Rumput-rumput Bandel

Rumput-rumput yang bandel,
Sekarang musim kemarau
Matahari terik memancarkan silau
Membakar tanah hingga jadi abu
Tapi kenapa kalian masih berani menatap langit biru?

Sekarang waktunya kalian tidur di dalam tanah
Jangan coba-coba memperlihatkan ubun-ubun kalian sampai musim hujan datang
Kalian sudah meneguk sisa hujan kemarin, bukan?
Jangan berharap apa-apa lagi dari awan

Rumput-rumput yang bandel,
Sudah lama aku mengenal kalian
Kalian yang tak kenal malu dan gentar
Tumbuh di mana saja, tak hanya di tanah yang segar
Tapi juga di celah batu paving, tembok pagar, pot-pot tanaman

Bahkan ketika kujambak kalian sampai daun-daun kecil kalian berguguran,
kupikir kalian jera karena kesakitan
Kalian tak akan lagi muncul di hadapan
Nyatanya, kalian begitu kolokan
Selalu bertingkah demi mendapat perhatianku
Kalian bergoyang-goyang, mengelitiku kaki dan tanganku
Sekadar membuatku sadar bahwa kalian hidup

Bahkan setelah aku pindah ke lain kota, bisa-bisanya kalian mengikutiku
Bisa-bisanya kalian menyelinap masuk koperku
lalu lekas-lekas keluar sebelum aku membukanya untuk mengeluarkan pakaianku
Bisa-bisanya kalian tak meninggalkan jejak tanah dari akar kalian
Hingga aku luput dari curiga bahwa kalian menguntit diam-diam

Coba katakan, apa yang kalian rencanakan di dalam koper sebelum kita tiba di tujuan?
Bisa-bisanya kalian tumbuh lebih subur di sini
Bisa-bisanya kalian menyempil di antara rumpun bayam brazil

Rumput-rumput yang bandel,
Lenganku gatal-gatal karena bergesekan dengan daun ilalang
Hidungku bersin-bersin karena tak sengaja menghirup serbuk bunga gulma serupa randa tapak
Kakiku luka-luka tergores duri putri malu yang ternyata cukup tajam

Dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas semua keluhanku?
Jangan bilang kalau kalian juga punya khasiat sebagai obat
Aku tak peduli apa yang kalian kandung selain kerepotan yang menguras tenagaku

Aku capek
Dengan berbagai perkakas kubabat kalian sampai tuntas
Bergiliran dari petak yang satu ke petak yang lain
Pekerjaan yang tak pernah habis
Sebab ketika kucabut akar salah satu dari kalian, tumbuh lagi seribu rumput sebagai pengganti

Saat kemarau mencapai puncak, hatiku pun mencapai lapang
Tapi aku tahu, kemarau pun akan pulang dan memanggil hujan
Dan hujan akan memanggil kalian

Rumput-rumput yang bandel,
Aku sadar, tak ada tanah yang tak berumput
Ibarat hidup, kalian adalah masalah yang tak pernah redup
Dan aku tahu, saat aku tak mampu lagi menebas kalut
Mungkin sebaiknya aku tergolek di atas hamparan kalian, mencium bau kalian, dan mendengar desis kalian tentangku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.