Author Archives: Rie Yanti

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer

Melayani Hujan

Kalau hujan datang, bilang padanya, aku tak mau lagi melayani dia. Capek aku menampung tetesnya yang berdebu. Capek aku mengepel tempiasnya. Kalau hujan datang, tanyakan, kapan dia mau melayaniku. Aku butuh pijatan di bahu, setelah menanggung payung yang tak lagi … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

September

September tiba di kebunku yang layu Mawar-mawar lunglai dan rontok Daun-daun menyerahkan nasibnya pada angin Sumur masih menjaga airnya tahu bahwa hujan tak akan datang dalam waktu yang segera Apa yang bisa kusajikan selain adenium merah jambu yang tak gentar … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Ketika Bulan Tak Menjadi Puisi

Bulan menyungging senyum di atas sana Berharap hening menambah pesonanya Seperti malam-malam sebelumnya, ia menunggu dipuja Menanti penyair-penyair menuliskan namanya Namun jalan-jalan masih gaduh Suara-suara mengoyak sunyi Klakson dan deru mengalah Manusia menggemakan keadilan Dan gaduh itu menjelma ricuh Saat … Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Sebuah Catatan tentang Penindasan

Pagi tadi waktu ke pasar, liat pemandangan biasa jadi nggak biasa. Liat kang ojol lewat atau lagi mangkal, bawaannya sedih. Bukan cuma soal idup bisa singkat atau maut bisa datang cepat. Ini soal arogansi. Aparat itu punya apa, sih, kalo … Continue reading

Posted in diary | Leave a comment

Jangan Takut pada Awan Kelabu

Jangan takut pada awan kelabu Isinya cuma air, bukan batu Ia pekat karena menanggung padat Enggan bergeming, terjerat rapat Biarkan muatannya luruh Melirih layaknya doa syahdu Menembus ubun-ubunmu Membasuh segala bayangan sendu

Posted in poem | Leave a comment