Author Archives: Rie Yanti

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer

Kemarau

Hujan pamit. Ia akan hibernasi. Sudah ia titipkan rintik pada akar dan sejuk pada angin. “Tak perlu risau akan kemarau,” pesannya. “Gersang hanyalah jeda. Nanti pun basah akan kembali kubawa. Aku hanya perlu rehat sejenak. Sebab tanah pun tak sanggup … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Jalan Kaki

Sejak kecil, saya dibiasakan mama jalan kaki ke mana-mana. Kami tinggal di Cicalengka, sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung. Dulu itu, kami punya dua mobil di rumah. Satu dipakai kakak buat kuliah, satu lagi sengaja ditinggalkan di rumah. Mobil yang di … Continue reading

Posted in thoughts | Leave a comment

Perkara-perkara Kecil di Kebunku

Tentang ulat-ulat yang menitipkan takdirnya dan belalang yang melukai daun-daun, hujan dan panas yang bergantian datang membawa kabar yang berlainan, rimpang yang tak henti-hentinya memanjatkan doa di dalam tanah, ataupun rumput yang menampik menunduk, tanganku hanya bisa menelungkup ragu dan … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Dilarang Menginjak Rumput

Biarkan aku berbaring di sini, mendengarkan rumput berpuisi. Diksinya amat pilu, tentang dunia yang tak pernah memberi tenang. Ada parang yang siap membebat. Ada gunting yang bersedia memangkas. Ada tangan yang hendak mencerabut. Ada ludah yang sewaktu-waktu mencela. Di balik … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

250625

Tak selamanya hujan datang bersama gaduh Kadang ia turun menahan gemuruh Bukan untuk meluruhkan sunyi Melainkan sekadar membasahi Seperti bulan yang muncul di balik jelaga Memantulkan cahaya bukan untuk menyilaukan Hanya ingin menyampaikan pesan Bahwa dalam gelap pun, cahaya kecil … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment