Category Archives: poem

Memungut Gerimis

Aku kembali ke kebunku memungut gerimis Kemarau sebentar lagi tiba dan aku harus mengisi kertasku dengan sisa-sisa aksara yang tertinggal di rimbun daun sebelum terik meneguk ilham Terlalu lama aku terlena hujan deras Meringkuk dilingkup hawa dingin Hujan pun berlalu … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Lapang (2)

Menjadi lapang tak berarti hampa Berlapis-lapis debu menggelar kehadirannya Matamulah yang tak mampu melihat Tak seperti kulit arimu yang begitu peka Serasah tak lagi menyimpan hujan Percikkan saja api dan lihat bagaimana bara bekerja Menghanguskan klorofil yang tersisa Menciptakan lelatu … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Kalau Hujan Sudah Reda

Kalau hujan sudah reda teh ini tak lagi hangat Uap jadi embun berleleran di jendela Ilusi mencair ke dalam genangan berlumpur Hujan telah menyatu dengan tanah Tetapi masih kudengar rintik jatuh dari tepi atap Masih terbayang aroma petrikor berkelebat di … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Malamku tanpa Tidur

Hening mengantar detak jam pada telingaku Lampu sudah lelap mengalirkan terang pada khayalku Di luar sana, pitaya menyerahkan mahkotanya pada ngengat Percintaan diam-diam di bawah kesaksian bulan Di ujung malam rahasia terkuak bersama gelap yang luntur perlahan Mungkin seperti inilah … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Jalan Pulang

Tak ada cara untuk kembali ke masa lalu Sungai dalam perjalanan menuju laut Trembesi tumbuh menjulang, menuju langit Kupu-kupu tak akan menjadi ulat lagi Tetapi masih ada jalan untuk pulang ke dalam batinku Angin menyapu debu yang melapisi jalan Kemarau … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment