“Fahrenheit 451”
Penulis: Ray Bradbury
Jenis: Novel
Jumlah halaman: 156 halaman
Suatu malam sepulang kerja, Guy Montag bertemu seorang gadis tetangganya bernama Clarisse McClellan. Sambil berjalan pulang, mereka bercakap-cakap, atau lebih tepatnya, Montag terpaksa mendengar ocehan-ocehan Clarisse yang ceria, polos, dan idealis. Sebelum berpisah, Clarisse menanyakan satu hal pada Montag, “apakah kamu bahagia?”
Dalam hati, Montag tentu saja membela diri. Bahwa ia bahagia dan hidupnya baik-baik saja sebagai seorang petugas kebakaran yang kerjanya membakar buku-buku. Kehidupan keluarganya juga tidak masalah meski Mildred, sang istri, sangat bergantung pada obat dan selalu membutuhkan hal-hal yang bisa menenangkannya seperti menonton televisi atau mendengarkan Seashell, sebuah radio telinga.
Meski begitu, Montag menyukai saat-saat bersama Clarisse. Karakter Clarisse yang sangat hidup, berbeda dengan Mildred yang monoton dan hampa membuatnya, membuatnya seperti memasuki dunia baru. Sayangnya, setelah beberapa malam mereka bertemu, Clarisse menghilang.
Beberapa malam setelah pertemuan terakhirnya dengan Clarisse, Montag dan timnya mendapat tugas untuk menggeledah rumah seorang wanita tua yang penuh buku dan membakarnya. Sebelum rumahnya dibakar, wanita tua itu diminta meninggalkan rumahnya, tetapi ia menolak. Bahkan ia memilih membakar dirinya sendiri hidup-hidup.
Kejadian itu menusuk hati Montag. Ketika melihat ada satu buku tersisa, diam-diam ia membawanya pulang untuk kemudian disimpan di bawah bantalnya. Di rumah, Montag mendapat kabar dari istrinya bahwa Clarisse meninggal beberapa hari sebelumnya karena ditabrak mobil. Montag masih tercengang dengan aksi si wanita tua yang membakar diri bersama buku-bukunya, seolah-olah buku-buku itu sangat berharga baginya, ditambah kabar dari Mildred tentang kematian Clarisse membuatnya semakin terguncang.
Keesokan harinya, Montag terbangun dalam keadaan sakit. Mildred menyarakannya untuk cuti dari tugasnya sebagai petugas kebakaran. Kapten Beatty, kepala pemadam kebakaran tempat Montag bekerja, menjenguk dan bercerita tentang buku dan pekerjaan mereka. Bahwa buku telah kehilangan nilainya dan petugas pemadam kebakaran dilatih untuk membakar buku-buku. Alasannya, buku dinilai sebagai sumber pikiran yang membingungkan dan mempersulit kehidupan manusia.
Melihat ekspresi wajah Montag, Beatty curiga dan berpesan bahwa jika seorang petugas pemadam kebakaran memiliki buku, ia harus membakarnya dalam waktu 24 jam berikutnya.
Montag panik. Apalagi Mildred akhirnya mengetahui bahwa selama ini Montag mengumpulkan buku dan menyembunyikannya di rumah mereka.
Masalah tidak selesai sampai di sini. Hari-hari berikutnya merupakan hari-hari yang naas bagi Montag. Ia dibantu oleh seorang profesor bernama Faber untuk menyelamatkan buku-buku. Namun, apakah rencana itu berhasil?
***
Ada beberapa alasan saya memilih membaca buku ini. Pertama, kejadian polisi menyita buku para aktivis pada September tahun lalu membuat saya tergerak untuk “membela” buku. Rasanya konyol jika buku disalahkan atau jadi kambing hitam atas unjuk rasa bulan Agustus sebelumnya.
Kedua, cerita ini menarik sekali. Cerita politik tentang perebutan kekuasaan, kezaliman pemimpin, mungkin sudah biasa. Tapi membakar buku? Dan yang melakukannya adalah petugas pemadam kebakaran yang sepi job karena rumah-rumah masyarakat dibangun demikian canggih sehingga tahan api. Minim sekali kebakaran rumah, sehingga buku pun jadi sasaran api dengan pertimbangan isinya yang “tidak lagi berguna”.
