Membeli Baju

Saya sebetulnya suka shoping. Namun tentunya saya lihat kondisi keuangan dulu. Selain itu, saya bukan shopaholic. Kalau ada uang dan ada yang harus dibeli, ya saya belanja. Tapi kalau tidak punya uang meski ada yang harus dibeli, kalau tidak mendesak-mendesak amat, saya tidak akan belanja. Paling cuma lihat-lihat sambil membidik barang bagus dan berharap, kalau sudah punya uang, saya akan beli barang tersebut. Biasanya ini berlaku untuk buku atau baju.

Ngomong-ngomong, membeli baju bisa dibilang kegiatan yang membuat saya kerap bingung. Pasalnya, selera saya tidak terdefinisikan. Saya bisa mengatakan suka atau tidak dengan model atau corak sebuah baju kalau saya melihat baju itu sendiri. Kadang saya membayangkan model baju yang bagus. Tapi pastinya sulit menemukan baju impian itu di toko-toko. Jadilah kalau beli baju, pasti butuh waktu yang lama. Harus keliling-keliling mall. Selain mencari baju yang pas, juga menimbang-nimbang harganya

Seperti pada sebuah kesempatan belanja beberapa tahun yang lalu. Saya sengaja pergi ke Alun-alun Bandung untuk membeli baju. Tempat pertama yang saya datangi adalah Yogya Kepatihan. Banyak baju yang bagus. Ada yang bagus di corak, model, warna dan harga. Tapi setelah beberapa kali keliling toko, saya tidak menemukan baju yang cocok.

Destinasi kedua adalah King’s Shopping Center. Pertama, saya lihat-lihat di lantai dasar, kemudian lantai dua, tiga, sampai Matahari Dept. Store. Tidak ada yang cocok satu pun. Ada yang coraknya bagus, warnanya cerah, modelnya sip, tapi harganya kemahalan. Sementara saya tidak punya uang seharga baju itu. Ada yang harganya cocok, tapi corak, model dan warnanya tidak.

Karena capek dan laper, saya makan dulu di BMK. Pesen bakso malang campur. Begitu makanannya tersaji di depan mata, saya bingung makan yang mana dulu: bakso biasa, bakso urat, pangsit, siomay, mie, atau bakso telor? Tapi karena sudah terdesak rasa lapar, saya pilih secara random. Kecuali pangsit. Yang ini saya makan terakhir. Tapi karena kelamaan direndam dalam kuah panas, pangsit itu jadi lembek dan rasanya tidak enak. Ah, yang lain pun rasanya tidak seenak dulu ketika saya baru-baru mendatangi tempat ini. Entah ada bumbu yang diubah, entah lidah saya sedang rewel.

Saya kenyang makan siang itu, tapi tidak puas.

Setelah itu saya kembali mencari baju. Ternyata, biarpun perut sudah diisi dan tenaga sudah pulih lagi, saya tetap tidak menemukan baju yang cocok. Saya sempat memperhatikan orang lain, dan bajunya. Kok bisa ya mereka tampak nyaman-nyaman saja dengan baju yang mereka kenakan? Yang pakai baju lengan panjang atau jaket tidak kelihatan gerah, padahal cuaca tidak dingin. Yang pakai rok mini, hotpants, atau baju tanpa lengan, tidak tampak risih. Yang gambar kaosnya menurut saya jelek, seperti tidak punya masalah dengan gambar kaosnya. Begitu juga dengan yang warna atau corak bajunya nggak keren; mereka fine-fine aja tuh. Saya? Setelah muter-muter Alun-alun, masuk banyak toko dan counter, pulang dengan tangan kosong.

Di dalam kereta, saya sadar. Mungkin saya terlalu berharap kesempurnaan, sampai-sampai tidak mendapat baju satu pun. Mungkin yang harusnya jadi pertimbangan utama saya ya budget. Dengan uang yang tidak banyak, saya sebetulnya bisa mendapat satu atau dua baju yang bagus. Kalaipun tidak bisa dipakai buat pergi, setidaknya bisa dipakai buat di rumah atau buat tidur. Tidak akan sia-sia selama kita butuh. Malah dengan butuh itu saya bisa menghargai keberadaan si baju. Si baju juga mungkin bakal berterima kasih karena saya sudah memilihnya. Ia bakal melindungi saya dari angin, sinar matahari, dan hujan.

Atau, bisa juga karena saat itu bukan waktu yang tepat buat saya beli baju karena memang uangnya belum cukup. Saya bisa menunda acara shopping sampai akhir atau awal taun, misalnya. Karena di waktu-waktu ini biasanya ada diskon. Atau mungkin saja bulan berikutnya ada baju keluaran terbaru dengan model, harga, bahan, warna dan corak yang cocok buat saya. Siapa tahu ini cuma masalah waktu.

Sekarang saya jarang beli baju. Kalau belanja, saya mengutamakan kebutuhan anak. Kalau baju untuk sendiri, karena jarang pergi, paling beli daster berkancing. Itu pun tidak kebanyakan pilah-pilih. Yang penting tidak bikin gerah, nyaman dipakai dan bisa untuk menyusui.

Dan yang lebih penting lagi, lihat dulu kocek suami. Hehehe…

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.