Author Archives: Rie Yanti

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer

Kalau Hujan Sudah Reda

Kalau hujan sudah reda teh ini tak lagi hangat Uap jadi embun berleleran di jendela Ilusi mencair ke dalam genangan berlumpur Hujan telah menyatu dengan tanah Tetapi masih kudengar rintik jatuh dari tepi atap Masih terbayang aroma petrikor berkelebat di … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment

Malamku tanpa Tidur

Hening mengantar detak jam pada telingaku Lampu sudah lelap mengalirkan terang pada khayalku Di luar sana, pitaya menyerahkan mahkotanya pada ngengat Percintaan diam-diam di bawah kesaksian bulan Di ujung malam rahasia terkuak bersama gelap yang luntur perlahan Mungkin seperti inilah … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment

Ujan Pecah di Halaman Rumah

Dear diary, Ujan pecah di pekarangan. Huruf-hurufnya berserakan, berbaur sama daun-daun kering dan aku lagi males nyapu. Mau ngebiarin rumahku berantakan, tapi aku nginjek pecahan ujan itu. Kakiku luka soalnya ujannya terluka. Darah merembes, bikin garis-garis telapak kakiku keliatan jelas. … Continue reading →

Posted in diary | Leave a comment

Pengingat

Apapun yang terjadi, bertahanlah. Sekeras apapun hidup ini, tetaplah berdiri. Bukan agar kamu ditimpa lebih banyak ujian. Tetapi mungkin, di luar sana, ada seseorang yang menginginkanmu tetap hidup. Ada seseorang yang diam-diam ingin menjumpaimu, tapi tak ada kendaraan yang dapat … Continue reading →

Posted in thoughts | Leave a comment

Bahasa Tersirat

Kadang angin enggan bertiup Ia memilih bersembunyi di balik rimbun daun Menitipkan desir dalam tiap uratnya Semakin tak ketahuan saja hadirnya Tetapi ia tak pernah meninggalkan semesta Begitu juga aku Tak mesti kujulurkan kepalaku dari jendela Hanya untuk menjumpai awan … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment