Author Archives: Rie Yanti
Pohon Hujan
Pohon hujan berguncang entah oleh apa Gerimis berguguran di atas kemarau yang tak lagi sanggup mengeringkan tanah Mungkin langit lelah melihat bumi tanpa daun, tanpa bunga Maka ia membimbing musim untuk menggoyang pohon hujan itu.
Kalo Cuaca Ngawur
Cuaca tambah ngawur aja. Sekarang udah bulan Agustus. Udah musim kemarau dan suhu udara lagi panas-panasnya. Tapi beberapa malem ini, aku liat langit sering mendung. Bulan sabitnya jarang keliatan. tadi subuh malah ada gludug. Nggak keras, sih, dan aku nggak … Continue reading
Jeda
Sajakku membungkam malam ini Bahkan bibirnya tak menorehkan senyum Datar saja, seperti garis-garis pada kertas Kata-kata meredup bagai bintang yang kehilangan pijar sebab lampu-lampu kota begitu benderang Makna bersembunyi di balik jelaga Siang-siang pun ia tetap bersembunyi diterpa silau Mungkin, … Continue reading
Kemarau
Hujan pamit. Ia akan hibernasi. Sudah ia titipkan rintik pada akar dan sejuk pada angin. “Tak perlu risau akan kemarau,” pesannya. “Gersang hanyalah jeda. Nanti pun basah akan kembali kubawa. Aku hanya perlu rehat sejenak. Sebab tanah pun tak sanggup … Continue reading
Jalan Kaki
Sejak kecil, saya dibiasakan mama jalan kaki ke mana-mana. Kami tinggal di Cicalengka, sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung. Dulu itu, kami punya dua mobil di rumah. Satu dipakai kakak buat kuliah, satu lagi sengaja ditinggalkan di rumah. Mobil yang di … Continue reading

