya pikir Pemuja Oksigen adalah cerita misteri. Membaca bukunya sama dengan mengetahui wajah siapa yang ditutup masker hitam yang menjadi ilustrasi sampul. Perampokan motor, teknologi fusi, perempuan misterius yang menawarkan teknologi fusi pada Rimba, semuanya adalah bagian cerita yang memberikan kesan misteri pada novel ini. Rimba dan kawan-kawan memang berupaya membongkar semua misteri itu. Namun sepanjang mengikuti perjalanan mereka, saya merasa ceritanya kurang greget. Kurang bikin penasaran dan deg-degan sebagaimana cerita misteri atau detektif.

Masalahnya, saya kira, ada pada terlalu lamanya penulis mendeskripsikan suka-dukanya menjadi makhluk fusi. Terlalu panjang. Di bab-bab awal, ceritanya mendebarkan. Tetapi memasuki bab-bab tengah, grafik mendebarkannya mulai menurun. Saya terlena dengan drama persahabatan Rimba dan kawan-kawan yang loyal sehingga mereka mau saja difusi, bersatu sampai mati.

Andai saja porsi Rimba dan kawan-kawan dalam membongkar misteri sang pemuja oksigen lebih banyak, saya pasti akan sering deg-degan ketika membacanya. Selain itu, novel ini pun akan menjadi cerita detektif atau misteri yang mengasyikkan dan membuat pembaca semakin penasaran akan kelanjutan cerita.

Namun, menyenangkan juga mengikuti kisah persahabatan keempat laki-laki ini. Tokoh-tokohnya tidak banyak melamun, melainkan banyak beraksi. Setting tempatnya juga riil, bukan rekaan. Begitu juga dengan peristiwa-peristiwa pendukungnya seperti hari bumi sedunia yang diperingati tanggal 22 April, pembangunan jembatan Suramadu, tsunami di Aceh 26 Desember 2004. Ini membuat cerita Pemuja Oksigen terkesan dekat dengan kenyataan.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.