Warna yang Seharusnya Nggak Dilawan

Belakangan, aku tertarik dengan analisis warna dan warna musim. Tapi nggak niat konsultasi ke pakarnya karena bukan kebutuhan mendesak. Jadi aku coba analisis sendiri pakai kain dan jilbab yang aku punya. Sekalian lihat warna urat nadi di pergelangan tangan.

Aku pernah ngira kalau aku termasuk deep winter karena warna nadinya biru-ungu. Tepatnya, sih, agak membela diri juga biar bisa tetap pakai jilbab item. Tapi setelah diamati di foto, aku kelihatan kusem waktu pakai item, dan aneh waktu pakai navy.

Ditambah lagi, ternyata urat nadiku nggak cuma biru. Ada ijonya juga.

Akhirnya aku beralih ke soft autumn. Kenapa soft? Karena waktu pake cokelat tua, mukaku kayak “keberatan”, walaupun sebenarnya terlihat lebih cerah.

Tapi ternyata belum selesai.

Pas coba jilbab warna krem yang kekuningan (bukan yang ada hint pink), mukaku tetep kelihatan kusem. Memang nggak sekusem waktu pakai item, tapi tetep ada yang nggak pas.

Sampai akhirnya aku coba krem yang agak pink, di situ baru keliatan: mukaku lebih hidup.

Setelah konsultasi ke AI, kesimpulannya: aku lebih dekat ke soft summer. Aku nggak cocok pakai warna gelap yang kontras banget kayak item. Yang lebih cocok justru warna-warna lembut, agak pudar, yang ada hint pink atau abu-abu—karena undertone-ku ternyata cenderung dingin.

Lucunya, dulu aku justru suka pakai item. Selain praktis, juga bisa bikin kulit keliatan lebih cerah karena kontras. Putih nggak akan terlihat “putih” kalau disandingkan dengan warna muda. Jadi butuh lawan. Butuh sesuatu yang bertentangan.

Tapi kalau kulitku nggak gelap dan juga nggak putih, apa iya aku harus selalu mengandalkan kontradiksi biar keliatan “hidup”? Apa warna yang lembut bisa tetep bikin aku keliatan baik-baik aja?

Selama ini, warna cerah selalu diasosiasikan dengan hal-hal yang positif. Tapi kenapa untuk nunjukkinnya, kita sering butuh yang berlawanan? Kenapa harus ada malam supaya bulan terlihat? Kenapa matahari di siang hari justru bikin silau, padahal itu terang yang “baik”?

Apa segala sesuatu yang bertentangan memang harus selalu dilawan?

Mungkin nggak juga.

Kayak kasusku, kecerahan di kulitku ternyata nggak perlu dilawan. Nggak perlu “ditarik” dengan kontras yang keras. Justru, dia keliatan lebih baik ketika dibiarkan berjalan selaras dengan apa yang udah ada.

Selama ini, mungkin tanpa sadar, aku hidup dalam cara pandang “hitam vs putih”. Padahal, nggak semua hal harus dipertentangkan. Item tetep bisa keliatan di antara abu-abu tua. Putih tetep ada walaupun disandingin sama kuning pucat.

Mata kita memang terbiasa lihat perbandingan. Kalo semuanya terang, kita nggak akan tahu mana yang benar-benar terang. Begitu juga dengan gelap. Kontradiksi bisa membantu kita mengenali.

Tapi mengenali bukan berarti ngelawan. Karena keindahan juga bisa lahir dari harmoni, bukan pertentangan.

Melawan terus-menerus itu melelahkan. Sementara membiarkan sesuatu berjalan apa adanya justru mengajarkan kita untuk siap dan pasrah sama apa yang bakal terjadi.

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer
This entry was posted in thoughts. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.