Category Archives: poem
Jeda
Sajakku membungkam malam ini Bahkan bibirnya tak menorehkan senyum Datar saja, seperti garis-garis pada kertas Kata-kata meredup bagai bintang yang kehilangan pijar sebab lampu-lampu kota begitu benderang Makna bersembunyi di balik jelaga Siang-siang pun ia tetap bersembunyi diterpa silau Mungkin, … Continue reading
Kemarau
Hujan pamit. Ia akan hibernasi. Sudah ia titipkan rintik pada akar dan sejuk pada angin. “Tak perlu risau akan kemarau,” pesannya. “Gersang hanyalah jeda. Nanti pun basah akan kembali kubawa. Aku hanya perlu rehat sejenak. Sebab tanah pun tak sanggup … Continue reading
Perkara-perkara Kecil di Kebunku
Tentang ulat-ulat yang menitipkan takdirnya dan belalang yang melukai daun-daun, hujan dan panas yang bergantian datang membawa kabar yang berlainan, rimpang yang tak henti-hentinya memanjatkan doa di dalam tanah, ataupun rumput yang menampik menunduk, tanganku hanya bisa menelungkup ragu dan … Continue reading
Dilarang Menginjak Rumput
Biarkan aku berbaring di sini, mendengarkan rumput berpuisi. Diksinya amat pilu, tentang dunia yang tak pernah memberi tenang. Ada parang yang siap membebat. Ada gunting yang bersedia memangkas. Ada tangan yang hendak mencerabut. Ada ludah yang sewaktu-waktu mencela. Di balik … Continue reading
250625
Tak selamanya hujan datang bersama gaduh Kadang ia turun menahan gemuruh Bukan untuk meluruhkan sunyi Melainkan sekadar membasahi Seperti bulan yang muncul di balik jelaga Memantulkan cahaya bukan untuk menyilaukan Hanya ingin menyampaikan pesan Bahwa dalam gelap pun, cahaya kecil … Continue reading

