Mengenal Anarkisme

“Anarkisme dan Esai-esai Lain”

Penulis: Emma Goldman

Jenis buku: Nonfiksi (politik)

Tebal: 228 halaman

Penerbit: Indoliterasi

Pasca unjuk rasa besar-besaran pada Agustus 2025 lalu, kata anarkisme (juga anarki dan anarkis) jadi banyak digunakan. Semuanya mengacu pada tindakan yang mengakibatkan kekacauan dan kekerasan.

Tidak cuma itu. Buku berjudul Anarkisme dan Esai-esai Lain karya Emma Goldman juga banyak disebut-sebut saat aparat menyita buku-buku milik para aktivis yang ditangkap dan ditahan. Diduga, buku ini berisi hasutan untuk bertindak anarkis.

Saya pun dulu kalau mendengar kata “anarki” pasti mikirnya kerusuhan dan makar. Tapi, apa iya anarki seperti itu?

Emma Goldman pun menjelaskan apa itu anarkisme. Selain itu, ia juga menulis tentang feminisme, pendidikan, dan masalah-masalah lain. Tetapi karena prioritas saya adalah memahami anarkisme, maka yang jadi fokus saya adalah esai yang pertama, tentang anarkisme.

Ada beberapa poin yang saya ambil dari esai berjudul Anarkisme: Apa yang Sebenarnya Diperjuangkan?

  1. Manusia tidak berarti apa-apa di hadapan kekuatan otoriter. Kesadaran yang muncul dalam diri seorang individu merupakan ancaman bagi kekuasaan. Sikap kritis menjadi sesuatu yang dilarang.
  2. Individu adalah pembentuk masyarakat, bukan sebaliknya. Logikanya, tanpa individu, tidak akan tercipta sebuah masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat adalah sekumpulan individu. Konsep ini merupakan kritik terhadap kolektivitas buta.
  3. Anarkisme mengakui hak-hak setiap individu. Dalam melaksanakan setiap kegiatannya (bekerja, sekolah), tidak mutlak ada penyeragaman. Manusia tidak sama, sistem kerja juga harus berbeda, sehingga tidak ada identitas hidup yang dipasung oleh profesi (tidak ada pemaksaan struktural). Kritiknya ini juga diarahkan pada kapitalisme industri, bukan cuma birokrasi.
  4. Negara kerap mengklaim diri sebagai ruang kebebasan berpendapat, tetapi dalam praktiknya kebebasan itu dikorbankan demi hukum, stabilitas, keamanan, dan nasionalisme.
  5. Anarkisme menganjurkan kita untuk menyelamatkan harga diri dan keberanian berpikir dari campur tangan otoritas.
  6. Anarkisme berarti kebebasan pikiran dari dogma agama, kebebasan tubuh dari kepemilikan otoritatif, dan kebebasan dari belenggu dan batasan pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan sosial dan menjamin akses ke sumber hidup berdasarkan keinginan individu.
  7. Anarkisme mendukung pemberontakan terhadap segala sesuatu yang menghambat pertumbuhan manusia. Pemberontakan di sini tidak berarti fisik, ya, tetapi bisa berupa intelektualitas, moral, dan artistik.
  8. Individu sering larut dalam statistik (kuantitas). Data dan angka kerap dijadikan ukuran kebenaran. Padahal yang sebetulnya esensial adalah kualitas.
  9. Di beberapa negara, pemerintah menciptakan kekerasan, tetapi malah menyalahkan oposisi. Anarkis dijadikan alasan untuk melegitimasi represi. Faktor keamanan dijadikan alasan pembenaran.

Singkatnya, anarkisme adalah sebuah ideologi politik yang menolak otoritas negara dan pemerintahan, serta menganjurkan kebebasan individu dan otonomi. Tujuannya untuk menciptakan masyarakat yang bebas, egaliter, dan partisipatif tanpa adanya hierarki dan dominasi.

Dalam anarkisme, individu harus memiliki kebebasan untuk membuat keputusan sendiri dan mengatur diri sendiri, tanpa campur tangan dari pemerintah atau otoritas lainnya. Perlu ditekankan juga bahwa anarkisme bukanlah kekacauan, melainkan sebuah tatanan sosial dan penolakan otoritas demi kebebasan individu sepenuhnya.

Karena bagaimanapun, pemerintah kerap menjadi instrumen penindasan. Selalu ada kebijakannya yang merugikan rakyat. Ini jauh dari kesan bahwa pemerintah melalui aparatnya adalah pelindung masyarakat. Hukum dibuat untuk menjaga kepentingan kelas berkuasa, bukan keadilan orang banyak.

Padahal, individu adalah pusat perubahan sosial. Tanpa kebebasan individu, revolusi hanya mengganti penguasa. Mungkin ini akibat dari timpangnya sistem pendidikan juga, di mana pendidikan kerap dijadikan alat untuk menjinakkan, bukan membebaskan.

Pemaparan Emma Goldman membuka mata saya tentang makna anarkisme. Namun, buku ini sendiri bagi saya tidak mudah dipahami. Ia perlu dibaca dengan hati-hati dan pelan-pelan agar tidak menimbulkan salah kaprah. Bahkan, jika memungkinkan, diskusi dengan orang yang lebih memahami konteks pemikiran Goldman tentu akan sangat membantu.

Perlu diingat pula bahwa esai-esai dalam buku ini ditulis dalam konteks sosial dan politik yang berbeda dengan situasi Indonesia hari ini. Ada gagasan yang terasa relevan, ada pula yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai. Sebelum menulis reviu ini, saya pun berkali-kali menimbang: layakkah saya membahasnya, sementara masih banyak bagian yang belum saya pahami sepenuhnya.

Meski demikian, buku ini tetap penting untuk dibaca agar kita memiliki pemahaman yang lebih jernih tentang apa itu anarkisme. Bagi saya, membaca buku ini bukan soal mendorong tindakan tertentu, melainkan soal memahami terlebih dahulu apa yang sedang dibicarakan. Sebab, dalam urusan politik, memahami selalu lebih mendasar daripada sekadar bereaksi.

Oh, ya, ada yang menarik di sampul depan buku ini. Di bagian bawah ilustrasi, ada tulisan “If I can’t dance, I don’t want to be part of your revolution”. Kalimat tersebut adalah kata-kata Goldman sendiri. Maksudnya, revolusi memang menuntut kerja keras dan pengorbanan, tetapi tidak seharusnya menuntut kita menahan kegembiraan hidup dan kebebasan tubuh atas nama tujuan besar.

Hm, kalau dikaitkan dengan anarkisme, kira-kira apa, ya, maksudnya?

Dalam konteks anarkisme, mungkin maksud Goldman sederhana: pembebasan tidak boleh berhenti di tataran ide atau struktur, tetapi harus terasa dalam cara kita hidup sebagai manusia utuh.

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer
This entry was posted in review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.