Mendapatkan Kebebasan Sejati dengan Berani Tidak Disukai

“Berani Tidak Disukai”

Penulis: Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga

Jenis: Nonfiksi (self-help)

Jumlah halaman: 352 halaman

Biasanya, buku self-help atau pengembangan diri sering kali diidentikkan dengan kalimat-kalimat motivasi yang manis dan menenangkan. Namun, Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga tampaknya sama sekali tidak berniat melakukan itu. Buku ini datang membawa perspektif radikal yang siap menjungkirbalikkan cara kita memandang masa lalu.

Menggunakan format dialog antara seorang pemuda yang sinis dan seorang filsuf yang bijak, buku ini membedah pemikiran Alfred Adler, seorang psikologi abad ke-19 yang namanya sering tenggelam di bawah bayang-bayang Sigmund Freud dan Carl Jung.

Salah satu argumen paling provokatif dan kontroversial dalam buku ini adalah penolakan terhadap konsep trauma. Adler menganut paham Teleologi (paham tentang tujuan), yang merupakan lawan dari Etiologi (paham sebab-akibat).

Dalam Etiologi, masa lalu kita seperti trauma adalah penyebab kondisi kita yang terpuruk saat ini. Namun, Adler dengan teori Teleologinya berargumen sebaliknya: kita menggunakan ingatan masa lalu tersebut untuk mendukung tujuan kita saat ini.

Misalnya, seseorang mengurung diri di kamar dengan alasan pernah disakiti di masa lalu. Alasan sebetulnya bukanlah itu. Melainkan, ia memilih untuk tetap di kamar agar mendapatkan perhatian dari keluarga atau menghindari kecemasan sosial (tujuan sekarang). Masa lalu dijadikan tameng agar ia tidak perlu mengambil risiko untuk melangkah maju.

Ada juga pemisahan tugas. Misalnya orang tua yang ikut campur dalam kegiatan belajar anaknya. Belajar adalah tugas si anak. Orang tua cukup mengawasi dari jauh dan memberi dukungan, bukannya merepet menyuruh si anak belajar atau membantunya mengerjakan tugas. Kalau sikap orang tua seperti ini, mereka tentu akan lelah, kan?

Buku ini mengajarkan kita untuk memilah mana yang merupakan tugas kita, dan mana yang merupakan tugas orang lain. Tugas kita misalnya cukup melakukan yang terbaik, bersikap baik, dan menjalani hidup kita sendiri. Apakah orang-orang menyukai kita atau tidak, itu bukan urusan kita. Itu adalah tugas mereka.

Ini seperti stoikisme. Kamu tidak akan pernah bisa mengendalikan pikiran orang lain, maka ketika ada orang yang tidak menyukai kita, jangan jadikan itu masalah.

Dengan begitu, kita terbebas dari segala beban yang tidak seharusnya kita tanggung. Inilah kebebasan sejati. Dan kebebasan sejati adalah berani tidak disukai.

Banyak orang terjebak dalam kecemasan karena memandang hidup seperti mendaki gunung. Mereka merasa baru bisa bahagia jika sudah mencapai puncak atau tujuan besar di masa depan. Jika di tengah jalan mereka gagal, maka seluruh perjalanan dianggap sebagai kesia-siaan.

Adler menawarkan sudut pandang lain: hidup itu seperti tarian. Setiap langkah, setiap putaran, dan setiap detiknya adalah tujuan itu sendiri. Hidup adalah rangkaian momen-momen pendek yang terjadi di “sini dan kini”. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, dan tidak bisa memprediksi masa depan. Yang bisa kita lakukan adalah mengeksplorasi dan bertanggung jawab atas momen yang sedang kita jalani saat ini.

Berani Tidak Disukai bukan sekadar buku psikologi populer apalagi buku motivasi. Ini adalah buku filsafat praktis yang menuntut keberanian radikal. Buku ini menegaskan bahwa dunia sebenarnya sederhana, dan hidup pun sederhana; manusialah yang membuatnya rumit melalui cara pandang subjektifnya.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang merasa lelah mengatur ekspektasi orang lain, mereka yang merasa terjebak oleh masa lalu, atau siapa pun yang ingin merdeka secara mental.

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer
This entry was posted in review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.