Author Archives: Rie Yanti
Kelak
Kelak, kau akan tahu, siapa membutuhkan siapa. Malam pada bulan, atau bulan pada malam? Hujan pada telaga, atau telaga pada hujan? Kelak, kau akan tahu, siapa menginginkan siapa. Kupu pada mawar, atau mawar pada kupu? Rumput pada pekarangan rumahmu, atau … Continue reading
Kembalinya Sang Penyair
Huruf-huruf memilih menyimpan suara dalam batinku dan menahan jari-jariku dari melukis setiap lekuknya di atas kertas Mungkin mereka bosan menguntai kata Mungkin juga putus asa sebab angin memilih berlalu daripada membaca Dan sungai terlalu pongah dengan riciknya Kuputuskan untuk berhenti … Continue reading
Pohon Hujan
Pohon hujan berguncang entah oleh apa Gerimis berguguran di atas kemarau yang tak lagi sanggup mengeringkan tanah Mungkin langit lelah melihat bumi tanpa daun, tanpa bunga Maka ia membimbing musim untuk menggoyang pohon hujan itu.
Kalo Cuaca Ngawur
Cuaca tambah ngawur aja. Sekarang udah bulan Agustus. Udah musim kemarau dan suhu udara lagi panas-panasnya. Tapi beberapa malem ini, aku liat langit sering mendung. Bulan sabitnya jarang keliatan. tadi subuh malah ada gludug. Nggak keras, sih, dan aku nggak … Continue reading
Jeda
Sajakku membungkam malam ini Bahkan bibirnya tak menorehkan senyum Datar saja, seperti garis-garis pada kertas Kata-kata meredup bagai bintang yang kehilangan pijar sebab lampu-lampu kota begitu benderang Makna bersembunyi di balik jelaga Siang-siang pun ia tetap bersembunyi diterpa silau Mungkin, … Continue reading

