Sabit Emas

Ke mana saja bulan semalam?
Pulang-pulang waktu subuh saat azan berkumandang
Bibirnya menyunggingkan senyum tanpa sungkan

Dan matahari tetap saja mengulurkan sayang
Diteranginya bulan dengan cahaya yang cemerlang
Meski sebagian rupa bulan sudah hilang

Pelangi

Matahariku sayang,
Kau tak perlu menciptakan pelangi untuk bisa memeluk hujan
Sebab hujan sudah dipeluk angin dan rasa dingin sudah menjadi bagian dari derainya
Tak perlulah kau berangan bahwa kau dan hujan ditakdirkan bersama
Senja sudah menggelar karpet jingga untukmu menghempas bara

Kalau kau merindukan daun-daun yang basah,
pahamilah bahwa air itu akan diserap tanah
Kalau kau merindukan suara rintik di atas genting,
mengertilah bahwa suara hatimu lebih penting

Pelangi itu hanya ilusi
Jangan terperangkap dalam asa yang kaureka sendiri
Boleh-boleh saja kau punya mimpi
Tapi, seperti yang kautahu,
mimpi pun akan berakhir saat waktu berganti

Relakanlah hujan menjadi sungai yang mengalir ke samudra
Dalam perhentian terakhirnya, kau akan kembali menjumpainya
dalam wujud yang tak lagi sama
Jangan jadikan mutasinya sebagai luka
Semua adalah fana dan kita hanyalah cerita

Wasiat

Kau tahu, kenapa aku punya halaman yang luas?

Supaya kau tak perlu repot-repot mencari makam untuk mengubur jasadku
Galilah tanah di bawah pohon kamboja yang telah kutanam sejak lama
Biarkan lembar-lembar mahkotanya berjatuhan dan berserakan di atas pusaraku
agar kau tak mesti repot-repot memetik mawar atau bunga lain
Biarkan aromanya semerbak meski tak seharum melati

Kuburkan juga bersamaku puisi-puisi yang telah kutulis
agar kau tak perlu komat-kamit membacakan doa untukku
Aku telah memilih doa mana yang kubutuhkan,
yang kutulis bersama puisi-puisiku itu

Dan pasangkan nisan bertuliskan:
“Di sini beristirahat dengan tenang,
seorang pujangga yang mencintai rumput.”
Dan biarkan rumput-rumput tumbuh liar di sekeliling kuburku
agar mereka menemaniku
sehingga kau tak perlu sering-sering berziarah dan berpikir
bahwa aku kesepian di dalam tanah

Bulan Baru

Bulan habis bertandang ke rumah senja
Parasnya berkilau seperti kencana
Meski wujudnya bukan purnama
Malam ini, bulan jadi primadona

Tapi badannya bau matahari
Bulan tak bisa mandi
Dia juga belum sikat gigi
Awan-awan kering sebab hujan diserap pelangi

Kepik

Bagaimana kalau kepik itu sisa hujan yang tertinggal di daun basil? Kena gincu saat tadi pagi bibirku mencium daunnya sebelum lebah-lebah datang. Lalu terciprat air kubangan saat sepeda melintas jalan. Kau tidak akan menemukannya dengan mudah karena kepik itu bersembunyi di rimbun dedaunan, dan terbang saat kau berusaha menyentuhnya dengan ujung jarimu.

Hal-hal kecil seperti kepik tak pernah luput dari mataku. Semakin kecil, semakin aku tertarik. Walaupun itu remeh dan receh. Seperti puisi pendek yang kutulis di struk belanjaan minimarket. Yang kuselipkan ke dalam dompet dan kubawa ke mana-mana.

Continue reading