Author Archives: Rie Yanti
Puisi Air Mata
Kerap aku bertanya padaku sendiri, ke mana air mata bunga mengalir ketika ia dipisahkan dari tangkainya? Lalu aku tertegun saat menyadari, bahwa air mataku tak pernah menitik dan mengalir. Kesedihanku adalah puisi yang kutulis di atas kertas.
Memungut Gerimis
Aku kembali ke kebunku memungut gerimis Kemarau sebentar lagi tiba dan aku harus mengisi kertasku dengan sisa-sisa aksara yang tertinggal di rimbun daun sebelum terik meneguk ilham Terlalu lama aku terlena hujan deras Meringkuk dilingkup hawa dingin Hujan pun berlalu … Continue reading
Buku yang Bagus
Sejak Oktober taun kemarin, aku kembali baca buku. Ngaku dosa, nih, kalo sebelum bulan kesepuluh itu, lamaaa… banget aku nggak baca buku. Sebetulnya ada banyak stok buku dan majalah di rumah yang belum kubaca. Cuma karena aku tuh picky reader, … Continue reading
Reviu Puasa dan Lebaran Taun Ini
Sejak awal bulan puasa taun ini, aku nggak produktif nulis. Mood nulisku anjlok cuma gara-gara satu hal yang terus kejadian sampe lebaran kemarin. Kalo tulisan ini dibikin kayak kerangka Save The Cat, di mana ada bagian pernyataan tema, aku bakal … Continue reading
Lapang (2)
Menjadi lapang tak berarti hampa Berlapis-lapis debu menggelar kehadirannya Matamulah yang tak mampu melihat Tak seperti kulit arimu yang begitu peka Serasah tak lagi menyimpan hujan Percikkan saja api dan lihat bagaimana bara bekerja Menghanguskan klorofil yang tersisa Menciptakan lelatu … Continue reading

