Jeda

Sajakku membungkam malam ini
Bahkan bibirnya tak menorehkan senyum
Datar saja, seperti garis-garis pada kertas

Kata-kata meredup bagai bintang yang kehilangan pijar
sebab lampu-lampu kota begitu benderang
Makna bersembunyi di balik jelaga
Siang-siang pun ia tetap bersembunyi diterpa silau

Mungkin, ini hanya jeda
Semoga saja
Aku hanya harus menjaga penaku agar tak mengering

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer
This entry was posted in poem. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.