Category Archives: poem
Mungkin, Sudah Waktunya dan Seharusnya
Mungkin, sudah waktunya dan seharusnya, aku berhenti mengenalmu sebagai batu kecil yang tak dapat ditaklukkan hujan. Namun, apakah yang sudah mengubahmu jadi tanah liat? Tangan siapakah yang kaulekati hingga kau tunduk pada jemarinya yang membuat lekuk-lekuk pada permukaanmu?
Ketika Sajak Jadi Awan dan Cerita adalah Hujan
Adalah air mata yang menguap di atas tungku yang menyala-nyalaMenempuh perjalanan udara menuju biru muliaBerarak tanya mencari jawabLalu turun kepada bumi yang kehabisan lembap
Belajar dari Puisi
Melalui puisi, aku belajar menundukkan kepalamembiarkan suaraku ditelan kertasdan menempuh jalan menuju semesta yang jauhdi mana diksi-diksi bersemayam bersama imaji Melalui puisi, aku ingin menjadi abadimenyamarkan sejati dalam bait-bait kiasanseperti sesendok kecil gula yang bersembunyi dalam secangkir kopiyang menyentuh lidahmu … Continue reading
Berbisik pada Dahlia
Biarkan aku berbisik pada dahliaMenyembunyikan rahasiaku pada lapisan-lapisan mahkotanyaMumpung angin tak bertiup dan kumbang-kumbang belum datang Hanya ada aku dan dahlia di kebun iniMenari-nari menanggapi kata-katakuMembuat hatiku turut berbunga dahliadan akan menjadi dahlia meski kau mengatakan aku adalah lili
Inginku
Inginku adalah menjadi telaga yang menampung hujan, menjadikannya kaca, cermin bagi matahari, pelangi, bulan dan bintang. Tapi jika aku harus menjadi sungai yang mengalirkan hujan ke samudra, tak apa. Paling tidak, sekali dalam hidupku, aku pernah merasakan rintik hujan yang … Continue reading

