Puisi Tak Kasat Mata

Kadang, puisiku tak terdengar
Ia menelan suaranya sendiri dalam ingar
Atau menyaru dalam samar

Tak perlu kaucari di mana kuletakkan diksi-diksi
Benakku mampu berfungsi sebagai laci
Di dalamnya sarat puisi yang sengaja tak kubagi

Banyak bait yang kupeluk diam-diam
Tak semua lara layak dipajang
Dan tak semua tawa pantas diperlihatkan

Huruf-hurufku memilih tinggal dalam sunyi
Tetapi mungkin suatu hari nanti,
puisi itu menampakkan diri
di ujung jalan yang tanpa sengaja kau lalui

Melukis Musim

November telah tiba
Langit digelayuti mendung
Hujan bersiap turun
Waktu berjalan memikul beban

Tapi bagiku, ini adalah Mei
Daun-daun bersemi layaknya bunga
Derai hujan sehangat pancaran matahari

Di trotoar, orang-orang mengeluh tentang cuaca yang tak tentu
Di rumah, aku melukis musim sekehendakku
Menyapukan badai dan pelangi bergantian tanpa ragu

Kaktus

Aku selalu khawatir jika musim kemarau datang
Sumur akan kering dan kebunku akan mati

Aku memandang tapak dara dengan iba
Dia baru saja melahirkan bunga pertamanya
tetapi harus menghadapi teriknya matahari

Tak seperti kaktus yang tegar berdiri
Tak gentar menghadapi pergantian musim

Aku harus belajar darinya
yang tahu bagaimana menyimpan air
Hingga tak perlu lagi aku bertanya
kapan hujan akan datang lagi

Setelah Musik Usai

Musik berhenti berputar
Syair nostalgia berakhir jua
Ingar bingar sudah padam
Pesta telah usai

Maka, dengarlah tutur sungai
Mengalirkan kisah dengan deras
di telinga bebatuan
tentang mimpinya akan laut

Andai musik itu kembali mengalun, biar saja
Jadilah sungai yang patuh pada arus
Betapapun sakitnya jatuh di air terjun
atau pekatnya lumut yang ikut hanyut

Lukisan Bisu

Hujan turun tak membawa suara
Genting mendamba rintik
Namun hujan memilih membasahi tanah saja
Menyimpan rahasia di dalam akar

Akankah nanti tumbuh jadi kisah?
Ataukah waktu membawanya menuju sungai?

Hujan tak membawa dingin
Selimutku hangat karena wol, bukan cerita
Aku meringkuk sebab tak ada lagi yang bisa kuperbuat
Bolpoinku telah kering
Kertas putih mati karena rindu
Jendela kamarku: lukisan bisu

Hayooo... Mau apa?