Jeda

Sajakku membungkam malam ini
Bahkan bibirnya tak menorehkan senyum
Datar saja, seperti garis-garis pada kertas

Kata-kata meredup bagai bintang yang kehilangan pijar
sebab lampu-lampu kota begitu benderang
Makna bersembunyi di balik jelaga
Siang-siang pun ia tetap bersembunyi diterpa silau

Mungkin, ini hanya jeda
Semoga saja
Aku hanya harus menjaga penaku agar tak mengering

Kemarau

Hujan pamit.
Ia akan hibernasi.
Sudah ia titipkan rintik
pada akar
dan sejuk pada angin.

“Tak perlu risau akan kemarau,” pesannya.
“Gersang hanyalah jeda.
Nanti pun basah akan kembali kubawa.
Aku hanya perlu rehat sejenak.
Sebab tanah pun tak sanggup
terus berkubang.
Biar akar mengawinkan deraiku
dengan benih,
lalu lahirlah bunga.
Aku hanya memberi persiapan
pada bumi
untuk menyambut kehidupan baru.”

Maka, inilah kemarau.
Debu menyerap habis semua lembap.
Inilah kemarau
yang membiarkan langit cemerlang agar
kita bisa melihat bulan dan matahari
tanpa penghalang.

Perkara-perkara Kecil di Kebunku

Tentang ulat-ulat yang menitipkan takdirnya
dan belalang yang melukai daun-daun,
hujan dan panas yang bergantian datang
membawa kabar yang berlainan,
rimpang yang tak henti-hentinya memanjatkan doa
di dalam tanah,
ataupun rumput yang menampik menunduk,
tanganku hanya bisa menelungkup ragu
dan menengadah dengan cemas,
dengan jemari yang kadang memetik dengan sendu
atau menggali dengan penuh harap.

Tetapi sebelum malam jadi senyap,
batinku mengucap nikmat.
Semua luka adalah ajar,
gagal adalah jeda,
dan lelah hanyalah ujian.

Dan kepada-Mu,
yang menitipkan perkara-perkara kecil itu,
meski tak ada mawar yang dapat kukembalikan
bersama embun pagi,
hanya sajak ini yang mampu kupersembahkan.

Dilarang Menginjak Rumput

Biarkan aku berbaring di sini,
mendengarkan rumput berpuisi.
Diksinya amat pilu,
tentang dunia yang tak pernah memberi tenang.

Ada parang yang siap membebat.
Ada gunting yang bersedia memangkas.
Ada tangan yang hendak mencerabut.
Ada ludah yang sewaktu-waktu mencela.

Di balik semua beban itu,
rumput tetap berupaya tumbuh.
Kepik amat bergantung pada mereka,
juga belalang, ulat, bahkan ular.

Aku lantas bangkit.
Tak baik juga aku berlama-lama di sini,
menghalangi mereka menempuh caranya sendiri
untuk terus berdiri menjangkau matahari,
menengadahkan daun, merasai hujan.

Entah apa yang seharusnya kulakukan untuk mereka.
Kecuali satu hal sederhana:
memasang sebuah papan larangan—
DILARANG MENGINJAK RUMPUT!

Hayooo... Mau apa?