Author Archives: Rie Yanti
Ketika Bulan Tak Menjadi Puisi
Bulan menyungging senyum di atas sana Berharap hening menambah pesonanya Seperti malam-malam sebelumnya, ia menunggu dipuja Menanti penyair-penyair menuliskan namanya Namun jalan-jalan masih gaduh Suara-suara mengoyak sunyi Klakson dan deru mengalah Manusia menggemakan keadilan Dan gaduh itu menjelma ricuh Saat … Continue reading
Sebuah Catatan tentang Penindasan
Pagi tadi waktu ke pasar, liat pemandangan biasa jadi nggak biasa. Liat kang ojol lewat atau lagi mangkal, bawaannya sedih. Bukan cuma soal idup bisa singkat atau maut bisa datang cepat. Ini soal arogansi. Aparat itu punya apa, sih, kalo … Continue reading
Jangan Takut pada Awan Kelabu
Jangan takut pada awan kelabu Isinya cuma air, bukan batu Ia pekat karena menanggung padat Enggan bergeming, terjerat rapat Biarkan muatannya luruh Melirih layaknya doa syahdu Menembus ubun-ubunmu Membasuh segala bayangan sendu
Melati yang Menggugurkan Daun-daunnya
Tiap hari, melati ngegugurin daun-daunnya. Hampir semuanya berwarna cokelat; cuma sedikit yang hijau. Kadang-kadang, bunganya juga ikut gugur walaupun baru mekar. Sambil nyapu daun-daun melati itu buat dikompos nantinya, aku nanya dalam hati, emang nggak sayang, ya, melati itu sama … Continue reading
Di dalam Cangkir Putih
Cangkir antik putih berlukiskan bunga-bunga kecil Berdiri pongah di atas hamparan beling serupa dirinya Menganga pada langit yang baru saja lahir mengembuskan napas hangatnya dengan jumawa Di dalam dirinya, ada pekat yang bertahan Seakan bening adalah kesempatan bagi cela untuk … Continue reading

