“Dan Matahari Juga Terbit”
Penulis: Ernest Hemingway
Jenis: Novel
Jumlah Halaman: 282 halaman
Penerbit: Desa Pustaka Indonesia
Pernah nggak kamu dateng ke sebuah pesta, ngobrol paling kenceng, ketawa paling keras, tapi pas pulang ke kamar dan lampu kamar dimatiin, rasanya kosong banget?
Kalau kamu pernah ngerasain fase itu, novel debut Ernest Hemingway tahun 1926, Dan Matahari Juga Terbit, atau versi aslinya, The Sun Also Rises, bakal kerasa relate dengan cara yang agak menyayat hati.
Buku ini menceritakan sekelompok ekspatriat Amerika dan Inggris yang tinggal di Paris pasca-Perang Dunia I, sebuah generasi yang kemudian dicap Gertrude Stein sebagai Lost Generation (Generasi yang Hilang). Tokoh utamanya adalah Jake Barnes atau sang narator, seorang jurnalis perang yang mengalami luka parah di bagian vitalnya yang bikin dia impoten secara fisik, dan Brett Ashley, perempuan bebas berambut pendek yang dicintai hampir semua cowok di geng itu, termasuk Jake.
Alih-alih merenung atau nangis bombay di pojokan, apa pelarian mereka? Berpesta, minum anggur merah dan wiski dari kafe ke kafe di Paris, lalu road trip ke Pamplona, Spanyol, buat nonton festival adu banteng sambil mabuk-mabukan.
Yang bikin novel ini juara bukan plot yang ribet. Karena jujur saja, dari awal sampai akhir, isinya mayoritas cuma orang-orang jalan-jalan, nongkrong di bar, nonton adu banteng, mancing, atau berantem kecil gara-gara cemburu.
Tapi di situlah letak kejeniusan gaya iceberg theory ala Hemingway.
Di permukaan, Jake dan kawan-kawannya kelihatan cuma asyik hura-hura, melempar sarkasme, dan menyembunyikan rasa frustrasi di balik gelas minuman. Tapi di bawah permukaan, setiap dialog yang kelihatan santai itu menyimpan trauma perang yang nggak sembuh-sembuh, keputusasaan eksistensial, dan rasa cinta tertolak yang bikin sesak dada.
Misalnya interaksi dingin tapi penuh makna antara Jake dan Brett menjelang akhir cerita:
“Oh, Jake,” Brett said, “we could have had such a damned good time together.”
Ahead was a mounted policeman in khaki directing traffic. He raised his baton. The car slowed suddenly pressing Brett against me.
“Yes,” I said. “Isn’t it pretty to think so?”
(“Oh, Jake,” kata Brett. “Kita sebetulnya dapat bersenang-senang bersama.”
Di depan kami ada polisi dengan seragam cokelat muda sedang mengatur lalu lintas. Dia mengangkat tongkatnya. Mobil mendadak memelankan lajunya membuat Brett makin menempel padaku.
“Ya,” jawabku. “Senang kan kalau berpikir demikian?”)
Kalimat penutup Jake itu adalah salah satu pukulan telak paling sunyi dalam sejarah sastra dunia. Pahit, karena Jake seperti tahu bahwa ada hal-hal yang hanya bisa terasa indah selama masih berupa angan-angan.
Jangan harap kamu bakal nemu pahlawan yang gagah berani atau akhir cerita yang manis di sini. Tokoh-tokohnya egois, gampang tersinggung, kadang menyebalkan, dan hancur secara batin. Tapi justru karena itulah mereka terasa sangat manusiawi. Hemingway menangkap momen ketika manusia kehilangan pegangan hidup setelah dunia mereka porak-poranda oleh perang, lalu mencoba bertahan hidup dengan cara paling canggung yang mereka bisa.
Kalau kamu lagi cari bacaan klasik yang nggak bertele-tele, gaya prosanya tajam kayak silet, tapi sukses ninggalin sisa rasa hampa yang panjang di kepala, The Sun Also Rises wajib banget masuk daftar bacaanmu.