Tak seperti bocah kebanyakan,
hujan adalah anak yang mandiri.
Setelah dilahirkan awan,
ia tidak menangis ataupun minta menyusu.
Tidak pula seperti burung
yang harus belajar terbang dan diberi makan.
Category Archives: poem
Hai, Hujan!
Hai, Hujan!
Mataku seketika merekah saat petrikor berbisik bahwa kau datang.
Secepat rinaimu meninggalkan awan,
aku pun bergegas meninggalkan ranjang.
Hanya untuk melihatmu mengantar basah menembus tanah.
Seperti jarum yang mengantar benang menembus kain yang membentang.
Matahari belum juga melipat kelam.
Sementara bulan teronggok pasrah dalam remang.
Cahayanya tak lagi menyentuh pekarangan.
Aku tahu, kau tak sanggup lagi menahan rindu pada kebunku.
Pada daun-daun yang risau akan layu,
pada bunga-bunga yang tak sabar memberi warna dan wangi tubuh mereka untukmu.
Percikmu adalah kelakar yang mereka tunggu
setelah tanah yang mereka diami diempas tandus.
Ah, apalah artinya kebun tanpamu?
Ada kehidupan yang kau antar dalam setiap tetesmu.
Ditampung oleh bunga-bunga yang mekar,
yang kemudian mereka teruskan kepada akar.
Semoga tak ada luka dalam setiap rintik yang kaujatuhkan.
Sebab jika ada, maka perihmu akan menjadi lara bagi semua insan.
Selamat datang kembali di bumi.
Selamat menari bersama angin.
Dan selamat bernyanyi kembali di atas genting.
Kaca
Serpihan kaca yang berserak di atas tanah
Berkilau ditempa pelita
Sudutnya yang tajam membuatku waspada
Kaca akan melukai jika ia terluka
Tak Ada Hujan Hari Ini
Hari ini tidak ada hujan
Awan tidak menangisi apa-apa
Jalanan gersang
Debu melayang
Angin bertiup hampa
Bunga layu, menyisakan kenangan akan keindahan
Langkahmu berhenti
Masih adakah yang akan kaumaknai?
Sebab bumi menjadi sepi
Ketika kata-katamu menepi
Penamu tak lagi alirkan aksara
Bait-baitmu akan menjadi kekal
Hujan akan datang lain kala
#ripsapardidjokodamono
Cermin
cermin tak pernah bilang aku cantik
juga tak pernah bilang aku jelek
aku jadi tak tahu bagaimana rupaku
cermin tak pernah bilang apa-apa
bahkan jika aku sedang bersolek
kutaburkan bedak, eye shadow, lipstik,
blush on, maskara sekenanya
lalu orang-orang mengolok-olok
mereka bilang mukaku kayak habis kejedot tembok
aku menangis
cermin jahat, tak beritahu aku
kuhapus riasan
wajahku polos seperti baru bangun tidur
lalu orangorang meledek
mereka bilang mukaku jelek
aku menangis lagi
ah, cermin
tak bisakah kau beritahu, aku cantik atau jelek?
tak peduli seberapa banyak air mataku
cermin hanya menghadirkan wajahku
yang entah cantik atau jelek