Rumput buat Papa

Papa suka rumput
Tanpa rumput,
papa cuma akan berbaring di kasur
atau menonton televisi
sampai matanya berkunang-kunang

Papa sayang sekali pada rumput
dan tidak suka kalau mereka gondrong
Karena itu papa selalu memotong rumput
sampai rapi
seperti memotong rambut anak lelakinya

Sekarang papa tidak lagi bermain dengan rumput
Tidak juga berbaring di kasur
atau menonton televisi sampai matanya berkunang-kunang

Papa sekarang ada di langit
Saban pagi dan sore,
papa suka menyiram halaman rumah
sampai rumput tumbuh setinggi lutut

Papa tahu aku tidak suka rumput
Ia suka mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar
dan berkata padaku,
“Cintailah rumput. Kelak, mereka akan memberi arti bagimu.”

Aku selalu heran,
kenapa papa selalu menyuruhku melakukan
sesuatu yang tidak aku suka?
Aku tidak suka rumput,
tapi papa malah menyuruhku mencintai mereka

Barangkali
karena aku tidak mengabulkan permintaannya,
papa marah
Papa tak pernah lagi menyiram tanah
Rumput pun tidak ada yang tumbuh
di pekarangan rumah

Aku kangen papa dan rumput
Kulihat rumput di rumah tetangga tumbuh subur
Kucabut beberapa jumput dan
kutanam mereka di dalam kepala
“Papa, aku menanam rumput di kepalaku,”
beritahuku pada papa

Papa tampaknya senang karena akhirnya
aku mencintai rumput
bahkan menanamnya di dalam kepala
Karena itu papa menyiram kepalaku
Mungkin supaya rumput di kepalaku tumbuh subur

Jika rumput di kepalaku tumbuh subur,
aku akan memberikannya buat papa

Sajak Bunga dan Hujan

I
Bunga yang masih kuncup juga mampu merasakan tetes hujan
Andaikan kelopak menutup, ia akan merasakan percikannya di dahan
Lalu saat hujan berhenti, ia akan mekar keesokan harinya
Sebab hujan berganti jadi matahari yang membangunkan semesta dari tidur nyenyak

II
Bunga yang sudah mekar pun selalu mendamba hujan
Ia selalu ingat saat masih kuncup dan percikan hujan yang pertama kali ia rasakan
Hujan yang kemudian mengalir ke seluruh bagian tanaman
Hujan yang menjadikannya bunga yang indah