About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer

Hak untuk Tidak Patuh: Catatan Setelah Prahara Agustus

“Pembangkangan Sipil”

Penulis: Henry David Thoreau

Penerbit: Basabasi

Jumlah halaman: 128 halaman

Saya baru sadar kenapa belakangan ini kepala saya nyangkut di isu-isu mikropolitik. Bukan karena buku teori yang kebaca duluan, tapi justru karena prahara Agustus. Peristiwa itu dengan segala kebisingannya membuat saya melihat sesuatu yang lebih kecil, lebih dekat, dan justru lebih mengganggu: bagaimana kekuasaan bekerja lewat hal-hal sepele, lewat kepatuhan yang kelihatannya wajar, lewat orang-orang yang “cuma menjalankan tugas”.

Di titik itulah saya membaca On the Duty of Civil Disobedience atau Pembangkangan Sipil karya Henry David Thoreau. Esainya pendek, tapi rasanya seperti ditanya pelan-pelan: kamu selama ini berdiri di mana, sebenarnya?

Continue reading

Cinta di Tengah Amukan Revolusi

“A Tale of Two Cities”

Jenis buku: Fiksi

Penulis: Charles Dickens

Jumlah halaman: 500 halaman

Penerbit: Mizan

Jika kita bicara tentang novel yang mampu menggambarkan bagaimana gejolak politik mampu merobek sekaligus menyatukan hati manusia, tidak ada yang menandingi mahakarya Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Berlatarkan dua kota, London dan Paris, novel ini bukan sekadar catatan sejarah Revolusi Prancis, melainkan sebuah studi mendalam tentang pengorbanan, trauma, kebangkitan jiwa, dan dampak komunal dari revolusi.

Continue reading

Mengenal Anarkisme

“Anarkisme dan Esai-esai Lain”

Penulis: Emma Goldman

Jenis buku: Nonfiksi (politik)

Tebal: 228 halaman

Penerbit: Indoliterasi

Pasca unjuk rasa besar-besaran pada Agustus 2025 lalu, kata anarkisme (juga anarki dan anarkis) jadi banyak digunakan. Semuanya mengacu pada tindakan yang mengakibatkan kekacauan dan kekerasan.

Tidak cuma itu. Buku berjudul Anarkisme dan Esai-esai Lain karya Emma Goldman juga banyak disebut-sebut saat aparat menyita buku-buku milik para aktivis yang ditangkap dan ditahan. Diduga, buku ini berisi hasutan untuk bertindak anarkis.

Saya pun dulu kalau mendengar kata “anarki” pasti mikirnya kerusuhan dan makar. Tapi, apa iya anarki seperti itu?

Continue reading

Demokrasi Mati Jika…

“Bagaimana Demokrasi Mati”

Penulis: Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt

Jenis: Nonfiksi (Politik)

Jumlah Halaman: 288 halaman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku-buku tentang politik jadi minat saya selama beberapa bulan belakangan ini. Fiksi maupun nonfiksi. Mulanya memang saya enggan bersentuhan dengan politik. Terasa berat. Sebab yang saya tahu, politik itu berhubungan dengan negara. Persisnya, bagaimana pemerintah mengatur rakyatnya, bagaimana sebuah negara menciptakan hubungan diplomatik dengan negara lain, atau bagaimana perang antar negara bisa terjadi.

Saya lebih tertarik ke mikropolitik. Namun, tidak ada salahnya, kan, meng-upgrade pikiran saya dengan hal-hal tentang politik makro?

Continue reading

Tenggelam dalam Laut Bercerita

“Laut Bercerita”

Penulis: Leila S. Chudori

Jenis: Novel

Tebal: 379 halaman

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Laut Bercerita adalah novel tentang Biru Laut, seorang aktivis pada masa Orde Baru yang hidup di bawah bayang-bayang pengawasan negara. Bersama kawan-kawannya—mahasiswa dan seniman di Yogyakarta—ia menjalani kehidupan yang selalu menuntut kewaspadaan: berpindah tempat, membangun basecamp yang jauh dari pantauan aparat, serta menyusun rencana aksi dengan penuh kehati-hatian. Cerita ini menunjukkan bahwa aktivisme tidak harus berarti turun ke jalan, tetapi juga bekerja dalam kesunyian dan sarat risiko.

Komunitas yang diikuti Laut dan teman-temannya yakni Winatra dan Wirasena, perlahan menjadi sasaran penindakan. Negara hadir bukan melalui dialog, melainkan lewat mekanisme penangkapan, interogasi, dan kekerasan yang bertujuan memutus keberanian sekaligus ingatan. Ini seolah-olah menunjukkan bahwa hidup sewaktu-waktu dapat diambil alih oleh kekuasaan yang tak terlihat wajahnya.

Continue reading