Sepucuk Surat untuk Matahari Pagi

Selamat pagi, matahari pagi tersayang,
yang malu-malu menemui bumi dari celah bukit.
Sepertinya dunia akan sama seperti kemarin.
Bunga-bunga mekar dan layu,
ulat-ulat bermetamorfosa dan hijrah,
semut-semut berbaris dan
saling mengendus satu sama lain.

Terima kasih untuk tadi malam,
untuk menyinari bulan sehingga
tampak jelas di langit gelap.
Mimpimu membuatnya mempesona
dan tak ada yang mengalahkan kecantikannya.
Bahkan bintang-bintang lain hanya mampu menitik.
Noktah-noktah yang tak sebanding
dengan luasnya angkasa.

Terima kasih untuk sudi kembali bersinar
sampai nanti petang.
Walau mungkin awan menurunkan hujan
dan pelitamu membeku,
atau cahayamu dibelokkan hingga menjadi pelangi.

Orang-orang bisa berkata apa saja tentangmu
Yang mungkin membuatmu terbenam lebih cepat.
Tetapi tugasmu adalah berpijar,
bukan menanggapi kata-kata mereka.

Jadi, bersinarlah.
Terlihat atau tidak,
terik atau lemah,
siang atau malam.

Menyiram Rumput

Musim kemarau berlangsung lama banget. Kebunku hampir mati kekeringan. Kemangi nggak berbunga lagi, lebah-lebah keilangan tempat main, daun kangkung kecokelatan dan keriting.

Gimana kabarnya jahe, kencur, dan kunyit di dalem tanah? Daun mereka layu. Setelah kugali… Ternyata mereka mengerut dan suwung. Sementara di sekitar mereka rumput-rumput menari-nari sama angin, kayak mereguk semua nutrisi yang aku kasih untuk taneman-tanemanku sampe abis.

Tapi, aku nggak mau nyerah. Kebunku juga nggak boleh nyerah. Air sumur terus berkurang, tali timba kupanjangkan biar bisa ngejangkau dangkal.

Kusiram semua tanemanku tiap hari. Dua kali dalam sehari: pagi buat bekel mereka ngadepin terik matahari siang, dan sore buat ngelepas dahaga biar mereka bisa tidur nyenyak di malem hari.

Tapi dari hari ke hari, kebunku tetep gersang. Ke mana ijo daun-daun? Ke mana merah bunga-bunga? Semuanya berubah jadi kuning dan cokelat. Semuanya berguguran seolah-olah mereka pulang ke tanah tempat mereka berasal.

Sementara rumput-rumput tetep tumbuh dan menari sama angin. Makhluk apa mereka itu? Nggak ringkih di bawah sengat sang surya?

Aku baru sadar. Kayaknya selama ini aku nggak nyiram tanemanku.

Selama ini, aku nyiram rumput.

Hujan Hambar

Hujan pulang
Tak bawa buah tangan
Kopinya habis di perjalanan
Donatnya ia lahap sampai kenyang

Hujan berbaring di kebunku
Terlelap tanpa peduli aku rindu
Dalam tidurnya ia mengigau,
“Aku lelah melewati kemarau.”

Hujan kali ini terasa hambar
Sejuknya cepat memudar
Aku kembali masuk rumah
dan membuat es buah

Gunung

Aku mengagumi gunung
Yang menjulang agung
Memberi jalan mendaki bagi hutan dan sawah
Untuk menuju langit

Dalam kesendiriannya ia menyimpan bara yang bergejolak
Kadang berasap dan menggetarkan bumi
Apa yang menjadi pergulatannya adalah sebuah misteri

Sampai suatu ketika ia tak lagi mampu meredam amarahnya
Menyemburkan gas sampai bermil-mil jaraknya
Dan cairan merah mengalir tak terbendung

Apa yang bisa aku katakan?
Ia hanyalah bagian dari semesta
Yang tak dapat kutenggelamkan ke dalam laut
Membuatnya menjadi tenang dan mendinginkan lahar yang ia muntahkan

Gunung seperti halnya awan yang mengumpulkan tanda tanya
Dan aku mengaguminya seperti halnya aku mengagumi matahari yang terbit dan terbenam

What If?

What if the rose you care for
hurts you with its thorns?
Will you still care for her,
or will you turn your face
to another flower?

What if the rain you wait for
falls in another place?
Will you still wait,
or will you go inside your room
and paint the sky of grey?

I fell in love with the morning sun.
Creeping up the hill and
softly touching my skin
But he can’t stay warm forever.
The more he shows himself,
the more I get heat and burnt.

What if your paper boat
that floats in the river
is stopped by a big black stone?
Will you let it be damaged
and make another one,
then send it down to another river?

And what if the leaves
you collect every morning
choose to scatter across your yard?
Will you gather them again,
or let them cover your garden?