Ngecrek

Kalo ujan turun nggak henti-henti,
aku khawatir jalan bakal banjir,
jemuran nggak kering dan aku kehabisan pakaian.
Belum lagi atap bocor di sana-sini,
bunga-bunga rontok dari tangkainya,
dan sumur meluap.

Nggak ada yang lebih menyenangkan
dari langit yang cerah,
dengan matahari yang bersinar hangat.
Hatiku damai dan tenang.
Kayak angin sepoi-sepoi yang nyapa daun yang jatuh dengan santun.
Kayak senja yang pelan-pelan pamit karena malem udah dateng.

Mungkin aku bakal ngalamin hari yang cerah itu nanti.
Dan aku nggak perlu khawatir jalan bakal banjir.
Debu bakal ngerangkul kakiku dengan penuh rindu,
kulitku bakal ngerasain lagi pakaian yang anget alami, bukan karena setrikaan,
atap yang bocor bakal ngebiarin cahaya matahari menyusup buat nambah penerangan di dalem rumah,
bunga-bunga bakal mekar dengan bangga di atas tangkainya,
dan sumur bakal nyimpen airnya dalem-dalem biar jadi harta karun yang terus dicari.

Nanti.
Kalo ujan udah abis stoknya.

Lapang

Di balik awan yang kelabu,
ada langit biru dengan matahari
yang terus membakar dirinya
demi menyebarkan pelita pada semesta.
Ketika gumpalan awan
menghadang jalan hantarnya,
hatimulah yang perlu kaulapangkan
untuk bisa menampung rintik hujan
yang melimpah.
Kelak, kau akan menemukan cara
untuk mengalirkan derai yang kauterima itu
kepada lautan,
yang menyimpan banyak mutiara
yang berkilau ditempa cahaya bulan.

Minggu Membeku

Matahari masih saja berbaring
di balik awan yang tak mau mencairkan hujan
sementara lampu-lampu taman
mematung di atas tiang
dalam belenggu sarang kaca
kehabisan cahaya setelah
semalaman berkobar
melawan gelap

Rumput-rumput kaku
menyangga bunga-bunga mekar yang
mengabadikan warna mereka dalam beku
Tak ada wangi yang tercium
Aroma ikut membeku di udara
Sementara tetes-tetes hujan semalam
mengkristal di permukaan mahkota dan daunnya
Tak sudi menyentuh tanah karena membuat mereka lenyap

Hanya burung-burung yang bergerak
Melompat dari dahan ke dahan dengan lugu
Berharap kicauan mereka dapat membangunkan
angin yang meringkuk di pohon
dan memeluk batang kayu bagai penuh rindu

Minggu statis
Semesta menggigil dalam sunyi
Waktu bergetar dalam gulir
Matahari mencoba melawan dingin
menghantar kehangatan sekilas
pada embun yang perlahan merayap dari daun,
sebelum jatuh dan membeku di atas tanah

Puisi Bulan

Malam gelap
Angkasa senyap
Bulan meminta cahaya pada matahari
Saat yang tepat untuk menulis puisi

Bulan adalah pujangga
Puisi-puisinya dia simpan dalam gugusan bintang
Diunduh majalah-majalah dan koran-koran
Ramalan tentang cinta dan peruntungan setiap pekan