Kerap aku bertanya padaku sendiri, ke mana air mata bunga mengalir ketika ia dipisahkan dari tangkainya?
Lalu aku tertegun saat menyadari, bahwa air mataku tak pernah menitik dan mengalir. Kesedihanku adalah puisi yang kutulis di atas kertas.
Kerap aku bertanya padaku sendiri, ke mana air mata bunga mengalir ketika ia dipisahkan dari tangkainya?
Lalu aku tertegun saat menyadari, bahwa air mataku tak pernah menitik dan mengalir. Kesedihanku adalah puisi yang kutulis di atas kertas.
Aku kembali ke kebunku
memungut gerimis
Kemarau sebentar lagi tiba
dan aku harus mengisi kertasku
dengan sisa-sisa aksara
yang tertinggal di rimbun daun
sebelum terik meneguk ilham
Terlalu lama aku terlena hujan deras
Meringkuk dilingkup hawa dingin
Hujan pun berlalu dalam sungai
Sekarang tinggal gerimis
Danau pun menyusut
Bulan akan kehilangan cermin
Aku kehilangan puisi
Menjadi lapang tak berarti hampa
Berlapis-lapis debu menggelar kehadirannya
Matamulah yang tak mampu melihat
Tak seperti kulit arimu yang begitu peka
Serasah tak lagi menyimpan hujan
Percikkan saja api dan lihat bagaimana bara bekerja
Menghanguskan klorofil yang tersisa
Menciptakan lelatu yang fana
Apa yang sesungguhnya dibawa angin
hingga ia mampu berembus?
Apa yang sejatinya disimpan gurun
hingga ia bertahan dalam tandus?
Tak ada
Maka,
lepaskan saja
Toh, hari esok masih ada
Menjadi sepi tak berarti sunyi
Suara-suara di dalam kepalamu tetap bernyanyi
Dan puisi akan tetap melantunkan diksi
tanpa mengenal basi
Kalau hujan sudah reda
teh ini tak lagi hangat
Uap jadi embun
berleleran di jendela
Ilusi mencair
ke dalam genangan berlumpur
Hujan telah menyatu
dengan tanah
Tetapi masih kudengar rintik
jatuh dari tepi atap
Masih terbayang aroma petrikor
berkelebat di sela bau matahari
Kemarau sebentar lagi mengambil sisa hujan
di ujung sayap burung
Menjadikannya alasan untuk kembali terbang tinggi
Ringan kepak membimbingnya dari pohon ke pohon
Dan aku mengambil carik kertas yang baru
Luka tak harus menjadi hitam
Cerita tetap mengalir layaknya angin
Meski hujan sudah reda
Hening mengantar detak jam
pada telingaku
Lampu sudah lelap
mengalirkan terang pada khayalku
Di luar sana,
pitaya menyerahkan mahkotanya
pada ngengat
Percintaan diam-diam
di bawah kesaksian bulan
Di ujung malam
rahasia terkuak
bersama gelap yang luntur
perlahan
Mungkin seperti inilah
kehidupan dimulai
Matahari lahir dari rahim timur
Binar menyingkap langit
Bahasa bangkit dalam siul burung
Helai demi helai daun bangun
Menjatuhkan embun yang bermalam
di permukaannya
Pagi akan bergeser jadi siang
Menyalakan terang
Memantik riuh
Dibutuhkan petang untuk kusadari
Matahari tak lahir untuk sia-sia
Ia akan mengulangi kelahirannya
setiap hari
Hayooo... Mau apa?