Ketika Melupakan adalah Cara Terbaik untuk Mati Perlahan

“Polisi Kenangan”

Jenis: Novel

Penulis: Yoko Ogawa

Jumlah halaman: 292 halaman

Bagaimana jadinya jika kehilangan bukan lagi sekadar peristiwa personal, melainkan sebuah aturan yang mengontrol ingatan kolektif?

Mungkin pertanyaan mengerikan ini mendasari Yoko Ogawa menulis sebuah novel distopia surealis berjudul Polisi Kenangan. Melalui prosa yang tenang namun menghanyutkan, Ogawa membawa pembaca ke sebuah pulau tanpa nama, di mana benda-benda dan memori tentangnya dilenyapkan satu demi satu oleh otoritas misterius bernama Polisi Kenangan.

Ceritanya, tokoh “aku” alias si penulis dalam novel ini menjalani kehidupan sebagai masyarakat yang harus merelakan banyak benda-benda di sekitarnya dihilangkan oleh Polisi Kenangan. Mereka yang mencoba melawan walaupun secara sembunyi-sembunyi, harus siap ditangkap dan dibawa Polisi Kenangan. Seperti ibunya si “aku” yang seorang seniman, yang dibawa paksa oleh Polisi Kenangan dan dikembalikan dalam keadaan tak bernyawa.

Mereka yang mencoba melawan ini ada yang berhasil bersembunyi dan melarikan diri. Termasuk R, editor yang menangani naskah novel karya “aku”. Ia memiliki keunikan, yakni mampu mengingat makna dari benda-benda. Dianggap berbahaya, “aku” lantas menyembunyikan R di rumahnya dengan cara membuat sebuah ruangan khusus yang sempit (bunker) agar tidak diketahui Polisi Kenangan.

“Aku” tidak sendirian, ia dibantu oleh si kakek tua yang sejak dulu setia pada keluarganya. Mereka bahu-membahu membantu R berkomunikasi dengan keluarganya. Sampai akhirnya, situasi semakin gawat ketika proses penghilangan mulai menyerang tubuh manusia itu sendiri, termasuk si kakek tua, sementara Polisi Kenangan semakin gencar beroperasi.

Sampai berapa lama Polisi Kenangan memburu benda-benda dan orang-orang yang melawan (mampu memelihara ingatan mereka)? Berhasilkan “aku” melindungi R di ruang yang sempit sampai kondisi di luar membaik?

Berbeda dengan novel distopia klasik seperti 1984 karya George Orwell atau Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury yang meledak-ledak dan dipenuhi represi agresif, Polisi Kenangan bergerak dalam kesunyian yang melankolis. Pembaca bisa merasakan ketika benda-benda dihilangkan, suasananya terasa begitu sunyi dan melankolis.

Seperti ketika bunga mawar dilenyapkan. Orang-orang dipaksa mencabuti tanaman mawar mereka sampai gundul, lalu menghanyutkan kelopak-kelopaknya ke sungai hingga airnya berubah warna. Menyaksikan keindahan itu dipreteli perlahan membuat hati terasa hampa.

Kekuatan utama novel ini juga terletak pada detail domestik yang dihadirkan, seperti penghapusan konsep. Ketika sebuah benda dinyatakan “hilang”, masyarakat tidak hanya membuang fisiknya, tetapi otak dan jiwa mereka secara otomatis menghapus makna dan rasa dari benda tersebut. Penghapusan makna ini menciptakan kepasrahan kolektif. Masyarakat pulau tersebut menerima penghapusan ini sebagai hal yang normal. Mereka belajar untuk hidup dalam dunia yang semakin sempit, kelabu, dan hampa.

Ogawa juga menggunakan struktur narasi berlapis (cerita di dalam cerita). Novel yang sedang ditulis oleh sang narator tentang seorang perempuan yang kehilangan suaranya dan ditawan di menara mesin tik, menjadi paralel yang sempurna bagi kondisi jiwanya sendiri yang perlahan terkikis oleh sistem.

Kontras karakter dalam novel ini juga dibangun dengan sangat kuat melalui tiga figur utama:

  1. Sang narator (aku), merupakan representasi masyarakat awam yang patuh, yang mengamati dirinya kehilangan memori sepotong demi sepotong dengan kepasrahan yang tragis.
  2. Kakek (mantan montir kapal), yakni sosok yang mencoba bertahan di tengah kehancuran dengan memegang teguh kebaikan-kebaikan kecil, meski dia sendiri tidak mampu melawan arus lupa.
  3. R (Sang Editor). Salah satu dari segelintir orang yang kebal terhadap proses pelupaan. Kehadiran R yang disembunyikan di bunker rahasia menjadi simbol dari “arsip hidup” kemandirian berpikir dan ingatan manusia.

Memasuki paruh akhir buku, Ogawa menaikkan skala distopianya ke tahap yang sangat ekstrem sekaligus puitis. Penghilangan tidak lagi menyerang objek eksternal, melainkan bagian tubuh manusia itu sendiri. Di sinilah novel ini mencapai puncak kengerian filosofisnya: manusia direduksi hingga titik nadir, menjadi cangkang kosong yang kehilangan eksistensi kediriannya karena tidak ada lagi ingatan yang mengikat mereka pada realitas.

Polisi Kenangan adalah sebuah refleksi mendalam tentang hubungan antara memori dan identitas. Yoko Ogawa mengingatkan kita bahwa kehilangan ingatan sejarah dan personal pada akhirnya adalah kehilangan kemanusiaan itu sendiri. Bagi saya, novel ini menyisakan rasa sesak yang bertahan lama setelah halaman terakhir ditutup.

Seandainya saya didaulat menjadi endorser novel ini, saya akan menulis begini: Novel yang sangat menyakitkan.

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer
This entry was posted in review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.