Menjadi Introver yang Merdeka

“The Soul of Man under Socialism”

Penulis: Oscar Wilde

Jenis: Esai (Nonfiksi)

Apakah teman-teman pernah merasa lelah dengan berbagai tuntutan dunia yang mengharuskan kita jadi serba produktif? Harus punya pekerjaan tetap yang gajinya jelas, harus eksis di media sosial, dan kalau jadi penulis pun, standarnya harus punya buku best seller atau royalti jutaan. Kalau nggak, kamu dianggap “cuma main-main” atau “pengacara” (pengangguran banyak acara).

Jujur, semua itu adalah keresahan yang sering membuat saya kepikiran sebagai seorang introver yang hobi menulis buat healing. Tapi, kegelisahan itu akhirnya mendapat pembelaan dari tempat yang tidak terduga: sebuah esai jadul karya Oscar Wilde yang judulnya agak sangar, The Soul of Man under Socialism.

Meski judulnya terdengar berat, dalam esai yang ditulis tahun 1891 ini, Wilde tidak membahas teori ekonomi yang rumit seperti sosialisme ala Marx. Ia justru memaparkan gagasan yang lebih personal: bagaimana manusia bisa menjadi benar-benar merdeka dan hidup sebagai individu yang utuh.

Wilde punya logika yang cukup unik. Menurutnya, kita harus punya sistem sosialisme (di mana kebutuhan dasar semua orang terjamin) supaya kita berhenti memikirkan uang. Bayangin saja, kalau makan, tempat tinggal, dan kesehatan diurus oleh sistem atau mesin-mesin canggih, kita tidak perlu lagi kerja rodi delapan jam sehari cuma buat bertahan hidup.

Di saat itulah individualisme lahir. Kita jadi punya waktu untuk melakukan apa yang kita suka. Bukan apa yang diperintahkan bos atau pasar. Bagi Wilde, tujuan hidup itu bukan untuk memiliki banyak barang, melainkan untuk menjadi diri sendiri. “To live is the rarest thing in the world. Most people exist, that is all,” katanya.

Dalam esai ini, Wilde juga banyak berbicara tentang seniman. Menurutnya, seniman adalah contoh manusia yang paling merdeka. Seniman yang sejati tidak berkarya karena ingin pamer atau ingin kaya (itu mah pengrajin, katanya). Seniman berkarya karena itu adalah kebutuhan jiwanya.

Pendapat ini sangat relate dengan kehidupan saya sebagai penulis. Sering orang bertanya, “Kapan bukunya terbit?” atau “Dapet royalti berapa?”. Seolah-olah nilai sebuah tulisan hanya diukur dari seberapa laku di toko buku.

Padahal, bagi Wilde (dan juga saya), menulis adalah bentuk ekspresi diri. Kalau saya menulis untuk healing, untuk merapikan isi kepala yang berisik, atau sekadar untuk jujur pada diri sendiri, itu sudah merupakan pencapaian tertinggi sebagai manusia. Menulis itu terapi, bukan sekadar komoditas dagangan.

Sebagai introver yang lebih suka menyepi, saya sering merasa “salah” di mata masyarakat yang kerap menilai seseorang dari materi dan mengakui harga diri dari standar yang sama. Tapi Wilde mengatakan bahwa individualisme sejati itu tidak memaksa orang lain untuk menjadi sama. Seorang individu yang merdeka tidak akan sibuk mencampuri urusan orang lain atau memaksa orang lain untuk jadi ekstrover.

Wilde memimpikan dunia di mana mesin melakukan semua pekerjaan kasar dan membosankan (birokrasi, administrasi, produksi masal), sehingga manusia, terutama kita yang introver, bisa memiliki ruang aman untuk berpikir, merenung, dan berkarya tanpa gangguan.

Ironisnya, di zaman sekarang yang katanya sudah canggih, kita malah makin diperbudak oleh teknologi. Bukannya makin santai, kita malah makin sibuk karena teknologi membuat kita bisa “dihubungi” baik untuk urusan pekerjaan ataupun urusan lainnya 24 jam nonstop. Wilde pasti menangis melihat bagaimana kita “dikejar-kejar” percakapan WA.

Mungkin ide Wilde ini terdengar sangat utopis. Tapi dia pernah menulis hal yang jenius: Peta dunia yang tidak mencantumkan Utopia tidak layak untuk dilihat sekilas pun.

Membaca esai ini saya jadi sadar bahwa tidak apa-apa menjadi penulis yang “tidak terlihat”. Tidak masalah menulis hanya untuk diri sendiri. Selama saya jujur dengan apa yang saya rasakan dan tidak membiarkan standar orang lain mendikte jiwa saya, saya sudah mempraktikkan apa yang Wilde sebut sebagai The Soul of Man.

Buat teman-teman yang merasa terjebak di rutinitas yang membosankan atau merasa rendah diri karena profesinya tidak dianggap mentereng oleh tetangga: santai aja. Mungkin dunia memang belum siap menghadapi kebebasan yang ditawarkan Wilde, tapi jiwa kita selalu punya ruang buat merdeka.

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer
This entry was posted in review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.