About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer

Melati yang Menggugurkan Daun-daunnya

Tiap hari, melati ngegugurin daun-daunnya. Hampir semuanya berwarna cokelat; cuma sedikit yang hijau. Kadang-kadang, bunganya juga ikut gugur walaupun baru mekar.

Sambil nyapu daun-daun melati itu buat dikompos nantinya, aku nanya dalam hati, emang nggak sayang, ya, melati itu sama daun-daunnya? Biarpun udah pada tua, daun-daun itu, kan, yang bikin melatinya punya identitas. Batang yang nggak berdaun sulit dibedain sama batang yang lain. Nah, daun-daun melati itu punya ciri khas yang ngebedain dia sama taneman lainnya. Pernah liat, kan, ada orang yang nerka-nerka nama taneman dengan mengidentifikasi daunnya?

Daun-daun itu juga yang ngelahirin bunga, yang bikin pekarangan rumah jadi wangi walaupun di deket pager ada selokan yang kotor banget. Pernah ada orang lewat yang sengaja metikin melati dari pohonnya, bahkan sampe mungut-mungut di tanah. Aku sebetulnya nggak suka ada orang metik-metik bunga gitu. Waktu kutanya kenapa dia suka ngambilin bunga melati, katanya buat wewangian di rumahnya.

Hm, alasannya simpel aja. Tapi dari situ, aku jadi sadar kalo mungkin melati ngegugurin bunganya biar orang gampang ngambil kalo ada perlunya. Melati di pekarangan rumahku emang udah tumbuh jadi pohon. Karena ditanem di deket pager jugalah banyak orang lewat atau kurir paket berteduh. Rata-rata, ranting yang berbunga di bagian atas. Yang bawah juga ada. Tapi ranting itu biasanya kami potong biar nggak ngalangin kalo kami mau lewat.

Aku sendiri waktu hamil kedua sering banget mungut bunga melati, terutama kalo mau pergi. Gara-gara mual dan idung lebih peka dari sebelumnya. Aroma bunga melati yang seger bikin aku jadi enakan.

Semua tanaman menghasilkan daun, bunga, dan buah buat diambil manfaatnya. Ketika semua itu nggak bisa kita jamah, tanemannya paham. Makanya dia ngelepas apa yang mereka punya biar bisa kita pakai. Taneman itu sendiri nggak takut kekurangan atau kehilangan karena…

… selama masih tumbuh, mereka bisa memproduksi lagi. Daun melati nggak pernah ilang karena kami nggak menebang pohonnya. Semua pohon di bumi ini percaya pada alam. Kalo alam nggak menghendaki mereka tumbuh, mereka bakalan mati.

Sejauh ini, kami nggak pernah ngeganggu taneman di kebun kami, kecuali kalo mereka ngeganggu. Kayak rumput. Soalnya taneman-taneman itu jadi habitat banyak hewan kecil.

Kami memang tukang kebun amatiran yang baru bisa bereksperimen dan berusaha bersyukur dengan hasil panen yang nggak melimpah. Gagal panen atau gagal numbuhin taneman juga sering kami alamin. Tapi kami nggak menuntut minta alam ngegantiin waktu dan peluh yang udah kami lepasin (kalo berharap, sih, iya, hehehe).

Karena, belajar dari melati, kami nggak akan pernah kekurangan selama hidup masih menghendaki kami bernapas.

Di dalam Cangkir Putih

Cangkir antik putih berlukiskan bunga-bunga kecil
Berdiri pongah di atas hamparan beling
serupa dirinya
Menganga pada langit yang baru saja lahir
mengembuskan napas hangatnya dengan jumawa

Di dalam dirinya, ada pekat yang bertahan
Seakan bening adalah kesempatan bagi cela untuk tinggal

Sesendok kristal berjatuhan,
lalu lenyap ditelan jelaga
Baru kutahu pahit diam-diam merindu manis

Tetapi pekat itu tetap jumawa
dengan pusaran yang mengisap dingin
Dan ia menunggu sampai sepasang bibir
menyentuh salah satu tepinya
dan menikmati pahit yang tak benar-benar getir

When Agustus Nggak Kayak Agustus

Dua hari ini aneh banget. Dua hari yang lalu, sih, yang lebih aneh. Masa’ ujan turun di bulan Agustus? Biasanya, kan, bulan Agustus cuaca lagi panas banget. Tanah sampe kering, rumput banyak yang mati.

Jadi kemaren itu subuh-subuh langit mendung. Kadang-kadang emang kayak gitu. Subuhnya mendung, tapi seharian nggak ujan. Aku juga PD-PD aja ngejemur cucian kayak biasanya.

Anak-anak berangkat sekolah seperti biasa. Ara nggak bawa jas ujan soalnya ini bukan musim ujan. Tau-tau nggak lama setelah aku pulang dari pasar, ujan deres, dong. Untungnya aku udah pulang dan anak-anak jam segitu udah nyampe sekolah, udah mulai pembiasaan.

Tapi karena ujannya tiba-tiba banget, aku nggak sempet nyelametin jemuranku yang masih netes-netes. Mereka pasrah diguyur ujan.

Siangnya, langit gantian mendung dan panas. Jemuranku kering juga akhirnya dan aku berharap moga-moga nggak ujan lagi sebelum anak-anak sampe rumah.

Ternyata, sorenya ujan, dong. Lumayan deres kayak waktu pagi. Kira sampe nggak bisa sepedaan sore dan Ara masih di sekolah. Aku berharap ujannya brenti waktu Ara pulang.

Ternyata pas Ara pulang, ujan gerimis dan dia nggak pake pelindung apa-apa. Basahnya cuma dikit, sih. Tapi kasian juga dia pulang sekolah keujanan.

Karena dua hari yang lalu udah ujan, kirain kemaren cuacanya bakal bagus. Pagi-pagi emang sempat mendung, tapi kemudian langit cerah dan jemuranku kering semua. Eeeh, pas waktunya Ara pulang, ujan deres.

Ara bawa jas ujan, sih, sesuai permintaannya. Tapi pas nyampe rumah tetep aja baju seragam dan sepatunya basah. Kasian, kali ini dia keujanan cukup parah.

Kenapa, ya, cuaca berubah kayak gitu? Sebelumnya emang udah diprediksi kalo taun ini musim ujan bakal datang lebih awal. Tapi nggak di bulan Agustus juga keleueueus. Musim ujan biasanya, kan, dimulai di bulan-bulan berakhiran -ber.

Agustus kayak bukan Agustus lagi. Di bulan yang seharusnya full semangat agustusan, ketika lomba-lomba diselenggarakan di bawah terik matahari, taun ini diadakan di bawah langit mendung dan guyuran ujan. Kalo ada panjat pinang, pinangnya nggak usah dilumirin pelicin lagi. Soalnya licinnya udah ada dari air ujan. Yaaa… walaupun licinnya beda.

Aku jadi inget, Albert Camus pernah bilang kayak gini, “autumn is the second spring when every leaf is a flower.” Kutipan ini mengubah persepsiku soal musim gugur. Yang tadinya terkesan gloomy, jadi berwarna karena beberapa pohon berubah warna jadi merah atau warna-warna gonjreng lain. Nggak selalu harus cokelat dan langitnya abu-abu.

Artinya, nggak semestinya kita memandang hal-hal yang nggak biasa sebagai sesuatu yang buruk. Tapi sebagai sesuatu yang baru dan berbeda.

Ditambah kata Heraclitus, “the only constant is change.” Kita nggak bisa menghindari perubahan. Perubahan itu niscaya. Namanya juga idup. Nggak semua hal selalu sama, kan?

Musim Hujan

Musim hujan
Orang-orang jatuh cinta
merindu mendung
tak berdaya ketika gerimis turun

Hati yang berbunga
laksana bunga-bunga di taman
mekar berjejalan
Siapa paling semerbak,
dia berhak mendapat lebah
Siapa paling merona,
dia layak mendapat rama-rama

Hati yang berkabung
ibarat bunga yang layu
menunduk meratap tanah
Lupa akan sejuk
Abai akan semi

Tapi musim hujan
Awan meluruhkan ilham
Pena meneteskan aksara
Kata-kata mengaliri parit dan kali
Lautan sesak oleh puisi
Bagian paling sarat dalam kitab musim

Bukan Mereka

Orang boleh berpikir apa saja
tentangmu
Mereka boleh bicara apa saja

Tapi, siapa yang tahu
bagaimana kau letakkan benih dengan hati-hati
di dalam lubang yang kaugali penuh harap
dan kau sertakan doa agar pertiwi sudi
mengabulkan mimpimu
terhadap benih itu
agar tak hanya tumbuh menjadi daun, bunga,
ataupun buah yang kelak dapat kaupetik
tetapi juga agar akarnya mampu menguatkan tanah
dan menjaga air agar tak surut
di musim kemarau

Siapa yang tahu,
bagaimana kau perlakukan bibit itu
seperti anakmu sendiri
Kau sentuh dengan lemah lembut,
kau kecup dengan sarat kasih,
dan kau menunggunya tumbuh
inci demi inci,
mencatatnya dalam jurnalmu setiap hari

Dan siapa yang tahu,
apa saja yang kaubicarakan dengan rumput-rumput
yang memenuhi pekaranganmu
Orang melihatnya kau menjambak mereka
Tetapi sesungguhnya, kau hanya ingin
membuat mereka lebih berguna
dengan menyatukan mereka
bersama daun-daun kering
yang berguguran

Atau,
bagaimana kau menatap bulan,
menunggu bintang melesat,
menerima pagi seperti halnya pasrah pada senja,
bernyanyi saat hujan,
mengikuti derap rintiknya
yang menarik petrikor dari dalam tanah

Orang-orang hanyalah angin
yang berlalu tanpa membaca apa-apa
Orang-orang cuma punya api
yang membakar nafsu mereka

Orang boleh berpikir apa saja
tentangmu
Mereka boleh bicara apa saja
Tetapi kau adalah kau
Bukan bagian dari mereka