Category Archives: poem

Puisi Air Mata

Kerap aku bertanya padaku sendiri, ke mana air mata bunga mengalir ketika ia dipisahkan dari tangkainya? Lalu aku tertegun saat menyadari, bahwa air mataku tak pernah menitik dan mengalir. Kesedihanku adalah puisi yang kutulis di atas kertas.

Posted in poem | Leave a comment

Memungut Gerimis

Aku kembali ke kebunku memungut gerimis Kemarau sebentar lagi tiba dan aku harus mengisi kertasku dengan sisa-sisa aksara yang tertinggal di rimbun daun sebelum terik meneguk ilham Terlalu lama aku terlena hujan deras Meringkuk dilingkup hawa dingin Hujan pun berlalu … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Lapang (2)

Menjadi lapang tak berarti hampa Berlapis-lapis debu menggelar kehadirannya Matamulah yang tak mampu melihat Tak seperti kulit arimu yang begitu peka Serasah tak lagi menyimpan hujan Percikkan saja api dan lihat bagaimana bara bekerja Menghanguskan klorofil yang tersisa Menciptakan lelatu … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Kalau Hujan Sudah Reda

Kalau hujan sudah reda teh ini tak lagi hangat Uap jadi embun berleleran di jendela Ilusi mencair ke dalam genangan berlumpur Hujan telah menyatu dengan tanah Tetapi masih kudengar rintik jatuh dari tepi atap Masih terbayang aroma petrikor berkelebat di … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Malamku tanpa Tidur

Hening mengantar detak jam pada telingaku Lampu sudah lelap mengalirkan terang pada khayalku Di luar sana, pitaya menyerahkan mahkotanya pada ngengat Percintaan diam-diam di bawah kesaksian bulan Di ujung malam rahasia terkuak bersama gelap yang luntur perlahan Mungkin seperti inilah … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment