“We”
Penulis: Yevgeny Zamyatin
Jenis: Fiksi (novel distopia)
Sudah baca 1984? Di novel karangan George Orwell ini, kita melihat kehidupan distopia seorang seorang editor arsip pemerintah bernama Winston Smith yang diwajibkan tunduk pada otoritas Big Brother. Semua orang diawasi, bahkan saat mereka sedang tidur. Tidak ada kebebasan di sini. Dan kalau coba-coba melawan, pemerintah tidak akan ragu menghukum mereka dengan cara yang tidak biasa.
Ternyata, cerita semacam ini sudah ada sejak sebelum 1984 terbit. Adalah seorang penulis Rusia, Yevgeny Zamyatin, yang menulis sebuah novel berjudul We pada tahun 1920. Kehidupan di novel yang terbit pertama kali dalam bahasa Inggris tahun 1924 ini lebih modern dan lebih “gila” lagi karena semua orang hidup layaknya robot.
Ceritanya, pada abad 26, seorang insinyur bernama D-503 (tak satu pun tokoh memakai nama; semuanya pakai nomor) membangun Integral, sebuah pesawat ruang angkasa yang dirancang untuk membawa “kebahagiaan paksa” ke planet lain. Ia tinggal di sebuah negara kota bernama OneState, di mana masyarakatnya hidup dalam harmoni yang dipaksakan dan keteraturan matematis yang ekstrem.
Bayangkan saja, mereka tidak lagi memiliki nama layaknya kita, tetapi memakai kode huruf dan angka. Semua bangunan terbuat dari kaca agar setiap gerak-gerik warga bisa diawasi oleh polisi rahasia yang disebut Guardians. Yang tidak kalah parah, di sini perasaan, imajinasi, dan cinta dianggap sebagai penyakit atau hambatan bagi efisiensi negara.
Bersama manusia lainnya, D-503 hidup secara sistematis. Pada awalnya, ia adalah warga teladan yang sangat mencintai logika OneState. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu dengan I-330, seorang wanita pemberontak yang merokok, minum alkohol, dan yang paling berbahaya, menggoda D-503 untuk jatuh cinta.
Melalui I-330, D-503 mulai menyadari bahwa ia memiliki “jiwa”, sesuatu yang dianggap cacat fungsional oleh pemerintah Well-Doer, sosok otoritas tertinggi di OneState, yang merupakan kombinasi antara presiden, dewa, dan algojo. Para Guardians menilai D-503 “sakit” dan harus “diperbaiki”.
Berhasilkah D-503 diperbaiki? Bagaimana kehidupan di OneState setelah terjadi pemberontakan oleh kaum Mephi yang pernah diikuti D-503?
Mirip-mirip 1984, kan? Dalam We, kehidupan setiap orang diatur pemerintah (1984 oleh Big Brother, We oleh Well-Doer). Tidak hanya dalam jam bangun atau tidur, jam kerja, atau kegiatan lain, tetapi juga dalam relationship. Dalam 1984, Winston Smith punya “kekasih gelap” bernama Julia. Saya sebut “kekasih gelap” karena sebetulnya, laki-laki di negeri distopia tersebut tidak boleh punya pasangan. Kalau mau melampiaskan nafsu seksual, prostitusi tetap ada secara ilegal di kalangan kelas bawah, meskipun secara ideologis dilarang oleh Partai.
Dalam We juga begitu. D-503 punya kekasih bernama O-90 yang sah secara hukum seksual. Hubungannya dengan O-90 terasa aman, terjadwal, dan logis bagi D-503. Tidak heran ketika ia berhubungan dengan I-330, D-503 merasa berdosa. Well-Doer memang tidak tahu perkara hubungan itu. Namun karena kebiasaan di OneState adalah semua orang tidak punya rahasia (ingat, mereka tinggal di bangunan yang serba transparan), maka memiliki “hubungan gelap” itu dirasa D-503 sebagai kesalahan besar.
Bedanya, Zamyatin menggunakan konsep matematika sebagai alat kontrol, sementara Orwell menggunakan bahasa (Newspeak). Maksudnya, di OneState, mereka percaya bahwa 2 + 2 = 4 adalah kebenaran mutlak. Jika hidup bisa diatur seperti rumus, maka tidak akan ada konflik. Ketidakpastian (seperti cinta atau spontanitas) dianggap sebagai “kesalahan perhitungan”.
Sementara menurut Orwell, manusia berpikir menggunakan kata-kata. Jika kata “kebebasan” dihapus dari kamus, maka secara teori, manusia tidak akan bisa lagi membayangkan konsep tersebut. Di sini juga terdapat kemampuan untuk mempercayai dua hal yang bertentangan sekaligus, seperti “perang adalah perdamaian”, yang merupakan sebuah manipulasi psikologis.
Singkatnya, dalam 1984, rakyat harus patuh pada otoritas (tirani kekuasaan), meskipun mereka bisa saja salah (ingat, kan, adegan Winston dipaksa untuk percaya bahwa 2+2=5?). Sedangkan dalam We, hidup harus efisien seperti mesin (tirani logika) dan menjadi “individu” adalah sebuah penyakit yang harus diobati.
Menurut teman-teman, mana yang lebih mengerikan?
Buat saya, sih, We ini lebih mengerikan, karena jika saya hidup di dalam OneState, tidak ada lagi imajinasi. Hal-hal yang abstrak dan tidak pasti harus dilenyapkan dari pikiran setiap individu. Seperti kata-kata naratornya (D-503) di bagian akhir cerita: for reason must win.

