Author Archives: Rie Yanti
Puisi Tak Kasat Mata
Kadang, puisiku tak terdengarIa menelan suaranya sendiri dalam ingarAtau menyaru dalam samar Tak perlu kaucari di mana kuletakkan diksi-diksiBenakku mampu berfungsi sebagai laciDi dalamnya sarat puisi yang sengaja tak kubagi Banyak bait yang kupeluk diam-diamTak semua lara layak dipajangDan tak … Continue reading
Melukis Musim
November telah tibaLangit digelayuti mendungHujan bersiap turunWaktu berjalan memikul beban Tapi bagiku, ini adalah MeiDaun-daun bersemi layaknya bungaDerai hujan sehangat pancaran matahari Di trotoar, orang-orang mengeluh tentang cuaca yang tak tentuDi rumah, aku melukis musim sekehendakkuMenyapukan badai dan pelangi bergantian … Continue reading
Kaktus
Aku selalu khawatir jika musim kemarau datang Sumur akan kering dan kebunku akan mati Aku memandang tapak dara dengan iba Dia baru saja melahirkan bunga pertamanya tetapi harus menghadapi teriknya matahari Tak seperti kaktus yang tegar berdiri Tak gentar menghadapi … Continue reading
Cukup
Beberapa hari kemarin nggak turun ujan di Surabaya. Cuacanya panas. Kayak mau kemarau. Tugas nyiram-nyiram kebun mulai rutin, deh. Terus, dua hari yang lalu, malem-malem ujan. Lanjut sampe kemarin pagi. Cucian dijemur pagi, sorenya baru kering. Tapi aku jadi libur … Continue reading
Setelah Musik Usai
Musik berhenti berputar Syair nostalgia berakhir jua Ingar bingar sudah padam Pesta telah usai Maka, dengarlah tutur sungai Mengalirkan kisah dengan deras di telinga bebatuan tentang mimpinya akan laut Andai musik itu kembali mengalun, biar saja Jadilah sungai yang patuh … Continue reading

