“Brave New World”
Penulis: Aldous Huxley
Jenis: Novel distopia fiksi ilmiah
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: 284 halaman
Bayangkan sebuah dunia di mana tidak ada lagi yang namanya patah hati, stres, perang, atau kemiskinan. Terdengar indah, kan?
Tapi di Brave New World, kedamaian ini dibayar mahal dengan kehilangan kebebasan dan kemanusiaan.
Di sini, manusia tidak lagi lahir dari rahim ibu, melainkan diproduksi massal di pabrik botol bayi lewat rekayasa genetika. Dari kecil, mereka sudah dikotak-kotakkan ke dalam kasta. Alfa & Beta, yakni kelompok elit yang pintar dan memegang kendali; Gamma, Delta, dan Epsilon yang terdiri dari pekerja kasar yang sengaja dibuat kurang cerdas sejak dalam botol.
Hebatnya (atau ngerinya), semua orang dibuat bahagia oleh kasta mereka sendiri lewat doktrin yang dibisikkan saat mereka tidur (hypnopaedia).
Ada dua aturan utama supaya warga di dunia ini tetap “patuh” dan tidak membuat rusuh:
- “Everyone belongs to everyone else”. Hubungan monogami atau pacaran serius itu dianggap aneh dan ilegal. Semua orang bebas (bahkan diwajibkan) gonta-ganti pasangan.
- Soma. Ini semacam obat penenang ajaib tanpa efek samping. Begitu kamu merasa sedih, kecewa, atau mulai berpikir kritis, tinggal telan soma, dan kamu akan langsung merasa bahagia lagi.
Di dunia ini, seni, sastra (termasuk karya Shakespeare), agama, dan sejarah masa lalu dilarang total karena bisa memicu emosi yang mendalam. Yang penting adalah konsumsi barang terus dan tetap bahagia secara artifisial.
Cerita mulai seru ketika kita berkenalan dengan Bernard Marx, seorang Alfa yang fisiknya agak cacat dan membuat dia merasa minder dan mulai mempertanyakan sistem. Plotnya semakin pecah ketika Bernard berlibur ke sebuah Savage Reservation atau daerah tertinggal yang tidak tersentuh teknologi modern, di mana manusia masih hidup normal (melahirkan, menua, dan punya perasaan). Di sana, dia ketemu John “The Savage”, seorang pemuda yang dibesarkan dengan buku-buku Shakespeare.
Ketika John dibawa ke dunia modern yang “sempurna” ini, terjadilah benturan budaya yang luar biasa. John melihat dunia modern ini bukan sebagai surga, melainkan sebagai penjara tanpa jiwa.
Buku ini pertama kali terbit tahun 1932. Tapi ceritanya relevan dengan situasi sekarang. Suasananya yang relatable itulah yang membuat kita merinding. Keunikan lainnya, buku ini berbeda dengan cerita distopia yang fiksi ilmiahnya terlalu bombastis dan menghendaki sesuatu yang lebih menyentuh realitas sosial. Lebih santai dan kalau dilihat sekilas tidak semengerikan 1984 yang menggambarkan masa depan yang dikontrol lewat rasa takut, kekerasan, dan spionase. Sebab Huxley punya cara pandang lain, bahwa kita juga bisa dikontrol lewat kesenangan.
Ini dia hal-hal yang bikin Brave New World terasa menampar pembaca modern. Komodifikasi manusia, di mana segala hal diukur pakai angka dan efisiensi ekonomi; kecanduan hiburan yang sangat mirip dengan kondisi kita sekarang yang gampang terdistraksi hanya melalui scrolling medsos demi mendapatkan dopamin instan; pemberangusan rasa sakit, karena kita diajak berpikir, apakah hidup yang tanpa penderitaan itu hidup yang sesungguhnya? Bukankah manusia justru bertumbuh lewat rasa sakit dan air mata?
Brave New World adalah buku yang sangat menarik. Gaya bahasanya mungkin agak berat di beberapa bagian awal (karena banyak istilah medis dan biologi buatan). Tapi begitu masuk ke konflik karakternya, kita akan dibuat penasaran terus.
Buku ini bukan sekadar hiburan berlatar sci-fi, tapi juga merupakan sebuah peringatan keras bagi kita semua tentang ke mana arah peradaban kalau kita menukar kebebasan berpikir demi kenyamanan sesaat.

