Aku hampir nyerah ketika kata-kata dalam novel yang kubaca nyembunyiin maknanya di balik lekuk dan garis huruf-huruf yang berbaris rapi. Aku nyoba ngintip lewat lubang-lubang kecil di beberapa huruf. Makna itu nempel kian erat tanpa liat aku sebentar pun. Entah karena malu atau takut.
Apa makna itu introvert? Terus, buat apa huruf-huruf itu berdiri tegak dan gagah, atau meliuk estetik kalau pembaca nggak dibolehin liat maknanya? Apa mereka sengaja pongah gitu biar maknanya nggak keliatan?
Aku akhirnya buka kamus. Kamus itu pinter karena tau arti kata-kata. Tapi, aku ragu, dia beneran tau atau cuma nebak-nebak?
Kutinggalin kamus itu. Kubaca ulang baris-baris dalam novel yang masih terbuka. Kubaca pelan sambil berharap maknanya muncul sendiri.
Tapi yang ada cuma kata. Maknanya masih sembunyi.
Kututup novel itu. Apa mungkin makna setiap kata-katanya sebenernya nggak sembunyi? Mereka juga mungkin nggak bermaksud bikin teka-teki.
Biasanya, segala sesuatu yang keliatan biasa aja justru menyimpan hal-hal yang nggak kita duga. Kita cenderung ngeremehin apa yang ada di depan mata. Padahal, mungkin kita cuma belum melihatnya cukup dalam.
Aku buka-buka lagi novel itu. Merhatiin setiap kata dengan lebih jeli lagi. Masih tampak biasa saja.
Mungkin aku harus ngebongkar kata-kata itu dan lepasin makna yang nempel di balik huruf-hurufnya. Tapi, apa ini nggak akan nyakitin mereka? Apa nggak sebaiknya aku biarin mereka apa adanya?
Mungkin sebaiknya gitu aja. Sementara mereka dibiarkan tenang, aku pelan-pelan masuk ke dalam lautan cerita dan nyelam dalam-dalam.