Category Archives: poem
Sabit Emas
Ke mana saja bulan semalam? Pulang-pulang waktu subuh saat azan berkumandang Bibirnya menyunggingkan senyum tanpa sungkan Dan matahari tetap saja mengulurkan sayang Diteranginya bulan dengan cahaya yang cemerlang Meski sebagian rupa bulan sudah hilang
Pelangi
Matahariku sayang,Kau tak perlu menciptakan pelangi untuk bisa memeluk hujanSebab hujan sudah dipeluk angin dan rasa dingin sudah menjadi bagian dari derainyaTak perlulah kau berangan bahwa kau dan hujan ditakdirkan bersamaSenja sudah menggelar karpet jingga untukmu menghempas bara Kalau kau … Continue reading
Wasiat
Kau tahu, kenapa aku punya halaman yang luas? Supaya kau tak perlu repot-repot mencari makam untuk mengubur jasadkuGalilah tanah di bawah pohon kamboja yang telah kutanam sejak lamaBiarkan lembar-lembar mahkotanya berjatuhan dan berserakan di atas pusarakuagar kau tak mesti repot-repot … Continue reading
Bulan Baru
Bulan habis bertandang ke rumah senjaParasnya berkilau seperti kencanaMeski wujudnya bukan purnamaMalam ini, bulan jadi primadona Tapi badannya bau matahariBulan tak bisa mandiDia juga belum sikat gigiAwan-awan kering sebab hujan diserap pelangi
Kepik
Bagaimana kalau kepik itu sisa hujan yang tertinggal di daun basil? Kena gincu saat tadi pagi bibirku mencium daunnya sebelum lebah-lebah datang. Lalu terciprat air kubangan saat sepeda melintas jalan. Kau tidak akan menemukannya dengan mudah karena kepik itu bersembunyi … Continue reading