Ray Bradbury sendiri mengatakan bahwa cerita ini terinspirasi oleh kekhawatirannya terhadap pembakaran buku seperti yang dilakukan Nazi dulu. Bahkan, setahu saya, penyitaan atau pembakaran buku pun masih terjadi sampai sekarang. Relate banget, kan, dengan yang terjadi di negara kita beberapa bulan yang lalu?
Gaya penulisan juga Ray Bradbury cukup unik. Kadang dia menulis dialog yang pendek-pendek dan cepat, kadang pakai pengulangan, ada juga kalimat-kalimat panjang saat mendeskripsikan isi pikiran tokohnya (Montag).
Yang membuat saya terkesan dengan buku ini adalah beberapa kalimat yang menohok, seperti:
Membakar sungguh menyenangkan. Sungguh menyenangkan melihat benda-benda dilalap, menghitam, dan berubah. (hlm. 11)
Deksripsi yang sungguh menarik dan ironis. Bagaimana membakar buku bisa menjadi sebuah kegiatan atau pemandangan yang estetik di mata Montag. Padahal yang dibakar adalah jendela dunia.
Ada juga kalimat yang bermakna tajam:
… bakar semuanya hingga jadi abu, lalu bakar abunya. Itulah semboyan resmi kami. (hlm. 16)
Sadis, ya? Buku nggak cukup dihancurkan, tapi juga dilenyapkan sampai ke serbuk-serbuknya.
Atau:
Yah, dunia baik-baik saja tanpa buku. (hlm. 146-147)
dan
Keindahan sesungguhnya adalah api itu menghancurkan tanggung jawab dan konsekuensi. Begitu suatu beban mulai terlalu merepotkan, lempar saja ke dalam tungku. (hlm 143-144)
Kalimat ini jadi semacam klaim bahwa buku seringkali membuat manusia bingung. Yang tadinya merasa benar, bisa tiba-tiba jadi salah. Karenanya, lebih baik hancurkan saja bukunya.
Sekalipun begitu, ada juga beberapa kalimat yang sedikit menenangkan dan solutif:
Lebih baik buku-buku itu disimpan di dalam kepala kami, di sini tak ada yang bisa melihat atau mencurigainya. (hlm 188)
Kalimat ini ada pada adegan Montag bertemu beberapa ilmuwan yang sudah hafal luar kepala isi buku-buku yang mereka baca. Tidak salah, sih, jika buku bisa disita dan dibakar, siapa yang bisa membakar otak manusia?
Waktu terjadinya kisah ini tidak dijelaskan kapan. Buku ini sendiri terbit tahun 1953. Yang jelas, cerita ini terjadi di negeri distopia, ketika teknologi canggih banyak digunakan. Bisa dilihat, kok, adanya sosok robot anjing pemburu yang membantu petugas pemadam kebakaran memburu si penimbun buku.
Mungkin di masa itu, kehadiran buku tidak lagi diperlukan. Sekarang saja, pembaca punya dua opsi buku: buku cetak dan digital (ebook). Bahkan beberapa toko buku ditutup karena sepi pengunjung. Buku tidak akan dibeli kalau tidak benar-benar diperlukan.
Tetapi Montag menyadari bahwa buku tidak lahir begitu saja.
… ada orang di balik setiap buku itu. Ada orang yang harus memikirkan isinya. Ada orang yang harus menghabiskan waktu lama sekali untuk menuliskannya di kertas. (hlm. 69-70)
Jadi, selama buku cetak masih ada, sudah selayaknya kita menghargainya. Sebab selain penulis, di balik terbitnya sebuah buku ada banyak orang yang turut membidaninya: editor, ilustrator, tim pencetak, tenaga marketing, kasir toko, juga kurir.
Namun seandainya buku tidak ada lagi sama sekali, tidakkan Teman-teman tergerak untuk menulisnya?

