Cinta di Tengah Amukan Revolusi

“A Tale of Two Cities”

Jenis buku: Fiksi

Penulis: Charles Dickens

Jumlah halaman: 500 halaman

Penerbit: Mizan

Jika kita bicara tentang novel yang mampu menggambarkan bagaimana gejolak politik mampu merobek sekaligus menyatukan hati manusia, tidak ada yang menandingi mahakarya Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Berlatarkan dua kota, London dan Paris, novel ini bukan sekadar catatan sejarah Revolusi Prancis, melainkan sebuah studi mendalam tentang pengorbanan, trauma, kebangkitan jiwa, dan dampak komunal dari revolusi.

Cerita dimulai dengan kalimat ikonik: It was the best of times, it was the worst of times. Kita lalu diperkenalkan pada Dr. Alexandre Manette, seorang dokter yang baru saja dibebaskan setelah 18 tahun dikurung secara tidak adil di penjara Bastille, Paris. Ia ditemukan dalam kondisi linglung, kehilangan jati diri, dan hanya bisa membuat sepatu sebagai pelarian mental dari traumanya.

Putrinya, Lucie Manette, membawanya pulang ke London untuk “dihidupkan kembali” melalui kasih sayang. Dalam perjalanan di atas kapal, mereka bertemu Charles Darnay, seorang bangsawan Prancis yang membuang gelar dan kekayaannya karena muak dengan kekejaman keluarganya (Evrémonde) terhadap rakyat jelata. Namun, ia dituduh membocorkan informasi militer Inggris ke tangan Prancis. Berkat Sydney Carton, anggota tim pengacara Darnay, serta kesaksian Lucie, Darnay pun lolos dari persidangan.

Darnay jatuh cinta pada Lucie. Ia pun berbicara pada Dr. Manette untuk meminang anaknya. Dr. Manette mengabulkan permohonan Darnay. Ia mengabaikan fakta tentang keluarga Darnay yang di kemudian hari menjadi sumber konflik yang nyaris memisahkan Lucie dan Darnay.

Diam-diam, Carton pun mencintai Lucie. Tetapi ia menyadari bahwa perangainya yang membenci dirinya sendiri dikhawatirkan akan membuat Lucie hidup nelangsa. Karena itu, Carton menahan perasaannya dan memutuskan akan melakukan apa saja demi membuat Lucie bahagia.

Lucie dan Darnay akhirnya menikah. Lima tahun kemudian, mereka sudah dikaruniai seorang anak dan menetap di London. Waktu itu bersamaan dengan la grande terreur di Prancis, yakni masa-masa eksekusi mati para bangsawan di Prancis menggunakan guillotine (pemenggal kepala).

Teman Darnay yang seorang bangsawan bernama Gabelle meminta tolong yang membuat Darnay bertolak ke Paris tanpa tahu, ia adalah salah satu target eksekusi mati saat revolusi Prancis tersebut. Khususnya di kawasan Saint Antoine, sebuah pinggiran kota Paris. Ketika akhirnya Darnay ditemukan, ia langsung dipenjara untuk menunggu waktu eksekusi mati yang dipimpin oleh suami-istri Defarge, sebuah pemilik toko anggur. Madame Defarge ini sudah merencanakan daftar mereka yang akan dieksekusi dengan cara merajut nama-namanya. Ia bahkan tampak ambisius ingin mengeksekusi Darnay.

Bagaimana nasib Lucie dan ayahnya? Apakah Darnay jadi dieksekusi mati? Apa yang membuat Madame Defarge begitu menginginkan Darnay mati? Dan apa peran Carton terhadap peristiwa itu?

A Tale of Two Cities adalah novel sejarah politik. Novel ini tidak terang-terangan menyebut negara atau pemerintah, tetapi kita bisa merasakan suasana politik di negara Prancis sekitar tahun 1789-1795. Dari kisah personal para tokohnya, Dickens membawa kita melihat wajah revolusi secara lebih luas. Dimulai ketika rakyat mengambil alih kekuasaan negara dengan meyerbu penjara Bastille (pembebasan Manette) dan bagaimana mereka menciptakan hukuman balas dendam terhadap pemerintah, termasuk bangsawan, atas kesemena-menaan mereka (hukuman mati terhadap para bangsawan).

Pada akhirnya, hukuman yang diciptakan rakyat sebagai akumulasi kemarahan selama bertahun-tahun yang diwakilkan oleh guillotine, menjadi kebablasan. Rakyat Prancis yang semula tidak berdaya kemudian menumbuhkan ketidakpedulian. Mereka menghukum orang-orang yang mereka anggap bersalah tanpa peduli siapa sebetulnya lawan mereka itu. Bagi mereka, selama seseorang keturunan bangsawan, meski tidak jahat, tetap harus dipenggal kepalanya.

Ngeri, ya, melihat kebutaan hati rakyat Prancis pada waktu itu?

Namun sikap Dr. Manette yang luluh kepada kasih sayang Darnay terhadap putri satu-satunya, membuat kita melihat bahwa di tengah masa-masa tersulit sekalipun, kemanusiaan dan kasih sayang adalah satu-satunya hal yang mampu memutus rantai kebencian yang abadi. Meski dampaknya tidak bisa dibaca langsung oleh masyarakat.

Cinta juga tampak pada bagaimana Carton menyikapi perasaannya terhadap Lucie. Ia tidak memaksa Lucie untuk menikah dengannya. Namun ia melakukan sebuah pengorbanan personal yang mampu menyelamatkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah. Kontras sekali dengan sikap Madame Defarge yang menaruh dendam terhadap keluarga Evrémonde dan menggunakan revolusi sebagai kesempatan untuk melampiaskan dendamnya.

Tidak heran jika di awal novel ini, Dickens menulis It was the best of times, it was the worst of times. Dalam satu waktu, disadari atau tidak, ada hal-hal baik dan ada hal-hal buruk yang berjalan berdampingan.

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer
This entry was posted in review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.