250625

Tak selamanya hujan datang bersama gaduh
Kadang ia turun menahan gemuruh
Bukan untuk meluruhkan sunyi
Melainkan sekadar membasahi

Seperti bulan yang muncul di balik jelaga
Memantulkan cahaya bukan untuk menyilaukan
Hanya ingin menyampaikan pesan
Bahwa dalam gelap pun, cahaya kecil bisa kau temukan

Sering aku bertanya-tanya,
Apa yang disimpan hujan dalam butirnya?
Bagaimana rupa bulan yang tak pernah sampai ke mataku?

Tapi, apakah segalanya harus tampak?
Mungkin tidak
Selalu ada maksud yang memilih tak dikenali
Jika pun akhirnya kau tahu,
Biarlah rahasia itu tetap tinggal dalam sunyimu sendiri

Juni

Juni
Hujan masih menjejak bumi
Tanah basah
Bunga-bunga menganga
Akar terus berdenyut
Janin pohon tetap hidup
Kalender cuma melekat di dinding
Tak mampu mengendalikan musim

purnama

perlahan, ia menjauh dari matahari
setelah semalam jadi primadona
berkilau, menantang gelap

di balik rimbun pohon, ia mengintip
jika sudah tampak kening sang surya,
ia harus mengambil sejumput awan
untuk menyeka wajahnya hingga pucat
lalu menyaru dalam biru

nanti, begitu senja menutup langit
dan sang surya merengkuh cakrawala,
ia akan naik lagi
ke atas pentas gemerlap bintang
berbekal kilau yang gugur bersama angin malam

tiga malam, ia merasa lengkap
sampai kalender memanggilnya pulang
hari-hari yang ditakar jam, menit, dan detik
telah disiapkan untuknya
sebelum wajahnya kembali penuh

Terang Bulan di Atas Hujan

Ia hendak menolong hujan menelusuri malam
Menyelinap di antara lalu lalang kendaraan
Mericik di antara deru dan klakson
Mengalir di jendela-jendela yang terkatup rapat

Bulan menjadi saksi hujan
yang kepayahan menemuimu
Yang bahagia melihatmu
meski
wajahmu membeku
di bawah payung yang terkembang