Author Archives: Rie Yanti

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer

Kelak

Kelak, di waktu yang tak kauduga, sungai tak lagi mengenal deras. Kemarau membungkam riciknya atau batu menghadang arusnya. Tak ada lagi gemuruh di telingamu dan kau tak perlu takut perahu kertasmu hanyut tanpa terkejar.

Posted in poem | Leave a comment

Pohon Hujan

Pohon hujan berguncang entah oleh apa Gerimis berguguran di atas kemarau yang tak lagi sanggup mengeringkan tanah Mungkin langit lelah melihat bumi tanpa daun, tanpa bunga Maka ia membimbing musim untuk menggoyang pohon hujan itu.

Posted in poem | Leave a comment

Kalo Cuaca Ngawur

Cuaca tambah ngawur aja. Sekarang udah bulan Agustus. Udah musim kemarau dan suhu udara lagi panas-panasnya. Tapi beberapa malem ini, aku liat langit sering mendung. Bulan sabitnya jarang keliatan. tadi subuh malah ada gludug. Nggak keras, sih, dan aku nggak … Continue reading →

Posted in thoughts | Leave a comment

Jeda

Sajakku membungkam malam ini Bahkan bibirnya tak menorehkan senyum Datar saja, seperti garis-garis pada kertas Kata-kata meredup bagai bintang yang kehilangan pijar sebab lampu-lampu kota begitu benderang Makna bersembunyi di balik jelaga Siang-siang pun ia tetap bersembunyi diterpa silau Mungkin, … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment

Kemarau

Hujan pamit. Ia akan hibernasi. Sudah ia titipkan rintik pada akar dan sejuk pada angin. “Tak perlu risau akan kemarau,” pesannya. “Gersang hanyalah jeda. Nanti pun basah akan kembali kubawa. Aku hanya perlu rehat sejenak. Sebab tanah pun tak sanggup … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment